
Evelyn terus menangisi jasad sang papa yang terbujur kaku, gadis itu tak menyangkan badai besar menghantam dirinya di saat ia sendiri tengah rapuh karena kepergian Noah dari sisinya. Sang mama masih bungkam dengan duka yang begitu tebal menyelimuti, hingga Evelyn tak sampai hati untuk bertanya sebab dari semua duka ini.
"Papa, Kenapa papa sepercaya itu ninggalin Eve dan mama di dunia ini, gimana kalo Eve dan mama nggak kuat buat jalanin hidup tanpa papa?" Eve berbisik ditelinga pria yang sangat ia cintai, Semua masih seperti mimpi. Ia tak menyangka tubuh gagah itu kini kehilangan daya. Pria itu pergi tanpa salam perpisahan yang terucap.
Eve semakin merasa putus asa melihat mamanya yang hanya terpaku menatap jenazah papanya dengan air mata yang tak henti mengalir di pipi. Wanita itu seperti kehilangan jiwa, seolah pergi bersama hembusan nafas terakhir teman hidupnya.
"Turut berduka cita Ve, doakan papamu. Kamu kuat karena itu Tuhan memberikan kamu cobaan ini" Bisik Aira yang baru tiba dengan teman-temannya saat mendengar kabar meninggalnya papa Evelyn.
"Entahlah Ra, Aku masih sulit mencerna apa yang tengah menimpa aku. Aku masih belum bisa meraba akan bagaimana hidup aku ke depan tanpa papa dan tanpa Noah." Aira mengusap pundak Eve yang menangis di dalam dekapannya. Ia bisa merasakan kesedihan yang tengah mendera Evelyn, setahun yang lalu ia juga kehilangan papa nya. kehilangan terberat hingga ia seperti tak memiliki tempat berpijak.
"Kamu kuat Ve, jangan putus asa." Tangan Aira masih setia mengusap punggung Eve yang masih syok dengan kehilangan yang begitu tiba-tiba. Semua begitu mendadak, tadi pagi mereka masih sarapan bersama dengan suasana hangat seperti biasanya. Tidak tampak sedikitpun tanda tanda yang menunjukkan papanya sedang sakit. Eve tak menyangka senyuman yang ia lihat tadi pagi adalah senyum terakhir yang sang papa suguhkan untuknya.
"Kami akan selalu ada buat kamu Ve. Jangan khawatir. Jangan sungkan menghubungi saat kamu butuh apapun" Tak sekedar penghiburan, Evelyn mampu menyadari bahwa tersemat ketulusan di mata Darrel saat ia berucap.
Air mata Eve luruh semakin banyak, di saat seperti ini Eve bersyukur masih ada teman-temannya yang memberikan dukungan. Setidaknya ia tidak kehilangan semuanya. Hati Evelyn kembali berdenyut nyeri, andai Noah ada di sini ia yakin Noah akan berdiri paling depan untuk ikut menopang semua kesedihannya.
Saat paling menyakitkan akhirnya tiba, meski tak rela namun jasad itu harus dibaringkan di peraduan terakhirnya, tak ada yang bisa Eve lakukan selain berusaha ikhlas saat sosok kebanggaan nya harus ditimbun tanah, Eve merasa tak tega melihat jasad itu harus terbujur sendirian dalam sunyi.
Setelah pemakaman selesai, Evelyn kembali ke rumah dengan hati yang semakin hampa. hampir seluruh jiwanya seakan tak lagi berada pada jasad nya. Ia limbung kehilangan arah.
__ADS_1
Melihat mamanya yang tampak lemah semakin membuatnya merasakan sakit yang tak terperi. Ketika papa Eve akan dimakamkan wanita itu menjerit histeris, ia tak rela harus dipisahkan dari pria yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Tak kuat menanggung duka akhirnya membuat mama Evelyn pingsan berkali-kali.
Evelyn harus berusaha kuat di titik terlemahnya, andai sang mama tak sehancur ini ingin rasanya Eve menumpahkan semua kesakitan di hatinya, Mengadu dan menangis dalam pelukan wanita itu. Namun kondisi sang mama memaksa ia untuk membuang sisi lemahnya, ia harus bangkit untuk menjadi penopang sang mama meski ia sendiri limbung dan teramat rapuh.
