Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
(POV Liana) Papa?


__ADS_3

Setelah beberapa waktu mengenal Andra, kupikir dia adalah pria yang hangat. Perlahan, aku menurunkan kewaspadaan padanya. Hubungan kami pun, mulai terlihat seperti teman.


Dia tidak pernah bertanya apa pun, tentang masalah pribadiku. Bahkan, saat aku menatap sinis pada papa. Ya, pria itu kembali hadir dalam kehidupan kami. Entah apa maunya pria ini.


Andra bahkan hanya mengikutiku keluar dari ruang rawat mama tanpa sepatah kata pun. Aku tahu, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya. Namun, ia sungkan untuk bertanya.


"Mau makan?" tawarnya.


Aku menggelengkan kepala menolak. Bagaimana pun, tidak mungkin aku meninggalkan mama dengan pria itu. Aku takut, ia akan membuat mama kembali menangis. Tidak, itu tidak boleh terjadi!


Pada akhirnya, Andra hanya berdiri diam di sampingku. Sampai pria itu pergi, aku baru melangkah masuk bersama Andra.


"Ma, dia gak bicara macam-macam, 'kan?" tanyaku.


"Liana, sopanlah sedikit. Dia itu papamu!" seru mama.


Aku membuang pandangan. Tidak habis pikir dengan cara mama berpikir. Untuk apa mama membela pria sialan itu? Bisa makin besar kepala dia, jika tahu hal ini.


"Dia bukan papaku! Papa sudah lama mati!" jawabku kesal.


"Liana!" Mama berteriak padaku.

__ADS_1


Kesal dengan sikap mama yang selalu membela pria itu, aku memilih pergi dari sana. Terlalu lelah bertengkar dengan mama atas masalah yang sama.


"Tidak seharusnya kamu bicara kasar seperti itu. Bagaimana pun orang tuamu, tanpa mereka, kau tidak akan hadir di dunia ini."


Suara itu membuatku menoleh. Ternyata, Andra sudah berdiri di belakang.


"Bicara memang mudah. Kau tidak akan tahu apa yang aku rasakan, jika kau tidak merasakannya," jawabku.


"Paling tidak, bicaralah yang baik pada ibumu. Tidak pantas rasanya, kau bicara sekasar itu."


Lagi, aku harus menebalkan telinga mendengar nasihat seperti ini. "Kalau kau hanya ingin menceramahiku, itu tidak akan berguna. Pergilah!"


Lebih baik aku mengusirnya, dari pada mendengar ocehan pria itu. Saat melirik ke belakang, ternyata Andra masih berdiri di sana. Aku menghela napas berat melihat keberadaannya.


"Kemana saja," jawabku ketus.


Kulangkahkan kaki menjauh darinya. Aku butuh ruang untuk menenangkan diri. Setiap kali aku bertemu dengan pria, yang sayangnya adalah ayah kandungku, selalu saja emosi ini tidak stabil.


Melihatnya lagi, lagi menemui mama, membuatku meradang. Namun, mama seakan tak keberatan dengan kedatangannya.


"Liana!"

__ADS_1


Suara ini, bukankah ini suara pria itu? Apalagi yang diinginkannya? Tidak bisakah. dia menjauh dari kehidupanku?


"Ada apa, Anda, memanggilku?" tanyaku dengan cara bicara formal.


Sekedar memberitahu dirinya, bahwa posisi pria ini, tak lagi penting dalam hidupku sejak dua puluh tahun yang lalu. Aku bisa melihat tatapannya yang sendu.


"Tidak bisakah kau memaafkan papa?" pintanya.


"Maaf? Mudah sekali mulut, Anda, mengucap maaf, setelah apa yang terjadi pada hidupku," desisku.


"Tapi, papa masih tetap papamu, Nak," ucapnya.


Wajah pria itu terlihat mengiba. Sayangnya, aku tak tergerak untuk memaafkan dia.


"Papa? Aku tidak punya papa. Dia sudah lama mati!" pekikku.


Kutarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapanku. "Pergi, dan jangan lagi muncul di hadapanku!"


Hari ini, dua kali sudah aku mengusir seseorang. Air mataku kembali menetes. Rasa sakit di hati ini, seakan ingin membunuhku. Tuhan, sampai kapan aku harus menerima rasa sakit ini? Tidak adakah kebahagiaan untukku?


***

__ADS_1


Sorry, hari ini dikit dulu ya. aku lagi siapin 3 bab awal untuk novel berikutnya. nanti mampir ya. sampai jumpa lagi


__ADS_2