
Semakin dekat Eve semakin kesulitan bernafas, air matanya semakin banyak menggenang hingga mengaburkan pandangan nya. Ia butuh pertolongan untuk menyelamatkan nya pada situasi ini.
Berulang kali menarik nafas dan menghembuskan nya tak banyak membantu, ingin Eve menjerit putus asa.
"Mau pesan apa bapak dan ibu? " Dedi lebih dulu menyapa mereka dengan ramah. Inisiatif Dedi memberikan kelegaan di hati Eve, setidak nya ia tak perlu berbicara untuk saat ini atau air mata nya akan tumpah saat itu juga. Eve memiliki sedikit jeda untuk menenangkan hatinya.
Eve mengulas senyum sambil berdiri tegak di samping Dedi, menyiapkan catatan untuk pesanan Noah dan istrinya. Tangan Eve mencatat dengan lincah saat suara Noah yang terdengar sangat merdu di telinga Eve menyebutkan pesanan nya. Tubuhnya berdesir setelah sekian lama ia kembali mendengar suara yang kerap mengucapkan kata cinta padanya dulu.
Kelembutan dan panggilan mesra itu dapat Eve dengar kembali namun kini ditujukan pada orang lain, dan hati Eve menggeliat sakit akan hal itu.
"Baik bapak ibu, pesanan akan segera kami antar. Kami permisi" Keduanya membungkukkan badan sebelum undur diri dari ruangan itu. Eve menatap lurus ke depan, ia tak sanggup untuk memandang Noah dan istrinya, hatinya masih terlalu lemah untuk melakukan itu.
"Kamu baik-baik saja Ve?" Tanya Dedi saat keduanya telah keluar dari ruangan di mana tempat Noah kini berada. Sebelumnya Pria itu mampu menangkap hal yang tidak beres pada Eve karena nya ia mengambil inisiatif menyapa tamu.
"Aku baik-baik aja Ded" Namun suara bergetar Eve dan genangan air mata yang sedikit lagi akan tumpah menyusuri pipi gadis yang tampak letih itu cukup menjadi jawaban bahwa Eve tengah berbohong.
"Nanti yang antar pesanan ke ruangan itu aku ajak yang lain aja ya. Kamu istirahat aja dulu, Tenangkan diri kamu Ve"
Eve menghela nafas kemudian mengangguk, lebih baik tak memaksakan diri karena ini tak mudah untuknya. Ia belum siap berhadapan dengan Noah, mengingat status pria itu saat ini. Ia tak ingin menimbulkan prasangka serta ketidak nyamanan bagi istri Noah dengan sikapnya jika nanti ia tiba-tiba tak bisa mengendalikan dirinya.
Meski ia dan Noah telah lama usai, namun sebagai sesama wanita Eve sangat mengerti pasti akan timbul ketidak nyamanan di hati wanita itu melihat suami dan mantan pacarnya bertemu, terlebih Eve yakin perasaan cinta nya pada Noah mampu terbaca jelas oleh orang lain. Mungkin lebih baik ia menghindar dulu sampai ia bisa menata hatinya dengan baik.
Eve memilih melayani tamu yang lain, dan Dedi telah mengajak rekan Eve yang lain untuk menemaninya mengantarkan pesanan pada Noah dan istrinya.
__ADS_1
Eve merasa gelisah, karena nya gadis itu memutuskan pergi menuju ke toilet karyawan. Ia memandangi wajahnya di cermin, Ia berusaha mengukir senyum namun malah tangisan yang keluar. Gadis itu tak bisa lagi menahan luka yang menyiksanya, Eve harus menumpahkan semua sesak.
Ia merindukan Noah, andai status Noah masih sama tak peduli meski Noah menolak nya ia tetap akan menghambur dan memeluk pria itu dengan erat. Jiwanya meronta mengharapkan pelepasan rindu. Namun Eve tak berdaya untuk menentang bahwa rindunya sudah terlarang. Bahkan sudah seharusnya Eve menghapus semua kenangan dan cinta di hatinya.
