
"Lalu, kenapa kau masih ingin merawat ayahmu?" Lagi, Andra bertanya.
"Seburuk apa pun dia, bukankah dia tetap ayahku? Darahnya mengalir di dalam darahku. Tanpa dia, apa aku bisa hadir di dunia ini?" Liana menatap Andra.
Pria itu menarik Liana lagi. Membawa wanita yang begitu dicintainya ke dalam pelukan. Ia tidak menyangka, bila Liana bisa sekuat itu. Liana bahkan masih bisa memaafkan orang yang sudah melukai hatinya.
"Apa kau sudah memaafkan mereka?" tanya Andra lagi.
"Mulutku mungkin bisa mengatakan 'sudah'. Tapi, tidak dengan hatiku."
Luka mungkin bisa dengan mudah disembuhkan. Namun, akan tetap meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan. Seperti itulah hati Liana saat ini. Bak sebuah cermin yang pecah, tidak akan kembali seperti semula, meski disatukan.
***
Beberapa hari berlalu, Liana baru saja akan pulang setelah mampir dari supermarket yang tak jauh dari komplek perumahannya. Saat akan memasuki mobil, ia melihat seorang gadis yang diseret secara paksa. Ia mencari keberadaan security, tetapi tidak seorang pun terlihat di sana.
Kemudian, ia melihat sekeliling parkiran, tidak ada siapa pun di sana. "Kenapa sepi banget, ya?" gumam Liana.
__ADS_1
Liana memfokuskan pandangannya. Gadis itu tak terdengar berteriak. Tak lama, ia tak sadarkan diri. Liana terkejut, menyadari bila gadis yang mereka bawa paksa adalah Fia, saudara tirinya. Tanpa sadar, ia melepas barang belanjaannya.
Secara reflek, Liana masuk ke dalam mobil dan mengejarnya. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Tak peduli dengan dering ponselnya yang terus menerus berbunyi. Melirik pun, tidak. Ia terus fokus mengejar mobil di depan sana.
"Kemana mereka akan membawa Fia? Siapa mereka? Bukankah Fia tidak punya musuh?" tanya Liana pada dirinya sendiri..
Selama mereka berteman, ia cukup tahu bila adik tirinya tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Gadis itu, cenderung berpikiran lurus. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Namun, ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Perlahan, mobil memasuki kawasan hutan.
Dahi Liana mengerut tajam. Ia merasa dejavu dengan melihat tempat itu. Perlahan, napas Liana memberat. Matanya ikut memburam akibat genangan yang menumpuk. Liana kehilangan kendali.
Kini, menyesal pun sudah terlambat. Ia bahkan tak ingat arah ke jalan utama. Liana bahkan tak yakin, mampu keluar dengan selamat dari tempat itu. Ia pun memilih menepikan mobilnya. Napasnya terasa semakin berat.
"Andra, tolong aku," ucapnya lirih.
Setelah mengucapkan itu, Liana kehilangan kesadaran.
***
__ADS_1
Andra berkali-kali memanggil nama Liana. Namun, sang istri tak lagi menyahutnya. Rasa khawatir semakin menguasai Andra. Apalagi, tak lama setelah itu, ponsel Liana tak bisa dihubungi. Ia segera menghubungi seseorang.
"Bantu aku cari lokasi terakhir Liana!" titahnya pada orang di seberang sana.
Tanpa menunggu jawaban, ia memutus panggilan itu. Kemudian, kembali melakukan panggilan ke nomor lain.
"Siapkan orang untuk membantuku mencari Liana!" Lagi, Andra memberi perintah.
Ia segera mengambil kunci mobil. Saat masuk ke dalam lift, ponselnya berdenting. Itu adalah lokasi terakhir sang istri yang telah ditemukan oleh pegawainya. Andra segera meluncur ke sana, bersama beberapa orang.
Wajah pria itu terlihat tidak bersahabat. Ia kembali mengingat, bagaimana beratnya suara Liana.
"Apa yang membuat trauma Liana kambuh? Apa dia kembali bertemu dengan pria yang diceritakannya? Sial!"
Andra mengumpat keras. Merasa gagal menjadi pelindung bagi sang istri. Haruskah aku bertindak posesif setelah ini?
__ADS_1