Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Retak


__ADS_3

Setelah sekian lama terkurung, Fia akhirnya bisa kembali bebas. Beruntung, sang ayah membantunya dengan memberikan pekerjaan di perusahaan. Fia sudah begitu merindukan sahabatnya Liana.


Sebelum pulang, ia berencana akan mampir ke tempat Liana bekerja. Sekedar ingin mengetahui kabarnya. Mungkin, sekaligus meminta nomor ponselnya yang telah dihapus oleh mamanya.


Tiba di loby, Fia segera menanyakan keberadaan Liana pada pihak resepsionis. "Mbak, Bu Liana, ada, 'kan?" tanyanya.


"Oh, ada. Sebentar lagi, jam kantor habis. Mungkin, beliau akan segera turun juga," jawab resepsionis itu.


"Kalau gitu, saya tunggu di sini boleh, 'kan?"


"Silakan."


"Terima kasih." Fia segera melangkah ke sofa yang ada di loby. Sambil menunggu, ia membuka ponselnya.


Ada banyak nomor yang sudah dihapus oleh sang mama dari ponselnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tak lama, terdengar riuh suara para karyawan yang mulai meninggalkan gedung tempat mereka bekerja ini.


Fia menyimpan kembali ponselnya, lalu memperhatikan kedatangan Liana. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Orang yang dia tunggu akhirnya terlihat. Gegas ia berdiri dan menghampiri sahabatnya itu.


"Hai! Kangen, gak?" tanyanya seraya merangkul lengan Liana.


Liana terkejut melihat keberadaan Fia. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Fia. "Kok, Lo bisa ada di sini?" tanya Liana.


"Ye, kebiasaan. Ditanya malah nanya balik," sewot Fia.


"Gue di sini, karena kangen sama lo!" serunya.


"Selama ini, lo kemana aja? Dihubungi juga gak aktif."


"Ponsel gue disita mama. Gue bahkan gak boleh keluar," ujar Fia dengan memanyunkan bibirnya.


Liana terkekeh mendengar cerita sahabatnya itu. Setakut itukah ibumu, hingga tak membiarkanmu berteman dengan kakak tirinya sendiri? Takut, bila aibnya kukatakan pada putri tercinta, gumam Liana dalam hati.


"Kenapa Lo ketawa?" tanya Fia, saat melihat Liana menertawainya.


"Lucu aja. Setelah nyokap Lo ketemu gue, dia langsung bertindak begitu. Apa gue gak pantas temenan sama lo?" tanya Liana dengan nada mengejek. Bukan pada Fia. Melainkan dirinya sendiri.


"Nyokap itu, over protektif. Makanya gue minta sama papa buat bantu gue keluar."


Hah, tua Bangka itu rupanya yang buat Lo bisa ketemu gue. Sekarang, apa tujuannya? Tapi, selama nenek lampir itu masih hidup, dia gak bakal biarin anaknya dekat-dekat sama gue!


Terlalu asik dengan pikirannya sendiri, membuat Liana tak mendengar panggilan Fia. "Kenapa?" tanyanya saat sadar.


"Lo ngelamunin apa, sih?" tanyanya jengkel.


"Gak ada. Yuk, pulang. Gue mau nebeng. Gak bawa mobil soalnya," ujar Liana seraya menyeret Fia keluar.


Mereka saling bercanda sambil melangkah menuju parkiran. Namun, sebuah panggilan menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


"Sayang!"


Liana menghentikan langkahnya. Begitu pun dengan Fia. Melihat sahabatnya menoleh, Fia ikut menoleh. Liana tersenyum melihat kekasihnya itu.


"Maaf, aku gak ngabarin kamu, kalau mau jemput," ucap Andra.


"Gak apa, kok. Tapi, aku baru aja mau pulang bareng Fia," jawab Liana.


Andra menoleh, pada arah yang Liana tunjuk. Ia terkejut melihat gadis itu. Begitu pun Fia. Melihat keduanya saling terkejut, membuat dahi Liana berkerut.


"Kamu kenapa?" Liana menyentuh lengan Andra.


"Dia ini, bukannya yang pernah datang ke club' waktu itu, ya?"


Liana mengangguk membenarkan. "Terus kenapa kaget begitu?" cecar Liana.


"Gak apa, sih. Cuma, udah lama gak keliatan aja." Andra mulai terlihat biasa.


"Oh."


"Kalo lo, Fi?" Liana bertanya pada Fia.


