Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Mencekik diri sendiri


__ADS_3

Andra meringis menahan perih di bibirnya. Sementara Liana, bersikap seakan tak terjadi apa-apa. Meski sejujurnya, ia tengah menahan tawa, melihat Andra meringis. Pria itu kembali mengenakan seat belt, lalu menjalankan mobilnya.


"Aku ini sedang meredam rasa cemburuku! Apa dia tidak peka?" gumamnya kesal.


Liana pura-pura tak mendengar gumaman sang suami. Ia pun masih betah dengan pandangannya keluar sana. Tatapannya terfokus pada seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu. Masa lalu, yang sangat ingin Liana lupakan.


Bukannya itu, pria yang dulu ingin membeliku dari Tante Maya? Rasa takut mulai menyergapnya.


Berbagai pertanyaan pun ikut bermunculan dalam benak Liana. Ia bahkan tak menyadari, bila Andra sudah berkali-kali memanggilnya. Saat Andra menyentuh tangannya, tanpa sadar Liana menepis dengan kasar.


Apa ini? Kenapa aku merasa sesak dan sulit bernapas?


Terdengar suara erangan lirih dari Liana, hingga membuat Andra menoleh. Pria itu terkejut, saat melihat istrinya seperti mencekik dirinya sendiri. Ia pun menepikan mobilnya dan menarik tangan Liana dari lehernya sendiri.


"To–long," ucap Liana terbata.


"Liana, sadarlah!" pekik Andra.


Ia terus berusaha menarik tangan sang istri, dari lehernya sendiri. Saat terlepas, Andra segera memeluknya erat. Perlahan, Liana mampu menguasai dirinya. Aroma parfum bercampur dengan tubuh Andra, seakan membantu Liana kembali normal.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Kenapa dia seperti sedang mengalami trauma? tanya Andra dalam hati.


Beberapa detik kemudian, Liana mendorong Andra lemah. Pria itu pun melepaskan pelukannya dan menatap sang istri penuh tanya. Liana mengerti, Andra ingin bertanya. Namun, ia lebih dulu mengangkat tangannya.


"Tidak sekarang. Suatu saat, aku pasti akan menceritakannya," ucapnya lemah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Andra.


Liana menganggukkan kepala lemah, kemudian menyandarkan kepalanya. Liana segera menarik napas dalam, mencoba meredakan napasnya yang memburu.


***


Dari arah belakang, Dilan masih mengikuti mereka. Ia melihat kejanggalan dari wajah Liana. Kenapa wajahnya berubah pucat?


"Lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Dilan khawatir.


Pria itu bahkan menghadang langkah Andra dan Liana. Wanita itu mencoba untuk tersenyum dan menganggukkan kepala. Dalam hati berharap, Dilan tak lagi bertanya. Andra menatap pria di depannya penuh tanda tanya.


Apa dia tahu tentang masa lalu Liana yang lain? pikir Andra.

__ADS_1


Namun, Andra menggelengkan kepalanya lagi. Tidak, tidak. Kali ini, aku akan mencaritahu langsung dari Liana. Saat ini, mungkin dia hanya belum siap bercerita. Aku harus menunggunya lebih tenang, putus Andra.


"Kamu mau bicara dengan Dilan?" tanya Andra setelah membawa Liana ke kamar mereka.


Ia menarik selimut, untuk Liana. Wajah Liana terlihat lelah dan butuh istirahat. Wanita itu menggelengkan kepala lemah. Andra mengerti, ia pun segera meninggalkan kamar.


"Sebaiknya kau pulang. Liana sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa," ucap Andra setelah kembali ke ruang tamu.


"Lo gak lagi berbohong, 'kan?" tuding Dilan.


Sebelah alis Andra terangkat. "Untuk apa aku berbohong. Liana sendiri yang menolak bicara denganmu," bantah Andra.


"Baiklah kalau begitu. Aku permisi," pamit Dilan.


Ia segera meninggalkan rumah Andra dan Liana. Setelah memastikan Dilan pergi, Andra kembali ke kamar. Di sana, Liana sudah tertidur.


"Apa yang membuatmu seperti tadi?" gumam Andra.


***

__ADS_1



__ADS_2