Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Bukan sebuah bukti


__ADS_3

Andra merenungi masalah yang kini mereka hadapi. Kali ini, Liana benar-benar marah. Ia mencoba berpikir, kesalahan apa yang ia perbuat. Namun, ia merasa sangat buntu. Satu hal yang dia tahu, rahasia yang dia simpan sudah pasti Liana ketahui.


"Siapa yang memberitahu istriku?" tanyanya.


Ia pun kembali ke kamar Liana. Saat itu, Liana masih terduduk di atas ranjang. Matanya menatap nyalang Andra. Saat masuk, ia sengaja mengunci pintu dan menyimpannya di saku celana.


"Mari kita bicara baik-baik. Aku akan memberitahumu semua yang ingin kau tahu. Dengan syarat Kau tidak boleh lagi meminta perceraian."


Liana menatap mata Andra lekat. Kemudian, "Oke!"


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Andra.


"Semua yang kutanyakan tadi!"


"Iya. Semua manager di kantormu, pasti akan melaporkan kondisi perusahaan padaku. Tidak hanya itu. Setiap keputusan yang kau ambil pun, mereka pasti memberitahuku."


"Termasuk ... menyembunyikan Fia dariku?"


Andra terkejut mendengar ucapan istrinya. Liana tersenyum miring melihat reaksi Andra.


"Kenapa? Kau terkejut? Bukan hanya itu. Aku juga tahu, kau menukar pekerjaan Sonya, dengan Fia. Apa aku salah? Ceraikan aku. Jika kau memang mencintai Fia!"


"Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain dirimu! Aku hanya takut, kau menyakiti Fia. Hanya dia yang bisa membantu ayahmu. Kenapa kau tidak berpikir ke sana?"


"Apa aku harus percaya dengan kata-katamu? Sekarang jelaskan masalah ini!" Liana menyerahkan ponselnya pada Andra.


Tangan Andra terulur meraih ponsel itu. Kemudian, melihat dua foto dirinya bersama Fia. Satu di restoran, satu lagi di ruangannya. Ada satu video yang memperlihatkan keceriaannya bersama Fia.


"Dari mana kau dapatkan ini?"


"Foto pertama, aku dapatkan dari seseorang. Foto kedua, aku sendiri yang mengambilnya dari depan ruanganmu."


"Kau ... datang ke kantor?" Andra terkejut mendengar jawaban Liana.


Liana hanya mengangguk. Andra menarik napas dalam. Kali ini, dia tak bisa lagi menyembunyikan masalah Fia.


"Fia ... membutuhkan uang untuk biaya operasi ayahmu. Kami tertawa, karena aku mencoba untuk menghiburnya saat itu."


"Jadi, kau mencoba menjadi pahlawan? Sepertinya kalian jauh lebih cocok. Tidak ada salahnya kita saling melepaskan," ujar Liana.


"Aku tidak ingin bercerai. Beri aku satu kesempatan, aku janji tidak akan menemui Fia lagi. Akan kubuktikan, bila aku hanya mencintaimu!" pinta Andra.


"Kalau begitu, kau tidak bisa mengurungku. Kau tidak boleh menyentuhku, sampai aku yakin dengan ucapanmu!"


Andra menganggukkan kepala. Mereka pun mencapai kesepakatan bersama.


***


Keesokkan harinya, Liana pergi bekerja seperti biasa. Ia masih tidak menyapa Andra. Rasa kesal dan amarah di hatinya, belum juga surut. Di perjalanan, ia tak sengaja menabrak sebuah motor.


"Maaf, saya, minta maaf. Apa, Anda, baik-baik saja?" tanyanya.

__ADS_1


Pria itu meringis, kemudian membuka helmnya. Ia terkejut melihat wanita itu. Begitu pun dengan Liana.


"Lo!" Keduanya saling melempar senyum.


Liana membantu pria yang ternyata teman sekolahnya dulu, itu bangun. Kemudian, membawanya ke cafe terdekat. Tanpa Liana sadari, Andra melihat mereka. Ia pun memutuskan mengikuti mereka.


"Gimana kabar Lo?" tanya pria itu.


"Baik. Lo sendiri?"


"Seperti yang lo liat!"


Keduanya pun saling melemparkan senyum. Beberapa menit, mereka saling terdiam.


"Kau ... semakin cantik," ucap pria itu. Ia menundukkan kepala seraya menggaruk tengkuknya.


Andra yang duduk tak jauh dari mereka, mengepalkan tangannya kuat. Apalagi, saat melihat Liana tertawa lebar.


"Sudahlah. Jangan menggombal. Ini biaya berobat. Gue tahu lo gak butuh ini. Paling gak, gue udah nunjukin rasa bersalah gue."