****
"Ve, tadi tamunya nanyain kamu lagi. Tapi aku bilang kamu uda pulang duluan karena lagi nggak enak badan" Eve menatap Dedi seolah ingin meyakinkan bahwa pria itu tidak sedang berbohong.
"Maaf ya, melihat reaksi kamu sebelumnya aku kira kamu belum ingin bertemu dengan mereka. Makanya aku bohong, aku salah nggak Ve?" Ucap pria itu lagi.
"Iya Ded, makasih ya"
Namun otak Eve tak bisa dihentikan untuk terus mempertanyakan kenapa Noah menanyakan dirinya. Eve menghela nafas dan menghembuskan nya dengan kasar.
Evelyn mengangguk, Ia memang butuh istirahat sekarang. Tidak hanya tubuh nya yang capek namun hati dan perasaannya pun tengah letih.
Eve kembali tak bisa menghalangi air matanya yang ingin jatuh, merindukan seseorang namun untuk sekedar memandang saja sudah terlarang baginya itu rasanya teramat menyakitkan.
'Tenanglah Eve, setidaknya Noah baik-baik saja. Ia sudah bahagia bersama wanita yang tepat' Eve kembali berusaha mengukir senyum di tengah derai air matanya. Ternyata rasanya semakin sakit.
Kening Eve berkerut saat ingatan nya kembali membawanya pada saat ia melihat Noah dan wanitanya, Karena terlalu sibuk menenangkan hatinya Eve tak terlalu menggubris ada yang yang lain pada istri Noah. Dan sekarang tiba-tiba ia penasaran dengan ingatan nya tentang wanita itu, rasa penasaran nya membuat Eve menunggu dengan gelisah.
30 menit berlalu dengan kehampaan Dedi akhirnya memanggil Eve, mengatakan bahwa Noah dan wanitanya telah keluar.
__ADS_1
"Ded, Tadi wanita yang di ruang VIP lagi hamil ya?" Tanya Eve hati-hati, Dedi terlihat berfikir membuat Eve tak sabar mendengar jawaban atas rasa penasaran nya.
"Iya lagi hamil, Suaminya sabar banget tadi nyuapin istrinya. Lagi ngidam kayaknya"
Terasa ada petir yang menyambar dan meluluhkan tubuhnya, Evelyn merosot terduduk di lantai.
'Hancur sudah semuanya.'
"Eve kamu kenapa sebenarnya? dia siapa?"
Dedi tampak panik melihat Eve yang menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Pundak gadis itu bergetar menandakan ia tengah menangis kencang.
"Ve? masih kuat buat lanjutin kerja nggak? pulang aja ya?" Bujuk Dedi lembut, pria itu memang begitu baik, Eve cukup dekat dengan Dedi.
Eve tetap dengan posisinya, terus menangis untuk menghalau segala kesakitan yang mendera, Kini ia merasa semakin hampa. Dedi akhirnya diam namun tak beranjak meninggalkan gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Ia memutuskan untuk membiarkan Eve menangis sepuasnya.
Sesaat kemudian Eve seperti tertampar ketika otaknya mempertanyakan sikap Eve, 'Kenapa harus menangisi kehamilan wanita itu? hamil atau tidak tetap tak akan mengubah fakta bahwa Noah sudah tidak boleh ia harapkan lagi.' Perasaan Evelyn campur aduk karenanya, ia membenarkan apa yang dipertanyakan otak nya.
Apa bedanya istri Noah hamil atau tidak? toh ia adalah istri sah Noah, sudah sewajarnya buah dari pernikahan adalah lahirnya seorang anak di tengah-tengah mereka.
Eve tiba-tiba ingin menertawakan dirinya namun secara bersamaan ingin menangisi kenyataan betapa ia sangat menyedihkan. Diam-diam masih berharap pada Noah meski begitu nyata ia telah dimiliki wanita lain.
Lebih memalukan nya lagi ia merasa dikhianati setelah mengetahui fakta bahwa istri Noah tengah hamil dan kebahagiaan mereka akan semakin sempurna. Sementara dirinya jauh tertinggal, hidup dalam kubangan rindu dan sesal berkepanjangan.
__ADS_1