
Pikiran Liana seketika mengarah pada sosok yang mungkin, kini bersemayam dalam tubuhnya. Perlahan, tangan liana terulur mengusap perut ratanya. Ia pun mencoba mengingat, kapan kali terakhir tamu bulanannya datang.
Sepertinya, sudah lama aku tidak datang bulan. Liana memijit pelipisnya.
"Ayo, cepat. Aku tidak mau mendengar ceramah ibu negara lagi malam ini. Aku lelah!" seru Andra.
Liana memicingkan mata melihat raut wajah Andra. Terlihat jelas, Andra begitu lelah. Rasa iba, membuat Liana tak tega.
"Ya, sudah. Ayo," ajak Liana. Ia segera membereskan meja kerjanya. Kemudian, mereka menuju parkiran bersama.
Melihat wajah Andra yang berubah pucat dan tak bertenaga, Liana mencadangkan tangannya. Kedua alis Andra terangkat tinggi.
"Kunci mobil," ujar Liana.
"Oh. Aku saja yang bawa," jawabnya lirih.
Melihat Andra yang bersikeras ingin membawa mobil tersebut, Liana segera menahan pintu. Matanya menatap nyalang pada sang suami. Tak ingin berdebat, Andra menyerahkan kunci itu pada Liana. Ia pun memutar dan masuk ke kursi penumpang.
__ADS_1
Ia segera menyandarkan kepala, begitu menutup pintu dengan rapat. Liana mendengus kesal, melihat Andra tak memakai seat beltnya. Ia pun menahan napas, kemudian memajukan tubuhnya.
"Kau mau apa?" tanya Andra bingung.
Tak ada jawaban, hingga Liana selesai memasang seat belt, lalu membuka atap mobil. Andra tak sedikit pun protes. Ya, mobil milik Andra, memang di desain dengan fungsi convertible, hingga ia bisa menghirup udara bebas.
Mobil mulai melaju, meninggalkan gedung perkantoran. Andra pun menyebutkan nama rumah sakit yang akan mereka tuju. Liana menganggukkan kepala. Dalam perjalanan, Andra tertidur lelap. Liana meliriknya dengan ekor mata. Sudut bibir Liana terangkat.
Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Andra masih tertidur pulas. Apa dia tidak tidur semalam? gumam Liana dalam hati.
"Andra, bangun," panggil Liana.
"Siapa nama Dokternya?" tanya Liana.
"Dokter Alya," jawabnya singkat.
"Sudah. Kamu tunggu di sini. Biar aku saja yang temui Dokter," ujarnya.
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku harus ikut!" Andra membuka seat belt. Kemudian, dia menuju toilet terdekat.
Liana hanya mengikuti dari belakang. Ia menunggu Andra, tak jauh dari toilet. Hanya dalam lima menit, Andra sudah keluar lagi dari sana. Mereka segera menuju lantai dua, tempat Liana akan melakukan pemeriksaan. Saat tiba, mereka diminta menunggu panggilan.
Keduanya saling terdiam. Andra menatap beberapa wanita yang ada di sana. Matanya berkedip cepat. Ini ... tempat pemeriksaan ibu hamil?
Ia segera menoleh ke arah Liana. Wanita itu tak peduli dengan tatapan yang Andra arahkan padanya. Liana hanya membaca majalah kehamilan, yang tersedia di sana.
"Kamu hamil?" bisik Andra.
Dengan acuh, Liana hanya mengendikkan bahunya. "Kau yang membawaku ke sini. Seharusnya, kau yang lebih tahu!" jawabnya.
Kalau mama memintaku membawa Liana ke sini, itu artinya .... Andra tak melanjutkan pemikirannya. Hatinya merasa bahagia, bila tebakannya itu benar.
Lima menit kemudian, perawat memanggil nama Liana. Andra merangkul pinggang sang istri, membuat Liana menatap bingung. Namun, mereka tetap memasuki ruang pemeriksaan.
Seorang Dokter wanita, menyambut mereka dengan senyuman ramah. Merekapun melakukan serangkaian pemeriksaan. Pertama, Liana diminta untuk menggunakan test pack. Ia menunggu beberapa menit, untuk melihat hasil yang ditunjukkan test pack.
__ADS_1
Matanya berembun, melihat garis dua yang terlihat di test pack itu.