Penjara Hati Sang Mantan

Penjara Hati Sang Mantan
Peka


__ADS_3

Disebuah rumah sakit, Fia melempar gelas yang ada di atas mejanya, hingga hancur. Kabar Liana yang dibebaskan, sudah sampai di telinga gadis itu. Ia menatap marah pada dinding di hadapannya.


"Gara-gara dia, aku harus kehilangan rahimku!" geram Fia. Gadis itu mengepalkan tangannya erat.


Saat ia tertembak kemarin, ternyata peluru itu menembus rahimnya. Membuat sisa proyektil yang bersarang di sana, menghancurkan rahim milik Fia. Karena itu, Dokter mengangkat rahimnya, dan membersihkan serpihan proyektil dari dalam tubuh Fia.


Gadis itu segera menghubungi seseorang di seberang sana. Memaki orang tersebut dengan kasar. Lalu, menutup telepon secara sepihak. Sandi yang baru datang bersama perawat yang Liana sewa, menatap bingung ruangan itu.


"Ada apa, Fia?" tanyanya.


Dengan isyarat tangannya, Sandi meminta perawat meninggalkan ruangan. Perawat pun mematuhinya. Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Sandi mendekati sang putri.


"Kenapa kau melemparkan barang-barang lagi? Bukankah keinginanmu sudah tercapai?" Sandi berbicara pelan.


"Tercapai?" ulang Fia. Terlihat senyum mengejek di ujung bibir gadis itu. Ia kembali menatap sang ayah kesal. "Jika benar tercapai, seharusnya Liana akan membusuk di penjara sana! Kenapa sekarang dia bisa bebas?" Fia berteriak marah.


Sandi mengerutkan dahinya. "Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" tanya Sandi.


"Yang pasti, informasi ini dipastikan valid. Tidak ada yang bisa kuragukan!" Nada suara Fia terdengar jengkel.

__ADS_1


"Sudahlah. Mungkin, ini sudah waktunya balasan untuk kita semua," ucap Sandi lirih.


Mendengar ucapan sang ayah, ia merasa marah. "Balasan? Aku tidak melakukan apa pun padanya. Aku hanya menginginkan Andra. Tidak pernah aku menginginkan perusahaan milik ibunya itu!"


"Dan kau rela membunuh Liana, hanya untuk memenuhi obsesimu? Kau gila!" maki Sandi.


"Ya, aku memang gila! Dan itu semua, aku contoh dari kalian. Kalian yang gila harta, gila kedudukan, gila hormat!" Fia berteriak marah.


"Ya! Karena itu, sekarang aku kehilangan harta, kedudukan, dan kehormatanku. Bahkan, putri kandungku sendiri, membenci diriku." Sandi menitikkan air matanya.


Fia berdecih kesal melihat wajah sang ayah yang menunjukkan kesedihan. Malas melihat wajahnya yang bersedih atas semua kehilangannya, Fia memilih membuang pandangan.


***


Liana membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan. Andra sendiri, masih bergelung nyaman di bawah selimut. Liana tengah mengiris bawang saat ia merasakan sakit kepala. Sepertinya, ini efek kurang tidur kemarin. Kepalaku sakit, gumamnya.


"Kenapa, Sayang? Kok, tiba-tiba pucat begitu?" tanya Silviana.


"Gak apa, kok, Ma. Mungkin, efek kurang tidur beberapa hari ini," ujar Liana.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kamu bangunkan Andra, lalu kembali istirahat saja. Nanti, mama suruh Andra membawa sarapan ke kamar. Jaga kesehatan kamu, Sayang." Silviana mengusap lengan menantunya sayang.


"Iya, Ma. Liana, naik dulu, ya," pamit Liana.


Silviana menganggukkan kepala. Ia mengambil alih pekerjaan Liana. Sementara itu saat Liana masuk ke kamar, ia tak melihat keberadaan Andra.


"Loh, apa sudah bangun?" Liana mendekati pintu kamar mandi. Terdengar suara gemericik air dari dalam.


Liana pun menyiapkan pakaian untuk Andra kenakan. Namun, penciuman Liana yang peka, bisa merasakan aroma sabun yang menguar di sekitarnya. Segera, Liana berbalik dan menutup hidung. Andra terkejut melihat reaksi Liana.


"Menjauh dariku! Kau bau!" umpat Liana.


Andra mencium aroma tubuhnya sendiri. "Tidak ada yang bau, kok," gumamnya.


"Sayang, aku udah mandi, loh," ucap Andra begitu melihat Liana yang berbaring kembali di atas ranjang.


"Andra! Diam di tempatmu, atau kupukul?" ancam Liana.


Melihat tatapan garang Liana, Andra tahu, istrinya tidak sedang mengancam biasa. Ada apa dengan Liana? Tidak biasanya.

__ADS_1



__ADS_2