"Gak. Gue kaget aja ada yang manggil 'sayang'. Ternyata, Lo udah punya pacar," ucap Fia.


Liana yang sejak tadi tak melepas tatapannya dari Fia, bisa melihat kesedihan di mata gadis itu. Apa lo suka sama cowok gue?


"Emang kita mau kemana?" tanya Liana pada Andra.


"Aku pengen ajak kamu ke cafe yang baru aku buka," jawab Andra.


Liana mengerutkan dahinya mendengar jawaban Andra. "Cafe yang kamu buka bareng sepupu kamu itu, bukan?"


Andra tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Ia mencubit pipi Liana gemas.


"Ingat ternyata," ucapnya.


"Inget dong. Apalagi, sama sepupu kamu yang dokter itu. Nyebelin," ujar Liana dengan wajah kesal.


Fia yang merasa diabaikan pun berdeham. Membuat pasangan itu mengalihkan perhatian padanya.


"Sorry, Fi. Lo, mau ikut kita?" tawar Liana.


"Tempatnya, di mana?" tanya Fia.


"Gak jauh dari sini. Kalau mau, ikutin mobil kita aja,"jawab Andra.


"Gini aja. Aku pergi bareng Fia aja. Nanti, kita ketemu di sana. Gimana?"

__ADS_1


"Gue ikut aja," jawab Fia.


"Ya udah. Hati-hati, ya." Andra mencuri ciuman di pipi kekasihnya.


Liana mendelik kesal melihat tingkah kekasihnya. Namun, Andra justru tertawa melihat tatapan yang menurutnya penuh cinta.


"Udah berapa lama kalian pacaran?" tanya Fia memecah kesunyian.


"Sekitar dua minggu," jawab Liana.


Kecanggungan terasa di dalam sana. Fia kembali terdiam. Ia seakan kehabisan topik pembicaraan. Liana sendiri, tak ingin membahas hubungannya dengan Andra. Bukankah ia berhak bahagia?


"Gue kira, Lo gak suka sama dia?"


"Perasaan itu, bisa berubah, 'kan?"


"Ya. Apa termasuk persahabatan kita?"


Liana terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Akan tetapi, sejak kejadian di mall dulu, hubungan mereka memang terasa berbeda.


"Gue gak pernah berubah," jawab Liana.


Obrolan mereka terhenti, saat Fia memarkirkan kendaraan di cafe yang mereka tuju. "Lo ... tau, 'kan, gue suka sama Andra sejak pertama ketemu?"


Lagi, pertanyaan itu tak langsung Liana jawab. Ia masih berdiam dan mungkin merangkai kata.


"Mungkin, alasan gue lebih terdengar sebagai sebuah alasan. Yang harus Lo tahu, Andra yang mengejar cinta gue!" Liana menatap sahabatnya.


"Hah! Terus, semudah itu Lo terima dia?" desis Fia.


"Fi, gue gak bisa gak jatuh cinta sama Andra. Dia adalah sosok yang selalu ada buat gue. Dia gak peduli seburuk apa sikap gue ke dia. Asal lo tahu, selama enam bulan, dia udah nembak gue sebanyak sepuluh kali. Sampai akhirnya, gue benar-benar gak bisa lagi berpaling," jelas Liana.


Mereka kembali berdiam. "Jadi, apa mau lo? Menyudahi persahabatan kita hanya karena Andra? Sepicik itu pikiran Lo?"


Liana memilih turun lebih dulu dari mobil Fia. Sementara Fia, meremas roda kemudinya erat. Dari dalam mobilnya, ia bisa melihat betapa Andra menyayangi Liana.


"Ya, mungkin ini bukan sepenuhnya salah Liana. Bagaimana pun, gue gak pernah mencoba mendekati Andra. Liana gak nikung gue. Iya." Fia terlihat sedang meyakinkan dirinya.


Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Menarik napas dalam, sebelum memutuskan keluar menyusul mereka. Ia pun melangkah memasuki cafe. Terlihat, Andra dan Liana duduk di dekat kaca. Fia pun menghampiri mereka.


"Sorry lama, tadi mama telepon," ucapnya.


Liana menatap canggung sahabatnya itu. Ia pun memilih menatap keluar.


"Gak apa, kok." Andra yang akhirnya menjawab.


Pria itu cukup peka, melihat perubahan sikap kedua sahabat itu. Apa mereka bertengkar?

__ADS_1


__ADS_2