Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Hampir


__ADS_3

Napas Fia terlihat naik turun. Bola matanya bahkan membesar menatap Liana berang. Dengan segenap kekuatan, ia mulai mendorong Liana dari tepi jurang itu. Liana tak sempat memperkirakan gerakan Fia. Ia pun mulai limbung.


"Kalau begitu, lebih baik kau mati!" pekik Fia sebelum akhirnya mendorong Liana.


Sandi bahkan tak bisa mencegah hal itu terjadi. Liana tak mampu berteriak saat kejadian itu terjadi. Di luar dugaan, seseorang menarik tangan Liana. Namun, tak sengaja menyenggol bahu Fia yang tidak siap hingga akhirnya ia mengganti posisi Liana.


Sandi menangkap tangan Fia. Sayangnya, ia tak mampu menahan bobot tubuh Fia dan ikut terjun ke jurang. Kini, tubuh keduanya tertutup pepohonan. Entah apa yang terjadi pada mereka. Mungkinkah mereka hidup, atau mati.


***


Perlahan Andra berjalan mendekat. Sengaja berhati-hati, takut Fia akan bertindak bodoh dan membahayakan nyawa istrinya. Tinggal beberapa langkah lagi, ia bisa meraih tangan Liana.


Namun, Fia lebih dulu mendorong Liana. Secepat kilat, Andra menarik tangan sang istri dan menariknya menjauh. Tanpa ia sadar, bahunya menyenggol kuat Fia. Mengakibatkan hal fatal terjadi.


Liana dan Andra tertegun. Selama beberapa menit mereka tak bereaksi, selain menatap kosong ke arah jurang. Liana lebih dulu tersadar.

__ADS_1


"Kita harus turun dan mencari tahu kondisi mereka!" seru Liana.


Andra hanya menganggukkan kepala. Mereka pun mencari jalan untuk turun dan melihat kondisi Fia serta Sandi. Tiba di sana, mereka melihat kedua orang itu tak sadarkan diri. Kepala mereka, sepertinya terbentur batu.


"Andra, hubungi ambulance. Kita harus bawa mereka ke rumah sakit," titah Liana.


Andra segera melakukan perintah Liana. Ia juga menjelaskan posisi mereka yang ada di jurang. Setelah itu, mereka pun menunggu kedatangan bala bantuan.


***


"Aku gak bisa nunggu lagi. Paling tidak, kita harus tahu, apa mereka masih hidup atau tidak!" Liana menghempaskan tangan Andra dan mulai mendekat.


"Aku tahu! Tapi, kalau dia masih hidup, dan berbalik menyerang mu bagaimana?" cegah Andra lagi.


"Dia tidak mungkin sanggup. Kau lihat, sudah dua jam dia bahkan tak bergerak sedikit pun!" Liana masih bersikap keras kepala.

__ADS_1


"Pikirkan anak kita!"


Langkah Liana terhenti. Ia menoleh dan menatap Andra gamang. Di tengah perdebatan mereka, terdengar sirine ambulance dari atas sana. Tak lama, petugas medis pun tiba.


Mereka mulai memindahkan tubuh Fia dan Sandi yang tak bergerak dari sana. Melihat petugas sudah bergerak pindah, Liana dan Andra pun mengikuti mereka. Tiba di atas, sudah ada pihak berwajib yang menunggu. Mereka pun mulai bertanya menanyakan kejadian yang menimpa Fia dan Sandi.


Liana pun mulai menceritakan semuanya. Mulai dari ia mengikuti Fia, sampai kejadian Fia yang mendorongnya, tetapi Andra menyelamatkan dirinya.


"Jadi, Ibu Fia ingin mendorong, Anda, tetapi dia tergelincir?" sesak salah seorang polisi.


"Benar, Pak." Liana pun menjawab dengan yakin.


"Baiklah. Kami akan mencari bukti lainnya terkait kasus ini." Polisi itu mencatat poin penting dari setiap laporan Liana.


"Ah, ini adalah bukti, kalau dia hampir membunuh saya." Liana menunjukkan pergelangan tangannya yang membiru, akibat tarikan paksa dari Fia tadi.

__ADS_1


__ADS_2