Ia pun beranjak meninggalkan cafe. Andra menutup wajahnya, saat melihat Liana berdiri. Ia menghela napas lega melihat Liana meninggalkan pria itu.


"Liana!" panggil pria itu lagi.


Andra tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Namun, ia bisa melihat pria itu menyerahkan kartu namanya. Kemudian, mereka berpisah.


"Sial! Siapa dia?" tanya Andra.


"Dilan, ternyata, dia sudah jadi pengacara. Suatu saat, mungkin aku akan butuh bantuannya."


Liana mengeluarkan ponsel dan mencatat nomor Dilan. Ia pun mengirim pesan, sekedar memberi tahu temannya tadi, bila itu adalah nomor pribadinya.


"Siapa laki-laki tadi?"


Liana terkejut melihat Andra di sana. Pria itu segera menodongnya dengan pertanyaan.


"Hanya teman kecil," jawab Liana.


"Kau tidak sedang berbohong, 'kan?" tanya Andra penuh selidik.


Tatapan tajam Liana arahkan pada sang suami. "Apa pernah, aku menyembunyikan sesuatu darimu?"


Andra terdiam. Sekali pun, Liana tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya. Melihat Andra yang tak bisa menjawab, Liana pun meninggalkan parkiran. Andra tak menghalanginya sama sekali.


***


Satu minggu kemudian, Liana tak sengaja bertemu dengan Dilan disebuah restoran. Pria itu, baru saja bertemu dengan kliennya di sana. Saat itu, Liana juga baru bertemu dengan klien dari perusahaannya.


"Hai. Kita bertemu lagi," sapa Dilan.


"Hai. Duduk." Liana mempersilakan Dilan untuk duduk. "Fika, kembalilah lebih dulu," ucap Liana pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Baik, Bu." Fika pun meninggalkan restoran itu.


Setelah Fika pergi, Liana dan Dilan pun berbincang santai, seraya makan siang. Mereka saling menanyakan kabar satu sama lain. Dilan terkejut, saat mengetahui kabar dari ibu Liana.


"Lo gak becanda, 'kan," ujar Dilan.


"Apa pantas, kita mempermainkan kematian?" tanya Liana lirih.


"Lo, benar. Gue turut berduka. Lain kali, boleh gue ikut berziarah?" tanya Dilan.


Liana menganggukkan kepala. "Oh, iya. Apa lo menangani kasus perceraian?"


"Iya. Itu salah satu kasus yang saat ini gue tangani," jawabnya.


"Bagaimana menggugat suami yang berselingkuh?"


Dahi Dilan berkerut mendengar pertanyaan Liana. Matanya pun tertuju pada cincin di jari manis kanan Liana.


"Lo udah married?"


"Kok, Lo nanya gitu?"


Dilan menunjuk jemari Liana dengan dagu. Liana menutupi cincin itu dan menyimpan tangannya di pangkuan.


"Hem," jawabnya.


"Lo punya bukti perselingkuhan suami Lo?" tanya Dilan lagi.


Liana pun menunjukkan dua foto serta rekaman yang ia ambil. Dilan memperhatikan foto serta rekaman itu dengan seksama.


"Foto dan rekaman ini, tidak bisa lo jadikan bukti perselingkuhan. Mereka cukup menjaga jarak satu sama lain. Apa dia mengakuinya?"


Liana menggelengkan kepala. "Dia bilang, hanya ingin membantu gadis itu."


"Bisa jadi."


Beberapa menit keduanya saling terdiam. Liana tahu, Andra tidak akan mengkhianatinya. Namun, ia tidak bisa mempercayai Fia. Meski sejujurnya, ia pun tak yakin.


"Bagaimana caranya gue tahu, kalau suami gue selingkuh?" tanya Liana.


"Pengeluaran tak wajar, atau foto yang jauh lebih intim dari ini!"


Liana menganggukkan kepala mengerti. Ia menyeruput kopinya sedikit.


"Kalau begitu, Lo bisa jadi penasihat hukum untuk gue, 'kan?"


"Tentu saja. Kabari aja, kalau lo mau ketemu dan konsultasi. Saran gue, Lo bicara dulu baik-baik sama suami Lo. Meski perceraian bukan hal yang dilarang, tapi ada baiknya hindari."


"Terima kasih. Gue bakal inget pesan Lo!"


Keduanya pun saling melempar senyum. Sejak itu, Liana selalu menghubungi dilan, bila ia menghadapi sebuah masalah. Bahkan, saat nomor yang tak ia kenal, kembali mengirimi foto kebersamaan Andra dan Fia.

__ADS_1


__ADS_2