Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Dear Adikku Evelyn


Hai Eve, apa kabar?


Entah harus menunggu berapa lama tapi aku lega akhirnya surat ini sampai juga di tangan mu.


Tak menyangka kita harus bersua dengan cara ini, saat aku dan kamu sudah berada pada dimensi yang berbeda. Tapi semoga kamu tetap bisa merasakan perasaan sayangku padamu yang tetap hidup meski aku sudah tiada.


Eve, saat membaca surat ini aku berharap perasaan mu terhadap Noah masih sama. Aku berharap dirimu masih seperti Evelyn yang sebelumnya, yang belum dimiliki oleh siapapun. Aku menaruh harap yang teramat besar takdir akan mempersatukan Evelyn dan Noah lagi. semoga kehadiran Cilla bisa menjadi perekat dan bukan penghalang.


Eve...


Aku yakin hingga detik ini Noah tak pernah mengatakan permintaan terakhirku. Apa keyakinan ku benar adanya? Noah belum mengatakan apapun kan Eve? ah pasti tebakan ku tepat sekali.


Eve...


Kembalilah pada Noah, renda kembali hubungan kalian yang sempat terberai. Jangan menyangka karena Cilla, tidak Eve. Aku menginginkan ini atas nama cinta Evelyn dan Noah yang begitu ku yakini tak pernah padam. Noah memang tak mengatakannya, tapi aku sangat memahami di kedalaman hatinya cinta untukmu tak pernah berubah.


Kembalilah bersama nya Eve, bantu Noah mengembalikan kepercayaan dirinya yang terlanjur tenggelam. Ia terus mengingkari hatinya karena ia tak percaya dirinya mampu memberimu kebahagiaan. Anggapan bahwa kamu sangat menderita saat bersamanya begitu melekat di alam bawah sadarnya hingga ia seringkali mengabaikan rindu yang mendera hatinya atas dirimu. Dia sangat mencintaimu Eve, Beri laki-laki itu kebahagiaan karena hanya kamu wanita yang selalu mengisi hatinya dan mampu memberikannya kebahagiaan utuh dan sempurna.


Berbahagialah bersama nya Eve, Aku titipkan bidadari kecilku padamu. Aku tak memaksa meminta mu membawa serta Cilla dalam hidupmu dan Noah. Jika Cilla bisa menjadi pelengkap kebahagiaan kalian, aku ucapkan terimakasih dari hatiku yang paling dalam. Doa dan keikhlasanku akan selalu mengiringi perjalanan kalian..


With Love Syahira


Air mata tak mampu Evelyn tahan sejak detik pertama ia membaca tulisan itu, dadanya terasa sesak membayangkan saat Syahira menulis surat untuknya. Betapa kecantikan wajah Syahira begitu selaras dengan kecantikan hatinya. Di saat terakhirnya ia masih memikirkan kebahagiaan orang-orang yang ia sayangi. Beberapa kali Evelyn harus berhenti membaca untuk menghapus air mata yang mengaburkan pandangannya


Lelehan bening terus menyusuri pipinya meski ia telah usai membaca, Evelyn berusaha mencerna setiap kata yang tertuang dalam surat itu, haruskah ia percaya bahwa Noah masih terus mencintainya? Tapi sikap Noah? Atau sikap dingin Noah tersebut merupakan imbas dari rasa sakitnya di masa lalu?


Terlalu banyak berfikir dan menangis membuat kepala gadis itu berdenyut sakit, Evelyn memejamkan matanya untuk meredakan nyeri yang menyerang. Gadis itu menarik nafasnya dan menghembuskan dengan perlahan, Ia berusaha mengurai kekusutan perasaan nya agar lebih tenang.

__ADS_1


'Jangan terburu-buru Eve, tenangkan hati dan perasaan mu. Jangan gegabah menentukan langkah'


Evelyn berusaha mensugesti diri sendiri hingga akhirnya ia terlelap.


***


Evelyn membuka matanya saat mendengar bel kamarnya berbunyi. Entah berapa lama ia terlelap, namun ia merasa tubuhnya terasa lebih segar dan ringan. Sesaat Evelyn melirik jam di tangannya, jarum jam menunjukkan angka 5. Ternyata cukup lama ia terlelap.


Evelyn melangkah cepat menuju pintu, tak ingin membiarkan orang yang memencet bel kamarnya menunggu lebih lama.


