Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tiga Puluh


__ADS_3

"Eve, aku seneng banget kamu ada di sini" Ucap Syahira yang membuat Evelyn menatap Syahira dan tersenyum tipis


"Sejak dulu aku menginginkan seorang adik, karena aku anak tunggal yang sering merasa kesepian. Aku juga nggak tau rasa sayang aku ke kamu muncul begitu saja" Syahira menatap pada Evelyn, gadis itu tersenyum setelah berhasil menguasai dirinya.


"Makasih ya kak, kakak uda baik banget sama aku" Evelyn menatap tulus pada Syahira.


"Eve, Kamu mau nggak tinggal di sini terus? bantu urusin anak ini kalo dia uda lahir?" Syahira mengusap perut buncitnya. Kali ini Evelyn menatap dalam pada Syahira, berusaha mencerna maksud dari ucapan wanita itu.


"Kok gitu kak?" Tanya Eve akhirnya.


"Nggak tau ya Ve, kakak ngerasa yakin dan tenang aja kalo kamu yang urus. Mau ya?" Syahira menatap Eve penuh permohonan. Ia menggenggam tangan Evelyn erat.


"Emang kakak mau ke mana? nanti kalo dia udah lahir dan kakak butuh bantuan ngomong aja. Tapi aku nggak bisa kalo harus tinggal di sini" Hati Eve masih terus mengukir nama Noah dan tak mau berhenti memuja pria itu. Evelyn sangat ingin menghapus semua perasaan nya. Ia tak mau menjadi wanita tak tau diri yang masih menyimpan nama pria yang sudah beristri di hatinya. Tapi ia tak memiliki kuasa untuk itu.


"Menikahlah dengan Noah Ve" kalimat sulit itu akhirnya terucap. Syahira sudah menduga respon Evelyn yang terlihat sangat terkejut.


"Aku yakin Noah masih mencintai kamu Eve" Evelyn tertegun, tak habis fikir Syahira bisa mengucapkan itu semua.


"Hanya bersama kamu dia bahagia Evelyn percayalah. Jadilah istrinya dan sempurnakan kebahagiaan nya" Ucap Evelyn lagi

__ADS_1


"Maaf harus mengatakan ini kak. Ucapan kakak sama sekali nggak masuk akal. Kak Syahira adalah istri kak Noah, tidak pantas kakak berbicara seperti ini. Tidak mungkin kak Noah menikahi kak Syahira jika dia masih cinta sama aku" Evelyn berusaha meredam perasaan nya. Gadis itu terus membangun akal sehatnya saat merasa egonya mulai beraksi melumpuhkan empatinya. Tawaran Syahira begitu menggiurkan untuk dirinya yang memang masih mencintai pria itu.


"Aku ikhlas berbagi Eve. Kamu sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Kita bisa menjalani rumah tangga ini bersama-sama. Percayalah cinta Noah padamu tidak pernah hilang " Syahira terus menggenggam tangan Eve untuk meyakinkan nya bahwa ia benar-benar menginginkan Evelyn menikah dengan Noah.


"Tidak ada wanita yang benar-benar ikhlas berbagi hati kak. Aku nggak tau alasan kakak melakukan ini, mungkin kakak tau pernah ada kisah antara aku dan kak Noah dulu. Tapi kakak harus tau hubungan aku dan kak Noah sudah berakhir. Begitupun perasaan kami sudah usai saat kak Noah mengucap ikrar pernikahan bersama kakak. Aku tidak pernah berfikir untuk berada di antara kalian. Aku ingin membangun rumah tanggaku sendiri. Percayalah kak Noah menikahi kakak karena dia mencintai kak Syahira. Dan kak Noah tidak pernah mencintai dua orang dalam satu waktu, Kak Noah bukan pria yang seperti itu kak" Entahlah, apa tujuan Syahira berbicara seperti ini. Ingin menguji Evelyn atau ini adalah wujud kecemburuan seorang istri Eve tak tau pastinya.


