Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Rindu?


__ADS_3

Andra menempati kursi kebesarannya. Pertemuannya dengan Fia, membuatnya yakin, bila gadis itu sudah mengetahui rencananya. Saat ini, ia hanya tinggal melihat reaksi ibu gadis itu. Wanita yang selalu menyakiti Liana.


Akan kubuat kau bertekuk lutut pada Liana, gumamnya dalam hati.


Kemudian, Andra melanjutkan pekerjaannya. Ia memeriksa berbagai laporan. Fokusnya terusik, saat telepon berbunyi. Andra segera mengangkat panggilan itu.


"Ya," jawabnya.


"Tuan Sandi, menghubungi. Beliau ingin membahas masalah investasi kemarin dengan, Anda."


"Sambungkan," titahnya.


Panggilan pun tersambung pada Sandi. Pria itu segera menyampaikan maksudnya menghubungi Andra.


"Baik kalau begitu. Saya akan datang bersama orang tua saya. Karena, saya akan langsung melamarnya," jawab Andra menyanggupi.


Panggilan pun terputus. Andra tersenyum lebar. Ia tak sabar ingin melihat reaksi ibu dari Fia nanti. Tak ingin membuang waktu, ia memberi kabar pada papa dan mamanya. Mereka bersedia, menemani Andra ke sana, untuk melamar Liana.


***


Malam harinya, Andra sudah bersiap dengan setelan yang memukau. Terlihat sangat tampan dan berwibawa. Ibunya masuk dan tersenyum pada Andra lembut.


"Kamu yakin, dengan menggunakan cara ini, Liana mau menikah denganmu?" tanya sang mama.


"Mama, percaya Andra, 'kan?"


Mamanya menganggukkan kepala. Andra pun memeluk sang mama erat. "Andra gak akan kecewain, Mama."


"Ya, udah, Ayo, berangkat!" ajak mamanya.


Mereka segera menuju kediaman keluarga Sandi. Sandi dan sang istri menyambut mereka dengan ramah. Begitu pun dengan Fia. Meski Fia dan ayahnya, harus terlihat berpura-pura. Andra bisa melihat itu.


"Ayo, masuk. Tuan dan Nyonya," ucap istri Sandi.


"Terima kasih," ucap mereka ramah.


Mereka pun berkumpul di ruang tamu setelah makan malam bersama. Silvana, mama dari Andra, memuji masakan dari calon besannya. Hal itu membuat Yanti, ibu dari Fia, senang. Sementara Fia dan Sandi, sesekali menatap Andra yang terlihat datar.


"Begini, Tuan Sandi. Andra, putra kami, mengatakan ingin melamar putri, Anda, sebagai istrinya."


Ekspresi Fia dan Sandi berubah tegang. Berbeda dengan Yanti yang terlihat bersemangat. Raut bahagia terlihat jelas di wajahnya itu.

__ADS_1


"Fia pasti menerimanya, Tian, Nyonya. Apalagi, Nak Andra terlihat sangat tampan dan menawan. Mana ada gadis yang bisa menolaknya. Termasuk anak saya ini," ujar Yanti seraya merangkul pundak sang putri.


Silvana tersenyum manis. "Kalau begitu, di mana putri, Anda?" tanyanya.


Pertanyaan Silvana membuat dahi Yanti berkerut dalam. Apa dia tidak lihat keberadaan Fia? Tunggu, apa maksud semuanya ini. Sejak awal mereka datang, mereka seakan tak menganggap keberadaan Fia di sini, ucapnya dalam hati.


"Putri saya hanya satu," ucapnya kemudian.


"Bukankah, Tuan Sandi memiliki putri yang lain?" tanya Hartawan.


Tatapan Andra beralih pada ibu dari Fia. Wajahnya terlihat menahan amarah. Tebakanku benar. Dia adalah orang yang serakah. Karena itu, dia merebut seluruh harta yang Liana miliki. Entah dengan ayah Liana ini. Apakah dia terlibat, atau tidak.


"Tapi, sudah hampir satu tahun ini kami mencarinya. Entah di mana dia berada."


"Sayang sekali. Andra sudah menyiapkan uang satu milyar untuk mas kawinnya." Hartawan menghela napas lelah.


"Tuan, gadis itu bukan anak suami saya. Dia hanya anak yang tidak jelas asal usulnya," ucap Yanti menahan amarah.


Silvana menatap Yanti tajam. Ia sudah mencari tahu semu yang berhubungan dengan Liana. "Benarkah? Andra, mama mau kamu menikah dengan gadis yang tepat. Contohnya, Liana," ucap Silvana.


