Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Dua Puluh Lima


__ADS_3

Evelyn terus berlari dengan kencang di lorong rumah sakit, tak peduli pada mata yang menatap heran, Tak peduli berapa kali ia harus terjatuh. Eve hanya ingin sampai di ruang tempat mamanya di rawat.


Dunia belum berhenti mempermainkan nya, saat sedang jam istirahat Eve melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor sang mama satu jam yang lalu, Evelyn mengerutkan kening nya. Tak biasanya mama nya menelfon berkali-kali saat jam ia bekerja. Dengan cepat Evelyn menekan tombol memanggil pada ponselnya namun ketika telfon tersambung bukan suara wanita tercinta nya yang ia dengar, melainkan suara seorang pria yang mengabarkan bahwa mama nya menjadi korban tabrak lari dan sekarang ada di rumah sakit. Pria itu tak menjelaskan kondisi mamanya hanya meminta Evelyn datang ke rumah sakit yang ia sebutkan.


"Jangan lagi ya Tuhan, ku mohon jangan" Wajah bersimbah air mata itu terus memohon kala firasat buruk memenuhi fikiran nya, bayangan sang papa kembali lekat di otaknya melemahkan segala persendian nya. Namun keinginan untuk cepat sampai membuat ia melawan ketidak berdayaan nya.


Bruk!!


Eve terjatuh ketika tubuhnya menabrak seseorang, dengan sisah tenaga pada tubuh letih nya Eve bangun dengan cepat tanpa menoleh wajah terkejut orang yang bertabrakan dengan nya. Ia kembali berlari, entah kenapa jalan nya terasa lamban dan IGD terasa amat jauh membuat air mata Evelyn semakin deras mengalir. Ia teramat frustasi, rasa sakit yang menusuk hatinya seakan ingin membunuhnya dengan sadis.


Gadis itu terlalu kacau hingga tak menyadari bahwa seseorang yang ia tabrak adalah Noah, laki-laki yang masih menghuni hatinya hingga kini, laki-laki yang merenggut tidur nya hampir di setiap malam, laki-laki yang kerap menghadirkan kegelisahan di malam-malam panjang nya. Entahlah apa ia akan merasa lebih baik atau sebaliknya jika ia menyadari keberadaan Noah yang masih memperhatikan langkah nya yang terburu-buru.Yang pasti fokusnya kali ini tak lagi tentang siapapun, ia hanya ingin cepat tiba dan mendapati mama nya baik-baik saja.


"Mas, Eve kenapa? dia kelihatan kacau banget" Syahira yang bersama Noah sehabis memeriksakan kandungan nya ikut terkejut dengan pergerakan Eve yang begitu cepat, terlebih melihat air mata yang memenuhi wajah pucat gadis itu


"Aku nggak tau, ayo pulang" Noah menggenggam tangan Syahira sambil tersenyum, namun Syahira sadar senyum itu tampak tertahan mata pria itu menunjukkan rasa penasaran dan jangan lupakan ada kekhawatiran yang besar di sana.


"Kita susul Evelyn mas" Tegas Syahira membuat Noah menatap dalam istrinya.


"Mas, kamu kenal Eve. Bahkan kamu pernah mencintainya jadi sangat wajar jika peduli dan khawatir dengan kondisinya barusan. Aku nggak akan bilang bahwa kamu masih mencintainya. Ini demi kemanusiaan mas"

__ADS_1


Syahira tidak ingin Noah pura-pura tidak peduli, semua tampak jelas bahwa Noah sangat mengkhawatirkan Evelyn.


Noah mengangguk membuat senyum tulus tersungging di bibir Syahira.


"Syahira, kamu baik banget. Aku beruntung punya istri sebaik kamu" Ucap Noah sambil merangkul istrinya. "Makasih mas, aku yang lebih beruntung memiliki kamu" Mereka berbalik arah, berjalan ke arah langkah Evelyn yang sudah tak terlihat lagi. Mereka berjalan perlahan mengingat perut Syahira yang telah membuncit membuat pergerakan wanita itu sedikit lebih lambat.