"Iya kami sangat memahami Noah kan? dia tidak pernah mencintai dua wanita secara bersamaan. Aku setuju dengan pernyataan kamu, dan percayalah wanita itu adalah kamu. Noah Tidak pernah melupakan kamu Eve, dia hanya berhasil menyimpan dan mengingkari perasaan nya. Berhasil mengalihkan perhatian nya. Namun di kedalaman hatinya posisi kamu tetap sama. Noah hanya kehilangan harapan padamu karena nya ia mencoba membuka hatinya buat aku. Dia hanya ingin melanjutkan hidupnya karena ia beranggapan bahwa kamu tidak menginginkannya lagi. Tapi aku sebagai wanita bisa melihat kamu juga masih mencintai Noah. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi cinta sejati menemukan pemiliknya Eve. Noah memang berhasil menipu setiap orang bahkan menipu dirinya sendiri seolah ia telah mampu berpaling dari perasaan nya padamu. Tapi aku tidak bisa ditipu Eve. Dia hanya menganggap aku sebagai sahabat, menghargai keberadaanku yang menemaninya saat tersulitnya dan menganggap bahwa itu cinta."


Evelyn menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Sungguh ucapan Syahira begitu menggiurkan. Hatinya mulai goyah, tidak bisa dibohongi bahwa ia berharap apa yang Syahira ucapkan adalah kebenaran.


"Fikirkanlah Eve. Bayi yang ada dikandungan ku juga membutuhkan mu" Bisik Syahira, Ia beranjak meninggalkan Evelyn yang masih terpaku, otaknya terus berfikir berusaha mencerna setiap kalimat yang Syahira ucapkan.


Evelyn berjalan menuju meja makan.Wajahnya terlihat kuyu karena semalaman tak bisa terpejam lantaran ucapan Syahira terus mengganggu dirinya. Jika bukan karena asisten rumah tangga telah berulang kali memanggilnya untuk makan Eve lebih memilih untuk berbaring di kamar.


"Kamu sakit Eve?" Sapa Syahira dengan khawatir. Noah seperti biasa menatap dirinya dengan raut wajah tak terbaca. Diam-diam Evelyn menertawakan dirinya sendiri yang sempat berharap bahwa ucapan Syahira benar adanya. Namun melihat ekspresi pria itu serta cara Noah menatap dirinya tak nampak sama sekali binar cinta di sana.


"Aku hanya kurang tidur kak" Evelyn duduk di kursi yang berhadapan dengan Syahira. Menuangkan susu ke dalam gelasnya, ia sama sekali tidak nyaman dengan kondisi ini, harus berada di rumah orang asing yang tak memiliki ikatan darah dengan nya.


"Jangan terlalu banyak berfikir Eve. Fikir kan kesehatan kamu. Aku tau tidak mudah, tapi jangan berhenti berusaha mengikhlaskan kedua orang tua kamu agar kamu bisa lebih tenang. Hidup tidak berhenti hanya sampai di sini, kamu masih harus melanjutkan hidup kamu" Ucap Noah, pria itu berfikir Evelyn kurang tidur karena masih bersedih atas kepergian orang tuanya. Memang tidak sepenuhnya salah hanya saja ucapan Syahira lah pemicu utama nya.

__ADS_1


"Iya kak makasih" Ucap Eve dengan senyum terpaksa.


"Eve, Jangan ragu untuk berbagi keluh kesah. Kami selalu siap mendengarkan" Tambah Syahira lagi.


"Iya makasih kak. Oh ya kak, hari ini aku mau pamit. Aku mau pulang sudah terlalu lama aku berada di sini." Ucap Evelyn. Tekadnya Sudah bulat untuk pergi dari kehidupan Syahira dan Noah, sudah hampir dua minggu ia berada di rumah ini. Ia takut hatinya goyah dan menerima tawaran Syahira jika terus melihat Noah.


"Eve, aku mohon tinggal lah di sini." Syahira terlihat tidak rela membiarkan Evelyn pergi.


"Syahira, jangan seperti ini. Jangan memaksa Evelyn, dia berhak menentukan hidupnya" Ucap Noah sambil menatap istrinya.


"Tapi mas, aku nggak mau kamu kehilangan Evelyn lagi" Ucap Syahira dengan wajah sedih. Noah dan Evelyn saling memandang, terkejut akan ucapan Syahira.


"Syahira, sudahlah jangan mulai lagi aku mohon." Tegas Noah sambil menatap tajam pada istrinya. Ia tidak mau Syahira membahas tentang permintaan konyolnya di depan Evelyn.


"Jangan pergi Eve. Bayi ini membutuhkan kamu" Syahira mengiba.


"Tolong jangan konyol Syahira"


"Mas, mintalah Evelyn untuk tetap di sini mas" Noah bertambah bingung akan sikap Syahira yang semakin tidak masuk akal. Sementara Evelyn tak bisa berkata apapun menyaksikan Perdebatan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


__ADS_2