"Mama yang kuat Eve mohon, papa sedih kalo lihat mama seperti ini. Ikhlasin papa ma" Eve merasa menjadi manusia paling munafik saat mengucapkan kata-kata yang ia pun belum sanggup melakukannya.
"Mama nggak kuat, mama nggak sanggup hidup tanpa papa. Mama mau ikut papa"
Keluh wanita itu, matanya begitu redup dan kelam.
"Terus Eve sama siapa kalo mama mau pergi juga? kenapa mama nggak fikirin Eve? Apa keberadaan Eve nggak berarti apa-apa buat mama?" Ucap Evelyn sambil tersedu, ia juga ingin di tenangkan, ia butuh dikuatkan. Ini sungguh tidak mudah untuknya.
"Maafin mama sayang, maaf" untuk sesaat ia merasa paling menderita, lupa bahwa ia tak sendiri, ada Eve yang juga tak kalah kehilangan seperti dirinya.
****
Ternyata badai belum usai, kematian sang papa hanyalah awal. Evelyn harus kembali menerima hantaman yang juga menjadi sebab kepergian lelaki pertama di hidupnya.
Semua terjawab kini, sang papa terkena serangan jantung setelah ia dinyatakan bersalah melakukan penggelapan dana yang berakibat kerugian yang besar pada perusahaan.
__ADS_1
Evelyn menolak untuk percaya, Ia sangat yakin papanya adalah orang yang jujur. Tak mungkin pria itu mengambil yang bukan hak nya. Ia yakin semua adalah fitnah keji dari orang tak bertanggung jawab. Namun sekuat apapun Eve dan mamanya membela mereka tak mampu membantah bukti yang ada di tangan perusahaan. Eve hanya bisa berdoa suatu saat semuanya akan terungkap. Ia tak rela jiwa berharga itu pergi dengan tuduhan keji yang tersemat.
Baru seminggu setelah kepergian papanya, rumah, butik sang mama serta aset lainnya harus disita untuk menutupi kerugian perusahaan. Meski ber belasungkawa nyatanya perusahaan tak memberikan belas kasihnya, kedua wanita yang masih bersedih atas kematian orang yang mereka cintai harus terusir dari tempat yang menaunginya. Semuanya habis tak ber sisah.
"Kita harus gimana ma?" Ucap Eve lirih. Mereka menatap rumah yang kini telah terlarang untuk mereka pijaki.
"Kita cari penginapan dulu nak, besok kita cari kontrakan" Wanita rapuh itu kini terlihat lebih kuat, setidaknya Eve butuh dilindungi. Ia yakin semua akan kembali membaik.
"Emang mama punya uang?" Pertanyaan Eve membuat wanita itu pilu.
"Ada nak, ada beberapa perhiasan mama juga yang berhasil diselamatkan" Wanita itu tersenyum meski nyata terlihat senyuman itu begitu dipaksakan. Semata untuk mengusir rasa khawatir di wajah putrinya.
Mereka membawa koper berisi pakaian, dengan sisah uang dan perhiasan yang mereka miliki, keduanya harus merencanakan langkah ke depan untuk melanjutkan hidup dengan kondisi yang berubah total.
Evelyn tersenyum getir, tak menyangka harus mengahadapi masalah seberat ini. Andai ada Noah mungkin ia tidak akan merasa seperih ini. Pria itu akan melakukan apapun untuk membuat senyum nya tak pernah pudar. Namun semua hanya angan, Noah telah pergi membawa luka yang ia beri.
Eve tak pernah membayangkan hidupnya akan hancur dan kacau. Penyesalan atas kepergian Noah baru saja dimulai, Luka hatinya bertambah lebar dengan kepergian papanya, dan sekarang dalam sekejap ia kehilangan harta benda yang mereka punya.
"Kita pasti bisa melewati ini nak" Sang mama mengusap pundak Evelyn dengan sayang, meski telah banyak kehilangan setidaknya mereka masih saling memiliki satu sama lain.
__ADS_1