Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Kesedihan mendalam


__ADS_3

Liana menatap ibunya sedih. Ia tidak tahu, mengapa Tuhan mengujinya seperti ini. Tidak cukupkah Ia memisahkan ayahnya dari dia? Kini, haruskah ia merelakan ibunya?


Air matanya terus saja mengalir. Sebuah tangan melingkar di bahu gadis itu. Menariknya untuk mendekat. Dari aroma yang tertangkap indera penciumannya, Liana sangat mengenal orang itu.


Ingin melepas, tetapi Liana tak bertenaga untuk berdebat dengannya saat ini. Bahkan, untuk sekedar mencegah kecupan di puncak kepalanya. Dia adalah Andra. Tadi, Fia mengabari Andra tentang masalah yang Liana hadapi. Sementara Fia, mendapat kabar dari ayahnya.


"Makanlah dulu. Lo pasti belum makan, 'kan?" Fia menyodorkan kotak makan padanya.


Tidak ada respon yang Liana berikan. Gadis itu tetap bergeming. Pandangannya terlihat kosong.


"Duduklah. Biar aku obati pipimu," ujar pria itu.


"Pergi! Gue gak butuh rasa kasihan dari kalian. Lagi pula, kalian tidak punya hubungan apa pun sama gue!" usirnya tanpa melepas pandangan dari sang ibu.


Andra yang tidak menerima penolakan, mendudukkan Liana paksa. Saat ia datang tadi, ia melihat pipi Liana yang memerah. Andra mengusap perlahan pipi itu. Liana segera membuang pandangan.


"Maaf," ucap Andra.


Fia mengulurkan salep yang sempat dibelinya di apotek tadi pada Andra. Perlahan, Andra mengoleskannya pada luka di bibir Liana.


"Maafkan papa. Dia tidak bermaksud menyakiti lo," ujar Fia.


Mendengar ucapan itu, Liana menatap Fia sengit. "Kalau begitu, sampaikan padanya untuk tidak mencampuri hidup keluarga gue!"


"Li, lo gak bisa selamanya memusuhi papa. Beliau tetap keluarga lo," bujuk Fia.


"Sejak dua memutuskan bercerai dari mama, dan lebih memilih kalian, sejak itu dia bukan keluarga gue!"


Andra mengusap bahu Liana lembut. Ingin turut menasihati pun, ia tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan keluarga Liana.


"Itu karena ayahmu memang sudah tidak mencintai mamamu. Jangan salahkan kami, atas apa yang terjadi dalam hidup kalian!"


Suara itu membuat ketiganya mengalihkan perhatian. Senyum miring terlihat di wajahnya. Liana mendengus kesal melihat kehadiran wanita yang berstatus sebagai ibu dari Fia.


"Pergilah! Bawa nyokap lo pergi dari sini!" usir Liana kembali.


"Tidak perlu kau usir pun, aku pasti pergi dari tempat ini!"


"Ma!" bentak Fia.


"Kamu berani membentak mama?" ucapnya tak percaya.

__ADS_1


Liana memijit pelipisnya melihat drama yang mereka mainkan. "Bisa gak, kalian pergi dari sini? Gue gak mood liat drama yang kalian perankan!"


"Bocah kurang ajar! Jaga mulutmu, ya!" geram mama Fia seraya menunjuk Liana.


"Mama, apaan, sih. Bikin aku malu aja!" seru Fia.


"Kenapa harus kamu yang malu? Seharusnya, dia yang malu. Bisanya nyusahin keluarga kita aja!" Wanita itu melipat tangannya di dada.


Andra mengerutkan dahi melihat pertengkaran mereka. Apa lagi, saat wanita itu mencela Liana.


"Hah, seharusnya, lo ikat aja tangan suami dan anak lo ini! Biar mereka gak perlu ikut campur urusan gue!"


Fia segera menarik tangan ibunya, saat terangkat untuk menampar Liana. Sementara Liana justru terlihat menantangnya.


"Ayo, kita pergi dari sini!" seru Fia.


Wanita itu terus mengumpat pada Liana.


***


Liana masuk ke ruangan ibunya. Memegang jemari ibu yang begitu ia cintai. Kembali air mata Liana mengalir deras. Dadanya terasa sesak, hingga ia harus menahan suara. Andra yang baru masuk, kembali memeluk Liana dan membawanya keluar.


"Gak usah. Lo gak ada kewajiban untuk jaga nyokap gue," tolaknya lirih.


