
Sepuluh bulan berlalu. Andra tak lagi mengganggu kehidupan baru Liana. Namun, ia terus mengawasi mantan kekasihnya itu dari jauh. Saat ada pria yang mencoba mendekati Liana, Andra lebih dulu bertindak. Tanpa Liana sadari, tidak ada yang berani mendekatinya.
Liana merasa jauh lebih nyaman. Karena dirinya memang sudah memutuskan untuk tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar teman pada lawan jenis. Perlahan, rencana Andra untuk merebut milik Liana mulai menunjukkan hasil.
Perusahaan milik Keluarga Fia mulai goyah. Sebelumnya, Andra sempat ingin mengambil aset dan saham perusahaan milik Liana. Namun, ternyata cukup sulit. Mau tidak mau, Andra menggunakan permainan kotor untuk merebutnya.
Saat ini, adalah waktu yang tepat bagi Andra untuk muncul. Ia segera mendatangi ayah kandung Liana. Dengan senang hati Sandi—ayah Liana dan Fia—menyambutnya.
"Bukankah, Anda, Andra Hartawan, 'kan? Putra dari konglomerat Hartawan?" tanyanya.
"Panggil saja Andra. Tuan Sandi, Anda, jauh lebih tua dibanding saya," jawab Andra.
Canda tawa terjadi di antara mereka. Kemudian, mereka pun mulai mengalihkan pembicaraan pada bisnis. Andra mengatakan, bila ia bersedia berinvestasi di sana, dengan syarat, Sandi harus menikahkan putrinya pada Andra. Sandi terkejut mendengar syarat yang Andra minta.
"Saya akan bicarakan dengan anak saya dulu," jawab Sandi.
"Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya. Kalau begitu, saya permisi."
Andra dan sandi saling bersalaman. Setelah itu, Andra meninggalkan ruangan Sandi. Sengaja pria itu tidak menyebut secara spesifik siapa yang ingin dia nikahi. Andra ingin, Sandi menemui putri sulungnya sendiri, dan membujuk Liana kembali.
Kau akan segera kembali, Sayang. Setelah itu, kita akan menikah dan kau tidak akan bisa lepas dariku, gumam Andra dalam hati.
***
Sandi tiba di rumahnya. Fia dan ibunya segera menghampiri pria yang menjadi kepala keluarga dalam keluarga mereka. Siang tadi, Sandi sempat mengatakan, bila ada seseorang yang akan berinvestasi di perusahaan mereka, dengan sebuah syarat.
"Gimana, pa? Siapa yang akan berinvestasi?" tanya ibu dari Fia.
"Dia seorang pengusaha yang cukup berbakat. Dalam beberapa tahun, dia sudah bisa mendirikan bisnisnya dengan kokoh."
Dahi Fia berkerut mendengar cerita sang ayah. Hanya satu pengusaha yang mampu mencapai tingkat itu. Apa mungkin Andra? Benarkah? pikir Fia.
"Setahu mama, hanya ada satu anak muda di kota ini, yang mampu mengembangkan bisnisnya dengan cepat. Anak dari Konglomerat Hartawan. Andra Hartawan," tebak istri dari Sandi.
Sandi tersenyum mendengar jawaban sang istri. "Benar. Itu dia. Tapi, dia akan berinvestasi dengan satu syarat ...." Sandi menjeda ucapannya cukup lama.
__ADS_1
Fia dan ibunya saling bertukar pandang. Jantung mereka berdegup cepat. Cukup takut mendengar kelanjutan dari ucapan Sandi. Sandi terkekeh melihat wajah tegang mereka.
"Dia ingin menikahi putri kita. Itu saja syaratnya," lanjut Sandi.
Bila ibu dari Fia bersorak girang, tetapi gadis itu tidak. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dari permintaan Andra. Tidak mungkin Andra ingin menikahiku. Dia terlalu mencintai Liana. Aku harus bertemu dengan Andra lebih dulu, pikir Fia.
"Fia, kamu mau, 'kan, Nak?" tanya ibunya.
"Mau apa, Ma?" tanya Fia.
"Menikah dengan Andra, Sayang. Menang apalagi," jawab ibunya. "Coba kamu bayangin, Andra itu pewaris perusahaan besar. Dia sendiri juga punya bisnis yang sedang berkembang pesat. Kamu gak perlu lagi sudah payah bekerja. Yang ada, kamu bebas shopping kapan pun. Jalan-jalan ke luar negeri pun, bisa kamu lakukan setiap bulan, atau Minggu."
