Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Bertemu Dilan


__ADS_3

Sejak saat itu, Liana selalu mengajak Andra untuk melakukan konsultasi. Ia tidak ingin suaminya mengalami depresi. Apalagi, mereka akan menyambut kedatangan malaikat kecil. Andra pun, tak ingin membuat sang istri cemas. Karena itu, ia akan melakukan segala hal.


Silviana dan Hartawan yang mendengar kabar kehamilan Liana, ikut merasa bahagia. Sebagai ucapan syukur mereka, Silviana dan Hartawan berbagi sukacita pada anak-anak yatim piatu di panti asuhan. Begitu pun dengan Andra dan Liana.


Saat itu, Liana tak sengaja melihat Dilan di panti asuhan yang sama. Pria itu terlihat sangat akrab dengan anak-anak di sana. Andra melihat ke arah pandangan sang istri. Saat itu, ia melihat Dilan yang sedang mengajari anak-anak belajar.


Cemburu? Ya, Andra cemburu melihat senyum di wajah Liana untuk pria itu. Apalagi, ia sedang mengalami lonjakan hormon, akibat kehamilan simpatik.


Silviana bisa melihat kecemburuan itu. Ia pun menghampiri putra semata wayangnya. Andra memaksakan senyum pada sang mama.


"Tunjukkan padanya, kalau Liana itu milikmu. Bukan dengan kekerasan," nasihat Silviana. Ia pun menepuk pundak Andra, sebagai semangat.


Tiba-tiba Dilan mengarahkan pandangan ke arah Liana. Ia terlihat terkejut, saat melihat keberadaan sahabatnya. Liana melambaikan tangan pada Dilan. Andra mendekati sang istri dan merangkul pinggangnya.


"Hai, kalian datang ke sini juga?" tanya Dilan.

__ADS_1


"Iya. Kebetulan, mama sama papa adalah donatur tetap di panti asuhan ini."Andra lah yang menjawab pertanyaan Dilan.


"Ah, begitu." Raut wajah Dilan terlihat kaku. "Apa kau ingin ikut aku mengajari mereka? Dulu, saat sekolah kau sangat pintar."


Andra tahu, Dilan tengah memanasi dirinya. Namun, ia berusaha untuk tidak terprovokasi. Sekuat tenaga, Andra mempertahankan senyum di wajahnya.


"Boleh," jawab Liana singkat. Ia pun menatap Andra dan berpamitan, "aku ke sana, ya."


"Biar aku temani. Aku takut kamu kelelahan," ucap Andra. Liana pun menganggukkan kepala setuju.


Sebelah alis Dilan terangkat. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Ketiganya segera kembali ke tempat Dilan mengajar tadi.


"Mau," jawab mereka serentak.


Dilan menatap Andra dan Liana. Dengan isyarat, ia mempersilakan Andra dan Liana memperkenalkan diri. Mereka pun menyebutkan nama mereka.

__ADS_1


"Halo, Adik-adik, kenalkan nama kakak Liana."


"Kalau kakak, Andra." Mereka berdua tersenyum pada anak-anak itu.


Setelah sesi perkenalan, mereka pun melanjutkan pembelajaran yang sempat tertunda. Dari sini, Andra bisa melihat sisi Liana yang lain lagi. Meski terlihat dingin, tetapi Liana bisa bersikap hangat pada anak-anak.


Setelah dua jam, mereka pun berpamitan. Liana sudah terlihat lelah. Begitu pun dengan Andra. Dalam perjalanan pulang pasangan itu jatuh tertidur. Silviana dan Hartawan, tersenyum melihatnya. Liana, bersandar di bahu Andra. Begitu pun sebaliknya. Andra, bersandar pada kepala Liana.


***


Ditempat berbeda, Fia tengah menatap langit biru dari balkon kamarnya. Dering ponsel, mengalihkan tatapan Fia. Ia melirik nama yang tertera di sana. Senyum pun terbit di wajah Fia.


"Bagaimana?"


Orang di seberang sana entah berbicara apa. Hanya Fia yang mendengar dan tahu. Raut wajahnya berubah datar.

__ADS_1


"Jadi, Liana benar hamil?"Genggaman Fia pada ponselnya, semakin erat. "Oke. Terima kasih infonya," ucap Fia seraya menutup panggilan tersebut.


"Sekarang, berbahagialah. Untuk saat ini, aku tidak akan mengganggu kalian. Tunggu saja waktunya."


__ADS_2