
"Mas kenapa baru pulang?" Eve menatap sedih suaminya, matanya sudah berkaca-kaca.
"Maaf sayang, tapi bukan kah aku sudah memberitahumu bahwa beberapa hari ke depan pasti akan sibuk sekali" Noah menarik Eve ke dalam pelukan nya, mengusap dengan lembut kepala istrinya.
"Sepertinya bukan karena itu" Eve melepaskan pelukan Noah kemudian berjalan menjauhi Noah.
"Sayang jangan mulai lagi dong" Noah menyusul Eve dan menggenggam erat tangan nya. Usia kehamilan yang memasuki bulan ke 6 Eve sudah tidak mual muntah lagi, namun Noah merasa Eve semakin sensitif dan juga posesif.
"Aku tau mas lebih suka di kantor karena di sana mas bisa memandangi pegawai yang cantik dan langsing, berbeda saat pulang ke rumah hanya mendapati istri yang gendut dan kusam tidak terawat" Ucap Eve dengan emosi.
Noah menghela nafasnya, berusaha untuk menekan rasa kesal di hatinya. Ini bukan tuduhan pertama, hampir setiap Noah pulang dari kantor Eve akan bersikap seperti ini.
Hari ini Noah sangat lelah, ingin sekali diperlakukan manis oleh sang istri bukan mendapat tuduhan yang tidak beralasan.
"Sayang, apa menurutmu aku pria brengs*k? apa aku seburuk itu?" Ucap Noah, ia merasa harus sedikit tegas agar Eve tidak terus-terusan dihantui ketakutan yang tidak berdasar.
"Mau sampai kapan terus mencurigai ku Eve? sampai kapan terus melukai hatimu sendiri dengan prasangka mu itu? Sejak dulu sampai sekarang hatiku tidak pernah bisa berpaling pada wanita lain, rasanya sudah ribuan kali aku mengatakan nya dan tanpa diberitahu sekalipun kamu juga sangat tau itu sayang" Ucap Noah tegas namun tetap berusaha ia sampaikan selembut mungkin. Ia tau rasa cemburu Evelyn yang berlebihan karena pengaruh kehamilan nya.
"Semenjak perutku sudah mulai besar dan tubuhku membengkak di mana-mana kamu sibuk sekali di kantor, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Jadi kecurigaan ku bukan tidak berdasar mas" Sepertinya perang masih berlanjut, Eve belum mau berdamai dan terus melayangkan protes.
"Sayang maaf kalau aku terlalu sibuk, tapi sama sekali bukan karena perubahan pada tubuhmu melainkan memang sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa aku wakilkan. Mau seperti apapun bentuk tubuhmu di mata ku kamu tetap yang terindah. Jangan pernah ragukan perasaanku, bentuk tubuhmu bukan lah tolak ukur perasaanku. Cintaku tidak sedangkal itu" Noah menatap Eve, berharap istrinya bisa melihat dalamnya perasaan yang ia miliki lewat pancaran matanya.
__ADS_1
"Dulu kamu bisa berpaling pada kak Syahira begitu cepat mas, tidak menutup kemungkinan kali ini pun sama. Perasaan mu padaku tidak sebesar itu" Mata Noah membulat penuh, tak percaya Eve akan mengungkit masa lalunya dengan Syahira. Entah mengapa kali ini emosi Noah tersulut.
"Kamu yang meninggalkan ku lebih dulu Eve, mencampakkan dan membuang ku dengan kejam. Aku kira kamu sama sekali tidak menginginkan ku lagi makanya aku mencoba untuk membuka hatiku pada wanita lain. Bukan kah dulu kamu mengatakan bahwa kamu tersiksa bersama ku? apa aku harus memaksa untuk tetap mempertahankan mu sementara kamu sangat menderita? aku sangat mencintai mu karena itu aku melepaskan mu" Noah menghela nafas berat.
"Pembicaraan kita sudah tidak sehat sayang, istirahatlah" Lanjut Noah untuk kemudian melangkah keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Eve yang masih terpaku mencerna setiap ucapan Noah.
****
Mata Evelyn membengkak karena menangis, hampir tengah malam Noah belum juga kembali ke kamar mereka. Eve menyadari bahwa ucapan nya sudah keterlaluan sehingga membuat suaminya merasa tersinggung.