Wajah ibu dari Fia itu terlihat sangat berbinar membayangkan kehidupan putri semata wayangnya, yang akan dilimpahi kekayaan tanpa habis. Fia hanya mendesah kasar mendengar penuturan sang ibu.
"Fia ke kamar dulu," pamitnya.
"Anak ini, susah banget diajak hidup senang," gerutu sang ibu.
"Ma, bagaimana pun, keputusan ada di tangan Fia. Kalau dia tidak mau, kita tidak bisa memaksa," ujar Sandi.
"Pa, ini kesempatan kita untuk bersanding dengan orang kaya seperti mereka. Kita, 'kan tidak mengemis pada mereka, justru mereka sendiri yang mendatangi kita. Apa kita harus menolak rejeki yang datang?"
"Papa mau istirahat," pamit Sandi.
"Ayah sama anak sama aja! Susah diajak hidup enak," gerutunya lagi. Ia mengikuti langkah suaminya ke kamar.
***
Fia mengirimkan pesan pada asistennya, untuk mencari nomor pribadi Andra. Setelah menunggu selama hampir satu jam, sang asisten justru memberikan nomor asisten Andra.
Mau tidak mau, Fia menghubungi nomor tersebut. Meminta pria di seberang sana menyambungkan panggilan pada Andra. Tak lama, panggilan itu beralih pada Andra. Mereka pun memutuskan bertemu di luar.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Andra saat mereka sudah bertemu.
"Menikahi siapa maksudmu?" Fia langsung bertanya.
__ADS_1
Sebelah alis Andra terangkat. Ia tahu apa yang dimaksud Fia. Namun, berpura-pura tidak tahu.
"Menikahi? Maksudnya?" Andra balik bertanya.
"Jangan berpura-pura bodoh Andra! Apa maksudmu berinvestasi, tapi harus menikahi putri ayahku? Kau tidak bermaksud menikahiku, 'kan?"
Andra tertawa mendengar penjelasan Fia. "Kau akan tahu jawabannya nanti," jawab Andra.
Pria itu segera meninggalkan cafe, tempat mereka bertemu. Fia mengepalkan tangannya erat. Feeling-nya cukup kuat, mengatakan bahwa Andra ingin mempermalukan keluarganya. Yang pria itu inginkan, bukanlah dirinya.
Namun, apa daya. Semua sudah terjadi. Aku bisa meminimalisir rasa malu keluargaku, tekad Fia.
Gadis itu segera kembali ke kantor untuk menemui sang ayah. Tiba di ruangan ayahnya, Fia mendudukkan diri di depan sang ayah.
"Apa keputusan, Ayah, tentang investasi Andra?" tanyanya to the point.
"Sepertinya, kita harus menerima syarat yang diajukan. Perusahaan semakin dilanda krisis." Sandi memijit pangkal hidungnya.
"Baiklah. Tapi, minta pertemuan diadakan di rumah kita. Aku rasa, dia sedang merencanakan sesuatu."
"Merencanakan sesuatu?"
"Dia adalah mantan kekasih Liana. Sangat mustahil dia ingin menikahiku."
"Apa? Jadi, maksudmu dia ingin membawa Liana kembali, kemudian menikahinya dengan cara ini?" tanya Sandi.
"Iya. Hanya itu alasan yang masuk akal. Dia sudah mengetahui hubungan keluarga kita." Fia menundukkan kepalanya sedih.
Jujur saja, aku masih menginginkanmu, Andra. Tapi, aku tidak bisa menjangkau hatimu. Kau menutup diri, sejak Liana memutuskan pergi dari kota ini.
"Kalau begitu, biar papa minta mama bersiap-siap."
Fia menganggukkan kepala. Hampir satu tahun ini dia mencari keberadaan Liana. Sayangnya, ia tidak mengetahui di mana kakak tirinya berada.
"Apa, Papa, tahu keberadaan Liana?"
__ADS_1
Sandi menggeleng. Sejak kematian Diana, mantan istrinya, Liana seakan hilang di telan bumi. Entah di mana keberadaan putri sulungnya itu.
"Pulanglah. Jika prediksimu benar, maka ibumu akan sangat marah setelah mendengarnya nanti," ucap Sandi lemah.