Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Extra part: Lian Pratama Hartawan


__ADS_3

Setelah pemakaman Fia selesai, Liana tampak duduk termenung. Sejak Fia di rumah sakit, Andra dan Liana kembali ke kediaman mereka. Di tengah lamunannya, sepasang tangan datang memeluk dari belakang.


Liana menoleh dan tersenyum. Andra mengecup puncak kepala sang istri lembut. Kemudian, menempelkan dagunya di sana.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Andra. Matanya ikut menatap jauh seperti Liana.


"Aku sedang memikirkan hubungan kita," jawabnya.


Kerutan di dahi Andra terlihat jelas. Ia melepas pelukannya dan beralih ke depan sang istri. Menatap manik hitam milik Liana dalam.


"Memang, ada apa dengan hubungan kita? Bukankah baik-baik saja?"


Liana terkekeh mendengar ucapan Andra. Jika dilihat, memang tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Namun, Liana merasa lain.


"Kau ingat, bila kita menikah di atas kepentingan masing-masing? Ya, meski kuakui hanya aku yang seperti itu." Liana memulai pembicaraan.


"Itu benar. Kau yang memanfaatkan aku. Tapi, aku tidak keberatan sedikit pun karena aku memang mencintaimu," sela Andra.


Mata mereka saling beradu satu sama lain. "Aku tahu. Tapi, semua tetap tidak benar. Seharusnya, kita menikah karena cinta. Bahkan, kehadirannya pun bukan atas keinginan bersama." Liana mengusap perutnya yang sedikit lebih terlihat.


"Sayang, aku tahu aku salah selama ini. Terlalu banyak kesalahan yang sudah kulakukan padamu. Semua itu pasti menyakiti perasaanmu. Tapi, aku tidak ingin kehilangan kalian." Andra menyampaikan keinginannya.


Tidak ada balasan di Liana. Ia masih menatap wajah sang suami yang berdiri setengah membungkuk di hadapannya. Tangannya terulur dan menangkap wajah itu.


"Aku tidak bilang ingin berpisah. Sekalipun berpisah, hatiku tak akan bisa diisi pria lain. Kau ... sudah memenjarakan hatiku sejak kita putus."

__ADS_1


Senyum mengembang di wajah Andra. Ia menikmati sentuhan tangan Liana di wajahnya. Matanya terpejam meresapi setiap sentuhan Liana. Namun, sesaat kemudian, ia kembali membuka matanya.


"Tapi, aku ingin memulainya dari awal lagi," ucap Liana.


"Memulai dari awal?" ulang Andra. "Maksudnya?"


"Kali ini, kita mulai hubungan kita dengan cinta seperti dulu."


Andra segera memagut bibir Liana. Wanita itu pun membalasnya. Kali ini, Andra melakukannya dengan penuh cinta. Tidak ada amarah, atau pun ketakutan. Ia tahu, Liana hanya miliknya.


Karena sejujurnya sejak awal mereka tak bisa mengingkari hati masing-masing. Seperti Liana yang merasa hatinya terpenjara, begitu pula dengan Andra. Mereka, saling memenjarakan hati pasangan.


***


Hari kelahiran anak dari Andra dan Liana pun tiba. Mereka sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka. Bagi keduanya, kesehatan sang bayi jauh lebih penting.


Hanya Andra yang sibuk ke sana ke mari. Ingin rasanya ia berbagi kesakitan dengan sang istri. Karena hal itulah yang membuat Silviana menyuruh Andra terus menerus.


"Apa Andra gak capek nanti, Ma?" tanya Hartawan.


"Papa, tenang aja. Dari pada dia di sini, kerjaannya malah nangis. Yang ada, Liana bakal stress."


Hartawan terkekeh mendengar penuturan sang istri. Liana tak punya waktu untuk meladeni ucapan sang mertua. Karena kali ini, rasa sakit itu semakin kuat dan intens.


"Kenapa, Sayang? Makin sakit, ya?" tanya Silviana.

__ADS_1


"Iya, Ma." Liana mencengkeram lengan sofa kuat.


Tak lama, Andra terlihat masuk. Belum sempat ia menghampiri Liana, Silviana segera memintanya menyiapkan perlengkapan yang sudah Liana susun.


"Andra, bawa perlengkapan bayi kalian ke mobil. Mama dan papa akan bantu Liana masuk ke mobil. Jangan lupa suruh Mang Nanang yang nyetir!" titah Silviana beruntun.


Andra sempat bingung dengan semua ucapan sang ibu. Namun, saat melihat ayah dan ibunya bergerak menuju mobil, ia segera berlari ke kamar dan mengambil semua barang yang sudah Liana siapkan.


Tak lupa, meminta Mang Nanang, supir sekaligus bodyguard yang ditugaskan sang ayah menjaga mereka, untuk membawa mobil. Dalam perjalanan, Liana semakin mengerang kesakitan.


"Sabar, ya, Sayang," ucap Andra tak tega. Hatinya terasa hancur melihat Liana menahan sakit yang teramat sangat.


"Mang, ngebut sedikit. Aku gak kuat," ucap Liana tertahan.


"Iya, Non." Mang Nanang segera menancapkan gas sedalam mungkin. Meski dengan kecepatan penuh, beliau tetap hati-hati.


***


Setelah perjuangan selama tiga jam di ruang bersalin, kini Andra menangis haru melihat anak laki-laki yang telah dilahirkan Liana untuk dirinya. Berkali-kali ia mengecup kening sang istri penuh cinta.


"Dia mirip banget sama kamu," ucap Liana.


"Gak apa-apa. Asal sifatnya, menuruni kamu." Andra tersenyum.


"Itu lebih baik. Setidaknya, dia tidak akan mudah dibohongi," ejek Liana.

__ADS_1


Andra tertawa dan kembali mengecup kening sang istri lembut. "Welcome to the world baby Lian Pratama Hartawan," bisik Andra pada sang putra.


Inilah akhir kisah mereka. Sekalipun kebahagiaan telah hadir. Kerikil dalam rumah tangga tidaklah mudah untuk menghilang. Akan selalu ada kerikil yang menghalangi. Kini, mereka akan berjuang mempertahankan rumah tangga dan mengasuh anak mereka dengan baik.


__ADS_2