Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
(POV Liana) Tidak butuh


__ADS_3

Aku menatap tajam pria itu. Amarah begitu menggelegak di dada. Tak kunjung mendapat respon baik dari pria itu, membuatku menendang tulang kering di kakinya. Terdengar rintihan dari bibir Andra. Sampai akhirnya, ia melepaskan genggaman di tanganku. Aku menyeringai puas dan pergi dari sana.


Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang membuat pria itu begitu gencar mendekatiku. Meski secara fisik aku tak kalah cantik dari Bianca dan Fia, tetapi sikapku yang bar-bar, seharusnya bisa jadi bahan pertimbangan untuk dia. Namun, aku tak ingin mempertanyakannya. Bisa besar kepala dia nanti.


Baru saja aku bernapas lega bisa bebas dari pria bernama Andra, tetapi kini aku harus bertemu singa betina yang siap menerkam kapan pun dia mau.


"Tidak salah aku meminta Fia menjauhimu. Kau memang wanita tidak baik. Lihat saja, tempat kau keluar," ucapnya dengan nada mengejek.


Aku memilih diam. Meski sejujurnya, emosiku mulai meluap. Bagaimana pun, mama mengajariku sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Aku hanya membuang pandangan dari wanita perebut suami orang ini.


"Dengar, baik-baik! Jangan kau dekati anakku, atau kau akan tahu akibatnya!"


Dari cara bicaranya, bisa kusimpulkan bila dia sedang mengancamku. Tahukah dia, bila putrinya yang selalu menempel padaku?


"Sepertinya, Anda, salah alamat untuk memberi peringatan. Katakan itu pada putrimu sendiri. Jangan menempeliku seperti lintah!" ucapku tajam.


Terlihat jelas wajahnya yang memerah menahan amarah. Mungkin dia pikir, aku akan takut dengan ancamannya. Salah, jika dia bisa berbuat bar-bar, maka aku jauh dari sekedar mampu membalas sikap bar-barnya.


Melihatnya tak berkutik, aku melenggang pergi meninggalkan dia di sana. Untuk apa juga aku mengurusi wanita ular itu? Hanya membuang energi.


Tiba di apartemen, aku mencari keberadaan mama. Di jam seperti ini, biasanya mama sudah berada di kamar. Kubuka perlahan pintu kamar mama. Betapa terkejutnya aku, saat melihat kondisi kamar mama yang berantakan. Mataku beralih pada sosok yang tergeletak di samping tempat tidur.


"Mama!" pekikku.


Panik, itulah yang kurasakan. Kuambil ponsel dan mencoba menghubungi rumah sakit terdekat, untuk mengirimkan ambulance. Air mataku jatuh tak tertahan, melihat kondisi mama yang tak berdaya.

__ADS_1


Tak lama, seseorang memencet bel apartemenku. Gegas aku berlari dan membuka pintu. Petugas kesehatan segera masuk dan membawa mama.


Setelah melalui berbagai pemeriksaan, Dokter memanggilku ke ruangannya.


"Bagaimana kondisi mama saya, Dok?" tanyaku.


"Kondisinya saat ini, sedang tidak baik-baik saja. Apa belakangan ini, pasien sering mengalami pusing, mual, muntah, mata berkunang-kunang?"


Aku terdiam mendengar pertanyaan Dokter. Mencoba mengingat, apakah mama pernah mengeluh sakit padaku. Sayangnya, mama tak pernah mengeluh sedikit pun. Bahkan, ketika aku tak punya waktu menemani beliau.


"Sa-saya tidak tahu, Dok," jawabku terbata.


Air mata jatuh semakin deras. Aku merasa menjadi anak yang durhaka. Tuhan, jika ada kesempatan aku akan selalu menemani mama. Cepat-cepat kuhapus air mata ini.


"Bagaimana mungkin, Anda, tidak tahu? Bukankah, Anda, ini putrinya?"


"Ada penyumbatan di pembuluh darah pasien. Tekanan darahnya juga cukup tinggi. Beruntung, pasien cepat ditangani. Bila tidak, nyawa pasien mungkin akan sulit tertolong."


Rasa bersalah semakin menderaku. Maaf, Ma. Aku terlalu fokus mengejar karir, hingga melupakan mama.


"Apa mama saya bisa di sembuhkan, Dok?"


"Untuk penyumbatannya saya akan berikan terapi obat-obatan lebih dulu. Termasuk, obat untuk mengontrol tekanan darahnya. Tolong, Anda bantu dengan pola makan yang sehat. Hindari makanan dengan tinggi lemak, rajin berolahraga minimal 15 menit per hari, hindari alkohol dan rokok." Dokter itu menjabarkan apa saja yang harus kulakukan.


"Baik, Dok. Saya mengerti."

__ADS_1


Aku pun berpamitan dan kembali ke ruang rawat mama. Baru saja aku berbelok, seseorang menabrakku.


"Kau tidak apa-apa?"


Suara itu, terdengar familiar di telingaku. Segera aku mengangkat pandangan dan melihat Andra. Rasanya, tak ada tenaga untuk sekedar berdebat dengannya saat ini.


"Liana," ucapnya.


Kudorong ia, agar menjauh. Kemudian, berjalan kembali ke ruangan mama. Kutatap wajah mama yang kini terlelap.


"Apa ini ibumu?"


Aku menoleh dan mendapati Andra di sana. Entah sejak kapan dia berdiri di belakangku.


"Untuk apa kau mengikuti ku?" tanyaku lemah.


"Aku pikir kau sakit. Beberapa jam lalu, kau bahkan baru menendangku, 'kan?"


"Maaf. Pergilah! Aku sedang tidak ingin bertemu denganmu atau siapa pun," usirku.


Jujur saja, aku tidak suka terlihat lemah di hadapan orang lain. Tatapan kasihan yang mereka tunjukkan, seakan tengah mencemoohku.


"Kau kelihatannya sedang butuh bahu untuk bersandar. Aku bersedia memberikan bahuku."


Lihat, dia benar-benar sedang merasa kasihan padaku. "Aku tidak membutuhkan semua itu! Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"

__ADS_1


***


Andra bener-bener gigih ya guys...


__ADS_2