Ia sengaja menyebutkan nama Liana di depan mereka. Benar saja dugaan mereka. Hanya Fia dan ayahnya yang menundukkan kepala. Sementara Yanti terlihat mengepalkan tangan erat. Kebencian terpancar jelas di wajah wanita itu.


"Apa orang terhormat seperti, Anda, tidak malu nantinya, punya menantu seperti dia?" tanyanya.


"Kenapa malu? Dia anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Saya justru sangat menyukainya. Ibunya juga orang yang lembut dan baik hati." Silvana menyebut segala sisi baik Liana.


"Dia itu anak haram! Gara-gara dia rumah tangga saya hampir hancur berantakan!" pekik Yanti.


"Jaga mulutmu, Yanti! Dia putri sah ku. Mengerti!" Sandi menepis ucapan Yanti mengenai Liana.


Melihat situasi yang tak kondusif, membuat Andra mengambil keputusan. "Begini saja. Saya hanya akan menikahi Liana. Cari dan temukan dia secepat mungkin. Dia tidak boleh tahu, jika saya ingin menikahinya. Jangan biarkan istri, Anda, mengacaukan rencana ini. Bila rencana pernikahan ini gagal, maka saya jamin, tidak akan ada perusahaan mana pun yang mau berinvestasi di sana. Anda, tahu akhirnya, 'kan?"


Andra dan keluarganya segera meninggalkan kediaman Sandi. Silvana dan hartawan menggeleng melihat kelakuan ibu tiri Liana.


"Pantas saja Liana memilih pergi. Dia pasti sudah mengusirnya. Apalagi, Liana tak punya kuasa untuk melawan mereka," ucap sang ayah.


"Papa benar. Karena itu, aku harus melindungi Liana. Sayangnya, dia tidak pernah suka dilindungi atau dikasihani."


"Bagaimana caramu memberitahu keberadaan Liana pada pria itu?" tanya sang ayah.


"Papa tenang aja. Andra sudah memikirkan semuanya."

__ADS_1


Dalam perjalanan, Silvana hanya diam dengan pandangan keluar m


jendela. Hartawan menepuk pundak istrinya lembut.


"Papa tahu, Mama, sedih melihat keluarga Liana. Karena itu, kita harus mengeluarkannya."


"Papa benar, Ma. Mama, sabar, ya. Andra sedang berusaha," ujar Andra.


Silvana pun menganggukkan kepala.


***


Keesokkan harinya, Sandi menerima sebuah paket. Tidak ada nama pengirim yang tertera di sana. Sandi segera membuka amplop itu. Di sana ada beberapa foto Liana. Ada juga alamat Liana tinggal dan kantornya.


Ada kebanggaan tersendiri di hati Sandi melihat keberhasilan Liana. Gadis kecilnya, bisa bekerja di anak perusahaan milik keluarga Hartawan di kota kecil. Belum lagi, jabatan yang ia emban.


Siapa yang mengirim ini padaku? tanyanya dalam hati.


"Tidak masalah siapa pun. Aku akan menemui Liana. Nasib karyawan ada di tangannya. Semoga saja, dia mau membantuku," ujarnya.


Sandi segera menuju tempat yang tertulis di sana. Ia harus menyelamatkan perusahaannya. Paling tidak, memberikan pesangon yang pantas pada karyawannya.


***


Liana baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Rasa lelah membuatnya ingin merebahkan tubuh. Ia pun bergegas pulang ke kosannya. Tiba di sana, tubuh Liana membeku.


Pria yang sudah tak diharapkannya kembali muncul. Untuk apa dia di sini? Kenapa pula dia ada di kota kecil seperti ini?


Liana berusaha untuk tidak mempedulikannya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar kosnya.


"Liana," panggil Sandi.


"Untuk apa Anda ke sini?" tanyanya tajam.


"Papa merindukanmu, Nak," ucapnya sendu.


Liana mengangkat sebelah alisnya. "Kau tidak sedang mabuk, 'kan?"


Sandi tak menjawab. Ia mendekatkan langkahnya pada sang putri. "Papa benar-benar merindukanmu. Bahkan, papa selalu mencarimu."


Liana bisa melihat tatapan kerinduan di sana. Namun, entah mengapa ia tak tersentuh sedikit pun.

__ADS_1


"Apa tujuanmu ke sini?"


Liana segera melontarkan pertanyaan itu. Membuat Sandi tersentak.


__ADS_2