Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Sebelas


__ADS_3

"Jadi cara untuk memperbaiki hubungan kita kakak haru membebaskan kamu sama teman-teman kamu?"


Tanya Noah setelah berfikir cukup lama.


"Iya, kakak kasih aku ruang. Jangan terlalu membatasi pergerakan aku, kasih aku kepercayaan kak"


Evelyn sedikit melunak, Ia berharap Noah bisa sedikit melonggarkan aturan untuknya. Karena ia pun sangat berharap bisa terus bersama Noah.


Namun ia juga butuh mengekspresikan diri dan bergaul seluas-luasnya. Karena tidak selamanya ia hanya akan bersama Noah.


"Tapi kakak harap kamu bisa jaga jarak sama Darrel sayang. Kakak nggak mau sampai kamu berpaling sama dia"


"Iya kak, Dibanding kakak Darrel nggak ada apa-apanya."


Noah tersenyum senang mendengar pernyataan kekasihnya. Meski berat ia akan mencoba mengurangi sisi posesif nya terhadap Eve.


Noah harus berusaha memberikan kepercayaan untuk Evelyn, walau jauh di lubuk hatinya ia tidak rela jika harus membebaskan pergaulan Evelyn, dia hanya ingin memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri.


"Iya Ve, kakak akan berusaha lebih mengerti kebutuhan kamu" Noah berusaha menekan rasa tidak rela di hatinya.


"Sebagai langkah awal besok biarin aku pulang sama teman-teman"


Ucap Evelyn tegas. Noah ingin memprotes tapi sepertinya melatih kesabaran dirinya harus dimulai sejak sekarang.


"Baiklah, tapi ingat jaga batasan dan jaga diri. kakak nggak mau terjadi apa-apa sama Eve"


Evelyn tersenyum kemudian menghambur ke dalam pelukan Noah.


Dalam hatinya ia bersyukur Noah mau bernegosiasi. Sejujurnya Evelyn takut Noah akan melepaskannya setelah mendengar kejujuran darinya.


****


Noah menatap tidak rela saat gadis yang selalu bersamanya kini tertawa riang pulang bersama teman-temannya.


'Apa memang sebahagia itu kamu bersama mereka Eve? apa selama bersama aku kamu tidak pernah bahagia?'


Noah tersenyum getir, mengingat rasanya Evelyn tak pernah tertawa selepas itu.

__ADS_1


Jika ditarik ke belakang karena ia mendekati Evelyn, Gadis itu di musuhi di sekolahnya hingga tak memiliki teman dan diasingkan. Ia mengira cukup bagi Evelyn memiliki dirinya sendiri. Namun Faktanya kekasihnya itu diam-diam kesepian.


Noah meremas rambutnya dengan kuat. Diam-diam ia memang memantau Evelyn dari kejauhan karena gadis itu menolak untuk dijemput pulang.


Hatinya begitu tidak tenang, ia tidak tau harus berapa lama bagi dirinya untuk terbiasa merelakan Evelyn bergaul bersama teman-temannya. Sepertinya ia juga harus mulai membuka diri untuk lebih sering berinteraksi dengan teman-temannya.


Sebuah mobil terlihat menjemput Eve dan kedua sahabatnya, Noah menghidupkan mobilnya dan mulai mengikuti Eve.


Noah mengutuk keadaan ini, keadaan di mana ia harus berubah menjadi penguntit yang mengikuti pacarnya sendiri secara diam-diam.


'Sayang, tidak bisakah kita seperti biasanya?' keluh Noah frustasi. Ternyata terlalu mencintai seseorang itu amat merepotkan. Selalu dihantui ketakutan yang tak jelas.


Mobil Evelyn berhenti di sebuah kafe langganan mereka. di sana mereka bisa mengobrol santai sambil mendengar live musik. ditambah lagi harga makanan dan minuman di sana sangat ramah terhadap kantong mereka. Karena itu banyak mahasiswa seperti mereka menjadikan kafe tersebut sebagai tongkrongan favorit


Noah mengeratkan rahang nya saat mengetahui bahwa yang menjemput Evelyn bersama dua sahabatnya adalah Darrel. ada satu pria lagi yang tak Noah ketahui.


Noah berusaha mendinginkan otaknya agar tak terlalu berfikir negatif pada Eve. Ia sudah berjanji untuk percaya pada kekasihnya. Meski berat Noah memutuskan untuk pergi dan tak jadi ikut masuk untuk memantau Evelyn.


