
Liana menatap Andra, kemudian menghela napas dalam. Ia bangkit berdiri merapikan pakaian yang Andra gunakan.
"Tidak masalah. Asal kau ingat ucapanku. Sejak awal, aku sudah tahu konsekuensi yang harus kutanggung. Kupikir, dia tidak selicik ibunya. Tapi, buah tak jatuh jauh dari pohonnya, bukan?" ucap Liana.
Andra menghela napas berat. Ia tidak rela, Liana disalahkan karena perbuatan yang sejujurnya tidak dia lakukan. Akan tetapi, Andra tak bisa berbuat apa-apa. Andra pun memeluk Liana erat. Menjatuhkan dahinya di pundak sang istri.
"Aku mencintaimu. Apa pun, akan aku lakukan untuk membebaskan dirimu," ucapnya di telinga Liana.
Hanya senyum kecil yang Liana tunjukkan sebagai jawaban. Kemudian, Andra berlalu dari hadapannya. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Sementara Liana, menatap datar punggung sang suami. Tak lama, pengacara yang Andra sewa pun pamit. Liana hanya tersenyum, seraya menganggukkan kepala.
"Butuh bantuan?" tanya Dilan, setelah tinggal mereka di sana.
Liana menoleh dan menggelengkan kepala. Melihat jawaban sahabatnya, Dilan tersenyum mengejek. Liana menatap Dilan sengit.
"Gak usah ngejek gue!" ucap Liana kesal.
Dilan tertawa puas melihat wajah Liana yang kesal. "Udah bucin rupanya." Dilan melanjutkan ejekannya.
__ADS_1
"Lo di sini, untuk mengejek, atau membantu?" tanya Liana ketus.
"Bukannya, tadi lo yang gak mau dibantu?" Senyum sinis terlihat di wajah Dilan.
Dengan kesal, Liana mendaratkan bokongnya di kursi. Melipat tangan di dada, lalu menatap sahabatnya tajam.
"Oke! Jadi, apa yang perlu gue bantu?" tanya Dilan menyerah.
"Awasi Andra. Gue tahu, Fia pasti merencanakan sesuatu," ujar Liana.
"Sepertinya, kelicikan gadis itu menurun dari Maya." Dilan berasumsi.
"Lo tenang aja. Gue bakal bantu Lo semampu gue. Termasuk, mengawasi suami Lo," janji Dilan.
"Thanks, ya Di," ucap Liana tulus.
***
__ADS_1
Andra kembali ke tempat, di mana Dia dan Liana bertengkar kemarin. Mencari sesuatu, yang mungkin bisa ia jadikan bukti. Matanya menelisik setiap tempat dengan cermat. Mencoba melihat sesuatu yang bisa ia jadikan bukti, untuk membebaskan Liana.
Tatapannya terhenti, pada suatu sudut yang menangkap tempat Liana dan Fia bertengkar. Di sana, terlihat cctv dari arah lantai dua. Segera, Andra masuk dan memeriksa cctv tersebut.
Andra mendengus kesal, saat menyadari kabel cctv telah terputus. "****!" umpat Andra.
Kepala Andra semakin terasa berdenyut kuat. Dengan langkah lesu, ia kembali ke tempat kejadian. Kembali mencari petunjuk yang mungkin bisa ia temukan. Tanpa ia sadari, Dilan mengikuti dirinya.
Pria itu menahan tawa, melihat wajah frustasi Andra. "Hanya segitu, kemampuanmu?" ejek Dilan yang tak didengar oleh Andra.
Dahi Dilan mengerut tajam, saat melihat ponsel yang tertutup rerumputan yang cukup tinggi. Ia menghampiri rerumputan, dan mengambil ponsel itu dengan sapu tangan. Ia tak ingin merusak bukti penting.
"Ini ponsel Fia," gumam Dilan.
Dilan segera menutup ponsel itu dengan sapu tangan dengan perlahan. Tak ingin, menyisakan sidik jarinya di sana. Kemudian, meletakkan ponsel tersebut di tempat yang terlihat.
Tak lama, beberapa orang polisi datang untuk memeriksa TKP. Dilan segera bersembunyi. Begitu pun dengan Andra. Mereka tak ingin, dituduh merusak TKP dan menghilangkan bukti.
__ADS_1