"Sampai kapan kamu akan menolak bantuan ku? Aku tidak berniat menaruh rasa kasihan padamu. Semua murni karena aku mencintaimu," ucap Andra.


"Sayang, gue terlanjur benci sama lo!"


"Aku sudah menjelaskan semuanya. Tidakkah kau ingin memaafkanku?"


"Tidak! Pergi dan jangan pernah muncul di hadapan gue. Sesulit apa pun kondisi gue saat itu!" Liana menarik tangannya dari genggaman Andra dan meninggalkan pria itu.


Andra mendengus kasar melihat Liana yang terus menolaknya. Ia hanya bisa mengepalkan tangan erat.


Andra terkejut, saat mendengar raungan Liana dari dalam. Tak lama, beberapa petugas medis masuk ke sana. Ia pun turut masuk dan melihat apa yang terjadi. Ia terkejut melihat tanda di monitor.


Segera, Andra menopang tubuh Liana. Air matanya ikut mengalir melihat kondisi Liana saat ini. Tak lama, dokter melepas semua alat di tubuh ibu dari Liana.


"Mama," panggil Liana di sela isak tangisnya.


"Kamu harus sabar, ikhlaskan kepergian Tante." Andra memeluk Liana erat.

__ADS_1


***


Pemakaman telah usai. Namun, Liana masih duduk terpaku di sana. Ia tak berniat beranjak dari sana sedikit pun. Para pelayat, mulai meninggalkan lokasi satu persatu. Termasuk orang tua Andra.


Mereka meminta Andra untuk menjaga Liana. Setelah kepergian orang tuanya, Andra mendekati Liana.


"Baguslah, Akhirnya berkurang satu yang menyusahkan!"


Liana tak menanggapi ucapan sarkas itu. Sementara Fia dan ayahnya menatap tajam pada wanita yang baru saja berbicara. Andra hanya meliriknya dengan ekor mata.


"Jaga mulutmu!" desis pria itu.


Wanita itu memutar bola matanya jengah. Ia pun berlalu meninggalkan pemakaman. Fia mendekati Liana dan mengusap lembut bahunya. Namun, segera di tepis oleh Liana. Saat sang ayah yang mendekatinya, ia segera menolaknya.


"Jangan mendekat!" desis Liana. "Kalian pergi saja. Gue masih pengen di sini," ucapnya.


Fia dan ayahnya tak kuasa menolak keinginan Liana. Mereka tak ingin menambah kepedihan di hati Liana lagi, hingga memilih berlalu dari sana. Tinggallah Liana dan Andra di sana. Dengan setia, Andra menunggu.


Sampai matahari berganti rembulan, Liana tak juga bergerak dari sana. Ia terus mengusap gundukan tanah di hadapannya. Gadis itu memang sudah tak lagi menangis. Namun, sikapnya menunjukkan, bila ia begitu merasakan kesedihan yang mendalam.


"Liana, sebaiknya kita pulang," bujuk Andra.


"Tidak. Mama ada di sini, untuk apa gue pulang? Gue bakal nemenin mama," tolak Liana.


"Kamu harus mengikhlaskan kepergian Tante."


"Bicara memang mudah. Sayangnya, lo gak berada di posisi gue!"


Andra tak mengerti lagi cara membujuk Liana. Gadis itu tetap tak ingin beranjak dari sana. Ia terus mengusap nisan yang bertuliskan nama ibunya, serta tanah yang sudah menutupi tubuh sang ibu, hingga pagi menjelang.


Liana merasakan sakit di kepalanya. Tubuhnya pun terasa lemas. Sejak ibunya masuk ke rumah sakit sampai detik ini, ia tidak menyentuh makanan atau pun minuman. Perlahan, ia mulai kehilangan kesadarannya.


Andra yang masih setia menemani, segera menangkap tubuh Liana. Ia membawa Liana ke rumah sakit terdekat. Para petugas medis, segera memeriksa kondisi Liana.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Andra, begitu dokter selesai memeriksa.


"Dia mengalami dehidrasi. Nanti, setelah sadar akan kami lanjutkan pemeriksaan," jelas Dokter.


"Terima kasih, Dok," ucap Andra.


Dokter pun berlalu meninggalkan ruangan itu. Andra duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Liana. Perlahan, kantuk mulai menyerangnya. Semalaman, Andra harus terjaga, untuk memastikan Liana tidak berbuat hal yang nekat. Andra pun merebahkan kepala, tanpa melepas genggamannya di tangan Liana. Kemudian, ia pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2