
Baru saja mereka menginjakkan kaki di rumah, sebuah mobil polisi datang memasuki halaman rumah mereka. Dia orang polisi menghampiri keduanya.
"Selamat malam. Kami mendapat laporan, bahwa, Ibu Liana hampir membunuh adik tirinya, Nona Fia." Polisi itu menyerahkan selembar surat.
Andra mengambilnya dan membaca isinya. Ia terkejut, ketika pelapornya adalah Fia sendiri. Belum sempat ia bereaksi, mereka sudah membawa Liana. Tidak ada raut ketakutan di wajah istrinya. Seakan, ia sudah mengetahui hal ini.
"Pak, tunggu dulu! Ini hanya kecelakaan. Saya saksi mata di tempat itu!" seru Andra.
"Anda bisa datang ke kantor polisi, untuk membuat keterangan," ujar polisi itu.
Mereka pun segera membawa Liana ke dalam mobil. Andra segera menghubungi seorang pengacara, untuk membantu Liana. Kemudian, meluncur mengikuti mobil polisi.
***
Mereka akhirnya tiba di kantor polisi. Di sana, pengacara yang Andra panggil sudah menunggu. Lian segera dibawa ke ruang pemeriksaan. Pengacara yang Andra panggil, mengikuti. Sementara Andra, menunggu di kursi lain.
Liana menjawab semua pertanyaan yang polisi ajukan. Ia akan menyanggah, bila pernyataan yang polisi lontarkan tidak sesuai dengan kejadian. Begitu pun sebaliknya, ia akan menjawab dengan lugas, setiap pernyataan yang tepat.
__ADS_1
"Baik, terima kasih untuk kerja sananya. Silakan tunggu sebentar. Kami akan memeriksa saksi lebih dulu," pinta seorang polisi yang baru saja memeriksa Liana.
Liana segera menuju kursi tunggu. Tak lama, pengacara yang andra minta untuk mendampingi datang. Ia meminta Liana menceritakan kejadian yang menimpa Dia secara detail. Belum sempat Liana bercerita, Dilan datang.
"Liana, apa yang terjadi?" tanya Dilan.
Hanya senyum yang Liana tunjukkan. Dari tempatnya, Andra bisa melihat kedatangan Dilan. Membuatnya tak fokus pada pertanyaan yang diajukan. Beberapa kali, Andra bahkan tak menjawab pertanyaan. Sampai akhirnya, ucapan Liana terngiang. Ucapan, yang meminta Andra, untuk membuatnya jatuh cinta lagi.
Tidak, Andra. Fokus. Kau harus membantu istrimu! Andra tak lagi menoleh. Ia menjawab setiap pertanyaan, hingga selesai.
"Sama-sama, Pak. Apa istri saya sudah bisa dibebaskan?" tanya Andra.
"Maaf, Pak, tidak bisa. Karena pistol yang dipakai untuk menembak, terdapat sidik jari Ibu Liana. Selain itu, proyektil dalam tubuh Nona Fia, sudah diangkat. Hal itu, menyebabkan beliau kehilangan salah satu indung telurnya. Hal ini, akan berimbas pada sistem reproduksinya kelak. Dari hasil visum, juga menyatakan, ada kekerasan yang diterima oleh Fia."
Mendengar penjelasan pihak berwajib, membuat Andra tak tenang. Apa ini maksud Liana? Membantunya mencari bukti, hingga membuatnya kembali jatuh cinta padaku? Benarkah itu?
"Apa dengan jaminan pun, tidak bisa? Saya akan menjaminnya. Berapa pun yang kalian minta!" seru Andra dengan semangat.
__ADS_1
"Kasus ini cukup serius. Sekali pun ditetapkan sebagai percobaan pembunuhan, tapi semua bisa berbalik, bila kami sudah melakukan olah TKP, dan menemukan bukti lain."
Andra terlihat berpikir keras untuk mengeluarkan sang istri dari sana. Sayangnya, keberadaan Dilan mengganggu pikiran Andra.
"Sial! Kehadirannya sangat mengganggu!" gumam Andra, yang hanya bisa didengar olehnya.
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan bicara dengan istri saya dulu," pinta Andra.
"Silakan."
Andra segera melangkah ke tempat Liana menunggu. Ia ingin menggunakan kuasa sang ayah. Namun, peringatan dari Liana, membuatnya tak bisa melakukan apa pun.
"Sayang," panggil Andra lirih.
Liana menoleh, menanti Andra melanjutkan ucapannya. Begitu pun dengan Dilan dan pengacara yang duduk di samping Liana. Ketiganya, masih menunggu ucapan Andra.
"Kau tidak bisa langsung keluar. Masalahnya, ada hasil visum dari mereka. Senjata yang kalian perebutkan pun, sudah ada pada polisi. Saat ini, sedang dalam proses pemeriksaan. Jadi, mereka tidak bisa membebaskanmu dengan mudah sekarang."
__ADS_1