Hati gadis itu berdesir halus saat melihat sosok yang tengah menatapnya dengan senyum tipis. Belum lagi saat sosok mungil dalam gendongan pria itu langsung mengangkat tangannya untuk berpindah masuk ke dalam dekapan Evelyn.


"Mama kenapa pelgi" Terlihat mata Cilla yang memerah menandakan ia baru saja menangis


"Cup cup, maaf ya. Tadi mama ada kerjaan sebentar makanya pergi pas Cilla bobok" Evelyn menciumi pipi montok gadis kecil itu.


"Ehem Maaf Eve, apa kami mengganggu?" Pria itu menginterupsi obrolan dua gadis beda generasi itu dengan raut wajah yang merasa bersalah.


"Lagi-lagi aku harus merepotkan kamu karena Cilla benar-benar nggak mau berhenti menangis karena terus mencari kamu"


"Kak aku beneran marah ya kali ini. Kok kakak nggak bisa dibilangin?"


Evelyn menatap tajam pada Noah yang terus saja merasa merepotkan dirinya.


"Bukan begitu maksud aku Eve"


Noah merasa salah tingkah saat melihat wajah kesal Evelyn.


"Ehem, kamu pasti belum makan kan? kita makan dulu yuk?" Noah berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Mama Cilla lapel, mamam cama mama"


Ah Noah lega fokus Evelyn kembali pada rengekan manja Cilla.


"Iya, Cilla bisa tunggu sebentar nggak? mama belum mandi. Tuh bau acem kan? mama cuma sebentar kok mandinya. Cilla sama papa dulu ya?" Noah terpana mendengar Evelyn begitu ringan menyebut dirinya mama di depan Cilla. Ada desiran aneh memenuhi hatinya mendengarkan percakapan mereka.


"Kak, titip Cilla sebentar aku mau mandi dulu. Nggak apa-apa kan?"


Noah hanya mengangguk, ia masih terpana hingga tak bisa berucap apapun saat Evelyn berpamitan padanya.


***


Noah menatap dalam pada dua sosok yang ada di hadapannya. Tawa Riang Cilla serta senyum tulus Evelyn adalah pemandangan yang begitu indah di mata Noah. Noah tak menyangka Evelyn telah banyak berubah, gadis itu begitu telaten mengurusi Cilla meski pertemuan mereka terbilang begitu singkat. bahkan belum genap seminggu mereka saling mengenal namun kedekatan mereka sudah terjalin demikian erat.


Noah termenung cukup lama hingga ia tak menyadari sejak kapan suasana mulai hening, tidak lagi terdengar suara tawa Cilla akibat godaan Evelyn. Pemandangan sebelumnya telah berubah, kini terlihat Cilla yang memandangi wajah Evelyn dengan mata yang redup akibat kantuk sementara Evelyn bernyanyi kecil sambil mengusap kepala Cilla agar ia tertidur.


Yah mereka kini berada di kamar Cilla. Karena Cilla yang tak ingin lepas dari Eve akhirnya gadis itu memutuskan untuk ikut pulang ke rumah Noah selepas makan malam mereka di sebuah restoran. Noah mati-matian menahan bibirnya agar tak mengucap maaf karena telah merepotkan Evelyn.


"Kakak kenapa masih di sini?"


Noah tersentak dari lamunan nya saat mendengar sapaan Evelyn.


"Cilla udah tidur?" Tanya Noah seraya mengangkat kepalanya menatap ke arah tempat tidur Cilla.


"Iya udah tidur. Kakak juga buruan istirahat, ini uda malam"


"Iya Eve. Makasih ya uda nemenin Cilla" Noah beranjak menuju ranjang Cilla, memandangi putrinya kemudian mendaratkan kecupan di wajah buah hatinya itu. Ia lalu berbalik menuju pintu namun sebelumnya ia menghentikan langkahnya di depan Evelyn.


"Kamu juga istirahat ya, sekali lagi terimakasih sudah menemani Cilla" Bisikan lembut Noah membuat Evelyn terhanyut. Matanya menatap dalam pada sosok Noah yang juga menatap dirinya. Cukup lama saling memandang, mata mereka seakan tengah bercengkrama saling mengungkapkan rindu yang telah begitu lama terpendam.

__ADS_1


"Selamat malam Eve" Noah mengusap lembut pipi gadis itu kemudian mendaratkan kecupan di kening Evelyn sebelum akhirnya keluar dari kamar Cilla menuju kamarnya. Meninggalkan Evelyn yang masih termangu meresapi apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2