***


"Tumben bisa bebas padahal Noah uda pulang"


"Aku uda bicara sama dia, mulai sekarang dia nggak akan terlalu mengatur aku"


Evelyn tersenyum tipis.


"Kok bisa?" tanya Mona dan Aira bersamaan.


"Malam kemaren aku ketauan pergi, dia pulang tiba-tiba tanpa ngabarin aku dulu. Seperti biasa dia protes, tapi kali ini aku nggak diam aja. aku keluarin unek-unek aku selama ini. Syukurnya dia setuju untuk kasih aku sedikit kebebasan"


Evelyn bercerita dengan santai. Ia menyesap jus strawberry pesanannya.


"Syukur dech kalo gitu, tapi tetap jaga batasan Ve. kamu harus jaga perasaan dia. Jangan sampe lebih banyak waktu buat kita dibanding buat Noah. ditinggalin baru tau rasa"


Ucap Aira.


"Ya biarin lah Ra, uda bertahun-tahun si Eve ada dalam genggaman Noah. Banyak hal yang uda Eve lewatkan. Sekarang saatnya dia menikmati hidup"

__ADS_1


Timpal Darrel.


"Ya tapi tetap aja, Eve punya pasangan yang harus dijaga perasaan nya. beda kayak kita yang jomblo." Ucap Aira lagi. Sejak awal gadis itu memang tidak pernah menghakimi sifat posesif Noah. Baginya sah-sah saja jika pria itu melakukannya atas dasar cinta. Ditambah lagi sifat Noah baik, bertanggung jawab dan nggak pernah kasar meski sedang marah.


"Uda dong, nggak usah bahas aku sama Noah terus. Itu urusan aku, jadi percuma aku bebas kalo bahasan kalian masih seputar Noah."


"Iya nich, nggak bosan apa Noah mulu yang dibahas."


Berbeda dengan Aira, sejak mendapat cerita bagaimana posesifnya Noah terhadap Eve membuat Mona begitu anti pada Noah. Ia paling tidak suka ada orang yang membatasi pergerakan orang lain meskipun itu pacarnya sendiri.


"Diam ah, kamu emang nggak pernah pacaran jadi nggak ngerti gimana rasanya dicuekin pacar. Eve punya pacar ganteng kelewatan mana perhatian lagi malah ngerasa tersiksa. Aku aja uda kangen di sayang-sayang karena kelamaan jomblo."


Keluh Aira yang dibalas cebikan sini teman-temannya.


"Eh gimana kalau kita pacaran aja? Kayaknya kamu nyenengin dan dewasa. Aku pasti akan sayangin kamu terus" Celetuk Marcell yang sejak tadi hanya menyimak obrolan mereka.


Aira menatap Marcell sambil memanyunkan bibirnya


"Kamu nembak aku? kok nggak romantis banget tiba-tiba gitu"


Marcell menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Eve dan yang lain seketika terbahak.


"Marcell emang suka langsung pada intinya Ra, nggak suka basa basi. Jadi kalo kamu ngerasa sukaending terima aja" Saran Darrel sambil menahan tawa.


"Terima aja Ra" Mona ikut menambahi.


"Main terima-terima aja, Marcell nya serius nggak. Kalo serius akunya mau"


Ucap Aira sambil terkekeh.


"Ya udah deal ya, jadi mulai sekarang Marcell pacarnya Aira" Ucap Marcell mantap. Eve dan ketiga sahabatnya melongo mendengar ucapan Marcell.


"Ini beneran?"


"Iya, kita coba pacaran ya" Jawab Marcell. Ia menatap sungguh-sungguh pada Aira agar gadis itu percaya bahwa ia memang ingin menjadikan Aira pacarnya. Beberapa waktu sering nongkrong bareng ia mulai tertarik pada Aira walaupun ia harus mengakui belum bisa untuk dikatakan cinta. Namun ia yakin hubungan mereka akan berhasil.


"Iya dech aku mau" Ucap Aira santai. Evelyn, Mona dan Darrel masih melongo, tak percaya se simple dan secepat itu proses mereka jadian.

__ADS_1


"Jadi Jangan jauh-jauh dong pacar. Ayo sini duduk dekat abang" Marcell mengerling pada Aira, di sambut cebikan sini dari yang lainnya. Sementara Aira yang tak peduli justeru tanpa malu berpindah duduk menempel pada Marcell.


"Gimana kalo Darrel sama Mona jadian juga?" Usul Evelyn yang mendapat pelototan dari Mona sementara Darrel hanya tertawa santai.


__ADS_2