
Tidak ada yang salah dengan kata 'rindu'. Namun, hal itu terdengar menggelikan di telinga Liana saat ini. Selama 25 tahun kehidupannya, tidak pernah sekali pun, laku-laki di hadapannya ini mengatakan rindu. Lalu, ada apa dengan hari ini?
Otak Liana segera mencerna rencana di balik kedatangan pria itu. Bukan bermaksud untuk berburuk sangka. Namun, pria itu selalu datang menemuinya disaat ia membutuhkan bantuannya.
Contohnya saja, menjadi teman baik Fia saat SMA dulu. Kemudian, kejadian yang tidak pernah bisa ia lupakan, bahkan mendatangkan trauma mendalam saat itu adalah, ketika pria itu memohon pada ibunya untuk membiarkan Liana menemani istri keduanya bertemu seseorang di sebuah hotel. Di sanalah Liana hampir kehilangan kehormatan yang ia jaga.
Liana marah, sangat marah. Sejak itu, ia bertekad untuk tidak lagi membantu keluarga baru ayahnya. Ia bahkan harus menyembunyikan kejadian itu dari sang ibu. Bukan karena malu, tetapi ia tidak ingin membuat ibunya sakit. Ia sangat tahu, jika Diana, sang ibu, akan menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian yang menimpa dirinya.
Kali ini, Liana tidak akan lagi terperdaya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membantumu, batin Liana.
"Papa ...." Sandi menundukkan kepalanya dalam. Jemarinya saling bertautan.
Liana menghela napas dalam. Ia tahu, masalah kali ini pasti jauh lebih dari sebelumnya. Sesulit apa pun masalahmu, jangan harap aku akan membantumu!
"Cepat katakan! Aku lelah dan ingin beristirahat," ujarnya.
Gadis itu menyilangkan tangan di dadanya. Menatap ayah biologisnya lelah. Ditatap penuh intimidasi seperti itu, membuat Sandi teringat akan masa lalu.
__ADS_1
Dia pasti tidak akan membantuku. Aku sudah mengecewakannya beberapa kali, gumam Sandi.
Pada akhirnya, pria itu memilih pergi dari sana, tanpa mengucapkan maksud dan tujuannya menemui Liana. Sekali lagi, Liana menatap remeh pria itu.
"Dasar pengecut!" maki Liana lirih.
Gadis itu memasuki kamarnya, dan tidak mempedulikan sang ayah.
***
"Belum! Ada beberapa masalah yang tidak akan mudah untuk papa selesaikan. Biar Papa minta Andra sendiri yang membujuknya," jawab Sandi.
"Pa, cobalah bicara pada Liana. Aku yakin, dia pasti akan mengerti. Seandainya hubungan kami baik-baik saja, aku sendiri yang akan menyeretnya pulang," gerutu Fia.
"Sudahlah, Nak. Nanti, biar papa yang atasi."
Ucapan Sandi terasa menenangkan hati Fia. Karena itu, ia percaya sang ayah bisa menyelesaikannya dengan baik.
__ADS_1
Keesokkan harinya, Sandi kembali menemui Liana. Ia hanya menatap dari kejauhan gadis kesayangannya itu. Pada sore hari, Sandi melakukan hal yang sama. Lelah melihat keberadaan pria itu, Liana pun menghampirinya.
"Bicara jika kau ingin bicara. Jika tidak, silakan pergi! Merusak pemandangan ku saja," gerutu Liana.
"Bantu papa untuk yang terakhir kalinya. Papa janji, ini terakhir," pinta Sandi sendu.
"Hah, aku tidak lagi bisa mempercayai ucapanmu," desis Liana.
"Papa serius. Nasib karyawan kita, ada di tanganmu!"
"Di tanganku? Apa kau sudah lupa? Aku tidak punya bagian dalam perusahaan itu. Satu persen pun, aku tidak punya hak di sana. Lalu, bagaimana caraku membantu karyawan yang tidak bekerja denganku?"
Sandi menyimpulkan, jika Liana menolak keinginannya. "Oh, iya. Bukankah istri keduamu itu sangat membanggakan kejeniusan putrinya? Kenapa kau tidak meminta tolong padanya?"
Liana berjalan mengelilingi sang ayah. Sedetik kemudian, terbersit dalam benaknya, bila kali ini, mereka akan melakukan hal yang jauh lebih bodoh dari sebelumnya.
"Aku tahu. Kau lebih memilih menjualku untuk keselamatan perusahaan sialan itu, dibanding membuat anak tersayangmu menderita!"tutur Liana kesal.
__ADS_1