****


Nafas Evelyn memburu saat tiba di ruangan yang si penelfon sebutkan.


"Kamu Evelyn anak ibu yang aku telfon?" Tanya seorang pria yang cukup berumur pada Evelyn.


Evelyn mengusap dadanya saat ia tiba di ruangan itu, Ia seperti mengulang waktu ketika ia menyaksikan tubuh kaku pria yang menjadi cinta pertamanya. Pria itu pergi tanpa sempat berucap kata perpisahan. Ia menggelengkan kepalanya, tak ingin kejadian kelam itu kembali menyapanya. Evelyn melemparkan pandangan ke seluruh ruangan.


Namun ia tak mendapati mamanya.


"Mama kamu bukan di sini" Ucapan Pria yang tadi menelfon Eve membuat Evelyn menatap cepat pada pria itu.


"Mama saya uda di pindah ke ruang perawatan? di mana pak?" Tanya Evelyn tak sabar.

__ADS_1


"Ayo ikut" Ucap Pria itu sambil menatap Eve. Evelyn segera memalingkan wajah nya, ia tak suka melihat tatapan iba pria itu.


Evelyn mengikuti langkah pria itu, gadis itu ingin menolak percaya saat pria itu membawanya ke sebuah kamar Jenazah. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, air matanya berlomba keluar semakin banyak.


"Enggak, mama nggak mungkin ada di sini kan pak?" Ucap Evelyn dengan wajah memucat. Berharap pria di hadapan nya sedang bercanda padanya.


"Sabar ya?" Evelyn kembali menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia tidak ingin mendengar kalimat itu. Hantaman itu terlalu kuat menimpa jiwa rapuhnya.


"Mama nggak mungkin ninggalin aku" Eve masih ingin menentang fakta, Tuhan tak mungkin mengambil semua yang ia miliki, Tuhan tak mungkin membiarkan ia sendirian di dunia ini. Ini pasti salah, ia membangun keyakinan bahwa mamanya hanya tertidur. Dengan tekad kuat ia masuk ke ruang Jenazah itu, hanya ada satu jenazah tertutup kain warna putih.


"Mama pasti sesak ditutupi kain begini" Dengan keyakinan penuh bahwa sang mama hanya tertidur Eve menyingkap dengan cepat kain yang menutupi tubuh wanita yang ia cintai.


"Aku selalu iri sama kecantikan mama, bagaimana bisa ada orang tertidur dengan wajah secantik ini" Ucap Eve sambil mengusap lembut pipi mamanya. Bibirnya tersenyum, namun hatinya meronta sakit. Meski otak memaksa Eve untuk menyadari realita namun jiwanya tetap tak terima.


"Mama, yang mana yang sakit? Bangun ya ma, kita pindah ke kamar rawat aja. Yakinkan mereka bahwa mama hanya tidur. Mereka salah menidurkan mama di sini. Lihat saja nanti Eve marahi mereka. Yuk ma bangun" Eve menciumi wajah pucat sang mama yang terasa begitu dingin.


Pria yang sejak tadi menemaninya memalingkan wajahnya, tak tega melihat gadis itu, tak ada jeritan dan tangisan pilu. Hanya ada seorang anak yang tengah membujuk ibunya untuk terbangun dari tidur abadinya, namun pemandangan itu jauh lebih menyakitkan untuk disaksikan.


"Eve..." Noah berbisik lirih. Pria itu kini berada di ruangan yang sama dengan Eve. Sebelumnya Noah yang saat tiba di IGD melihat Eve dan seorang pria keluar dari ruangan mengikuti langkah mereka, ia tercekat saat mendapati tempat yang mereka tuju adalah kamar jenazah. Rasa penasaran menyeruak di benak nya tentang siapa yang Evelyn temui di ruangan itu.

__ADS_1


Hingga ia memberanikan diri untuk masuk dan menyaksikan segala kesakitan Evelyn dari awal. Hatinya terasa remuk menyaksikan badai yang tengah menyapu gadis yang pernah ada di hidupnya itu.


__ADS_2