Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Bersyukur tapi, dilema


__ADS_3

Liana menutup matanya sesaat. Mencoba meredam sesak yang menghimpitnya. Ia pergi dari gedung kantor yang sudah dikuasai sang ayah begitu saja. Hatinya terasa amat sakit, ketika mengetahui Sandi, sang ayah, hanya memanfaatkan dia.


Sial! Sebaiknya kukembalikan saham itu. Tidak ada gunanya aku membantu mereka! geram Liana dalam hati.


Gadis itu segera memacu kendaraannya secepat mungkin. Ia tak ingin menanggung beban yang tidak seharusnya.


"Mereka yang menguasai tapi, aku yang harus berkorban!" ucap Liana frustasi.


Tiba di rumah, Liana segera memarkir sembarangan mobilnya. Ia segera mencari keberadaan berkas saham yang sandi berikan padanya kemarin. Setelah menemukannya, ia segera menuju kantor sang ayah kembali.


Tak butuh waktu lama, Liana sampai di sana. Dengan langkah tergesa, ia segera menuju ruangan Sandi kembali. Sayangnya, langkah Liana terhenti saat bertemu dengan Fia. Hembusan napas lelah terdengar dari gadis itu.


"Lo ... udah balik?" tanya Fia.


"Menurut lo?" Liana melewati Fia begitu saja.


Rasa sakit di hatinya tak bisa hilang dengan begitu mudah. Fia mengikuti langkah Liana, hingga ke ruangan sang ayah. Sandi mengangkat pandangannya menatap Liana dan Fia yang masuk bersamaan. Tak ingin membuang waktu, Liana segera melempar berkas saham itu ke meja Sandi.


"Aku tidak sudih menerima saham itu, bila akhirnya kau menjualku!" ujar Liana.


"Saham?" Fia segera mengambil berkas itu dan membukanya.


Mata gadis itu membelalak lebar, melihat jumlah saham yang Liana miliki. Tatapannya meminta penjelasan dari sang ayah.


"Itu saham kecil yang dikumpulkan menjadi satu. Seseorang membelinya, dan menyerahkan semua saham itu pada Liana. Sementara saham lainnya, ada atas nama papa, mama dan kamu."


Fia memejamkan matanya sesaat. Hebat! Andra rela menggelontorkan uang sebanyak itu, demi membuat Liana kembali, gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Seseorang? Siapa?" tanya Liana.


"Orang yang ingin kau menikah dengannya. Dia bilang, itu adalah milikmu. Sementara investasi yang akan dia berikan, baru bisa terealisasi bila kalian menikah."


Liana semakin geram. Jawaban Sandi benar-benar tidak sesuai dengan pertanyaannya.


"Aku tidak peduli dengan investasi itu. Aku ingin tahu, siapa orang yang membeli saham itu. Kau mengerti?" Liana menekan setiap kata-katanya.


"Aku tidak bisa mengatakannya. Karena dia tidak pernah muncul sendiri. Dia bahkan menyuruh orang yang berbeda untuk menemuiku," jawab Sandi berbohong.


"Jadi, jalan satu-satunya menerima investasi, dan menjawab keingintahuanku adalah menerima pinangan pria itu?" tanya Liana lagi.


"Ya," jawab Sandi singkat.


"Liana, tolong bantu perusahaan sekali ini saja," pinta Fia.


Haruskah aku berkorban? Menikah? Hal ini tidak pernah ada dalam rencana hidupku. Apa yang harus Liana lakukan, Ma?


"Pikirkanlah dulu. Karena menikah, adalah seumur hidup."


Tawa Liana menyembur mendengar nasihat ayahnya. "Berkacalah pada dirimu sendiri. Apa kau melakukannya sekali seumur hidup? Tidak usah menceramahiku!"


Sandi tak lagi bicara. Ia tahu, sudah salah bicara pada Liana. Membuat gadis itu semakin membencinya.


"Katakan padanya. Aku bersedia," ucap Liana kemudian.


Tatapan Fia dan Sandi terangkat. Mereka menatap Liana lekat. Masih tidak percaya dengan apa yang Liana ucapkan. Pintu diketuk dari luar, membuat ketiganya menoleh bersama.

__ADS_1


Sandi meminta orang tersebut masuk. Terlihat seseorang yang tidak dikenal masuk.


"Anda, siapa?" tanya Sandi.


"Saya utusan Tuan yang akan menikahi Nona Liana. Tuan bilang, pernikahan dibatalkan. Karena tuan akan menikahi mantan kekasihnya di luar negeri besok."


Sandi terkejut mendengar berita itu. Ia tak menyangka, bila Andra tidak jadi menikahi Liana. Seketika, dadanya terasa sangat sakit.


"Lalu, bagaimana dengan saham yang dibeli untuk Liana?" tanya Sandi.


"Tuan bilang, itu untuk Nona Liana saja, sebagai kompensasi. Kalau begitu, saya permisi," pamit orang itu.


Sandi tak sanggup menerima kenyataan, bila perusahaan itu akan bangkrut. Ia pun jatuh pingsan. Liana dan Fia segera membawanya ke rumah sakit. Hati kecil Liana, tak tega melihat kondisi ayahnya yang melemah.


Fia segera mengabari ibunya, tentang kondisi sang ayah. Tak lupa, ia meminta Liana pergi dari sana, sebelum sang ibu datang. Sayang, pikiran Liana sedang tidak berada di tempatnya, hingga tak mendengar ucapan Fia.


"Bagaimana kondisi papamu?" tanya mama Fia.


"Masih diperiksa, Dokter, Ma," jawab Fia.


Pandangan mama Fia tertuju pada Liana. Ia menghampiri gadis itu. Tak segan, ia melayangkan tangan pada gadis itu. Liana tersadar dari lamunannya. Ia menatap mama Fia tajam.


"Apa? Kau benar-benar pembawa sial! Sebaiknya kau pergi dari sini!" usir mama Fia.


"Ma!" panggil Fia.


"Ini adalah awal karma untuk, Anda!" ucap Liana. Ia segera berbalik meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Rasa sakit di pipinya, tak sebanding dengan sakit di hatinya. Liana bersyukur, dia tak jadi menikah dengan orang yang tidak dikenalnya. Namun, pikirannya terganggu dengan keberlangsungan perusahaan.


__ADS_2