Evelyn tak mengerti kenapa kata-kata itu bisa meluncur dari bibir nya, namun ia bisa memastikan ucapan itu sama sekali bukan berasal dari hatinya.
Eve mengubah posisinya menjadi duduk, ia menyadari tak akan bisa melewati malam dengan nyaman tanpa keberadaan Noah. Ia butuh dekapan pria itu seperti ratusan malam yang telah mereka lewati.
Namun langkah Eve terhenti saat melihat sosok Noah yang sedang berjalan dan menatap ke arahnya, Pria itu memperpanjang langkah nya dan langsung menarik tubuh Evelyn ke dalam dekapan nya. Ia menciumi puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Maaf" Kata itu keluar dari bibir pria itu hingga membuat tubuh Evelyn bergetar, ia tak mampu menahan tangisnya.
"Maafkan aku sayang"Lagi-lagi kata maaf yang terucap dari bibir Noah membuat Evelyn semakin bersalah.
"A-aku yang seharusnya meminta maaf padamu mas, aku yang bersalah" Ucap Eve sambil terisak.
__ADS_1
"Tidak seharusnya aku mengungkit masalah itu, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa mengucapkannya. Tapi aku bersumpah kata-kata itu hanya ada di bibirku, tak pernah terbesit di hatiku sedikitpun mas" Eve menarik diri dan menatap pada Noah dengan berurai air mata. Senyum tersungging dari bibir Noah, ia dengan lembut menghapus lelehan air mata di pipi Eve yang mulai sedikit chubby.
"Aku yang bersalah sayang tidak seharusnya aku marah dan mengambil hati ucapan mu, harusnya aku bisa lebih sabar menghadapi sikap mu yang sedang tidak stabil. Maaf aku terlalu kekanak-kanakan sayang maafkan aku." Ucap Noah lembut sambil mengusap rambut Evelyn.
"Tidak mas, aku yang terlalu berlebihan. Harusnya aku bisa langsung mengatakan bahwa aku merindukan mu dan tidak bisa berlama-lama jauh dari kamu, bukan malah mengungkapkan nya dengan kemarahan dan berucap sembarangan" Balas Evelyn.
"Aku juga terlalu berlebihan merespon nya sayang, aku ini suami yang payah. Aku tidak peka dan malah sibuk dengan ketersinggungan ku, padahal kamu sudah mengalami banyak kesulitan dalam menjalani kehamilan mu ini" Noah menangkup wajah Eve dan menciuminya berkali-kali.
"Tidak sayang akulah..." Ucapan Evelyn terhenti karena Noah membungkam ucapan nya dengan kecupan di bibirnya.
"Berhenti saling menyalahkan diri sendiri sayang, kita akan terus berdebat sampai pagi" Ucap Noah sambil terkekeh.
"Aku akan belajar untuk lebih peka dan bisa mengerti setiap keinginan istriku. Beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untukmu ya? Aku akui masih banyak sekali kekurangan dalam menjalankan kan peranku, tapi satu hal jangan pernah ragukan besarnya cintaku padamu. Mata, hati dan seluruh jiwaku telah dipenuhi olehmu sejak dulu. Tak akan ada tempat bagi wanita lain selain dirimu" Lanjut Noah, air mata haru tak mampu Evelyn tahan melihat kesungguhan suaminya.
"Mas sudah menjadi suami yang sangat baik dan sempurna untukku. Aku juga akan belajar menjadi istri yang baik untukmu, istri yang bisa memahami suaminya dalam segala kondisi dan situasi." Noah tersenyum dan kembali memeluk erat tubuh Evelyn.
"Sudah sangat malam, ayo kita tidur" Bisik Noah sembari melepaskan pelukan nya. Ia melingkarkan tangan di pinggang Eve dan menuntun nya menuju kamar tidur mereka.
"Mas jangan tinggalkan aku ya, aku tidak bisa tidur sendirian" Ucap Evelyn manja, Noah terkekeh mendengar penuturan sang istri.
"Iya sayang, maaf sempat meninggalkan mu tadi." Bisik Noah sambil mendaratkan kecupan di seluruh wajah Evelyn.
__ADS_1
***