Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Takut atau khawatir?


__ADS_3

Liana tengah memainkan ponsel, seraya menunggu kedatangan Andra. Pandangannya teralih, saat melihat Fia yang mendorong kursi roda Sandi dengan terburu-buru. Bukan Sandi yang menjadi fokus Liana. Akan tetapi, bagaimana cara Fia melarikan diri dari pengawasan papa mertuanya.


Bagaimana dia bisa lolos? Tanpa sadar, Liana mengikuti mereka hingga ke sebuah tempat yang menurutnya cukup berbahaya.


"Fia!" teriak Liana. Kedua orang itu menoleh padanya. Langkah Liana perlahan mulai mendekat.


"Jangan mendekat! Atau aku akan mendorong tua bangka ini hingga jatuh!" ancam Fia.


"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin tahu, bagaimana kau bisa lari. Itu saja," jawab Liana acuh. Ia terus merangsek maju.


Fia menatap marah pada Liana. Tangan yang memegang kursi roda itu pun, terlihat mengepal kuat. Kini, jarak Liana dan mereka, hanya tersisa beberapa senti saja.


"Kau ingin tahu?" Sudut bibir Fia terangkat, saat melihat anggukkan dari Liana. "Yang pasti, aku bisa memperdaya mereka dengan mudah. Tak lama lagi, kau pasti akan mengetahui jawabannya."


Mendengar jawaban Fia, Liana hanya menghela napas dalam. "Ya, sudah. Lanjutkan keinginanmu membunuhnya," ujar Liana. Ia berbalik hendak meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Wow! Lihat! Itulah anak yang kau banggakan, Pak tua. Dia bahkan tidak peduli pada hidup dan matimu!" ucap Fia.


Langkah Liana terhenti. Ada gemuruh yang mulai merambati dadanya. Namun, ia berusaha menahan diri untuk tidak terprovokasi. Liana pun menarik napas dalam.


"Aku tidak peduli dengan urusan kalian!" Liana segera berbalik dan meninggalkan mereka.


Baru beberapa langkah ia pergi, terdengar suara sandi yang seakan ingin berteriak. Liana pun menoleh. Ia menahan kursi roda Sandi yang mengarah padanya.


"Kau gila, ya!" umpat Liana.


"Ya, aku memang gila. Gila karena kau masih bisa bersikap tenang, sekarang!" teriak Fia.


Fia memekik karena rasa sakit yang Liana berikan. Ia bahkan melepaskan tangan dari rambut Liana. Fia meringkuk, merasakan sakit pada perutnya.


"Dengar! Aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan padanya. Karena sejak kecil, aku tidak punya ayah!" desis Liana.

__ADS_1


Fia terbahak setelah mendengar ucapan Liana. "Kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu bahagia!"


Liana terkejut dan tak bisa memprediksi perbuatan Fia. Wanita itu maju menerjang Liana. Kini, keduanya berada di bibir jurang. Bila terjatuh, maka Liana akan lebih dulu mendarat di bawah sana.


"Liana! Fia!" teriak Sandi.


Keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Fia dengan kebenciannya, dan Liana dengan rasa khawatir. Bukan terhadap Fia. Yang ia khawatirkan adalah keselamatan bayinya.


Bagaimana pun, bayi itu tidak bersalah. Tidak mungkin ia mengorbankan anak yang bahkan belum mengenal dunia. Liana menelan salivanya sulit. Perlahan, wajahnya berubah pucat pasi.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Fia dengan seringai.


Aku tidak tahu harus bergerak ke mana sekarang. Jika aku salah melangkah, aku akan .... Liana tak sanggup meneruskan pikirannya.


"Sudah kubilang, aku tidak akan membiarkan kau hidup bahagia, sementara aku sengsara," desis Fia.

__ADS_1


"Kau seharusnya tidak mengalami kesengsaraan. Semua itu terjadi karena dirimu sendiri." Liana mencoba bicara baik-baik dengan Fia.


"Jadi maksudmu, di sini aku yang salah?"


__ADS_2