Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

"Sayang masakan kamu benar-benar enak. Sudah cocok jadi istri dan mama" Goda Noah yang membuat Evelyn tersipu.


"Kakak gombal ih, cuma nasi goreng biasa aja" Evelyn mengulum senyum.


"Apapun akan terasa istimewa asal itu dari tangan mu dan dimakan bersama mu" Rayu Noah lagi sambil terkekeh. Ia merasa menjadi pria yang paling bahagia saat ini, sejak bersama Eve ia tersenyum dan tertawa begitu banyak.


"Kak, jadi Cilla dan mama tidak pulang malam ini?" Eve membuka mulut saat Noah menyodorkan sesendok nasi goreng. Noah yang memaksa mereka untuk makan satu piring berdua, agar lebih mesra katanya.


"Iya" Bergantian Noah menyendok kan nasi ke mulutnya


"Mereka ingin memberi kesempatan untuk kita berduaan, tapi sayang meski hanya berdua kita tidak bisa melakukan apapun" Ucap Noah tidak bersemangat.


"Maksud kakak?" Tanya Evelyn heran, mengingat banyak hal yang telah mereka lakukan seperti memasak berdua meski Noah tak membantu apapun, justeru menyulitkannya dengan terus menempel memeluk tubuhnya dari belakang.


Wajah Evelyn bersemu tiba-tiba saat melihat tatapan penuh arti dari mata Noah meski bibir pria itu tak mengatakan apapun namun Eve dapat menebak fikiran pria itu. Eve segera memalingkan wajahnya, mendadak tubuhnya terasa panas.


"Kakak tidak keberatan melakukannya kalau kamu mengizinkan" Ucap Noah dengan suara serak dan tatapan menggoda.


"Kakak kenapa jadi mesum begini" Evelyn terlihat salah tingkah dan ekspresi gadis itu sangat menggemaskan di mata Noah.


"Aku sangat menyayangimu Eve, aku tidak akan mengambil kesempatan dari gadis yang aku cintai. Aku tidak akan melakukan nya sebelum kita terikat pernikahan yang sah. Karena itu ayo kita menikah" Ucap Noah, wajahnya berubah serius. Evelyn ternganga, ia menatap tak percaya pada Noah.


"Kakak serius?" Meski sudah dibahas sebelumnya namun Eve tak menyangka Noah akan benar-benar mengajaknya menikah.


"Tentu saja aku serius sayang, jangan lupa bahwa aku sudah ingin menikahi mu sejak dulu" Ucapan Noah membuat Evelyn berubah murung, ia kembali mengingat kesalahan nya di masa lalu, andai ia tak melakukan kebodohan mungkin tak perlu banyak waktu yang terbuang untuk sebuah penyesalan.


"Aku tidak bermaksud mengungkitnya sayang, tolong jangan bersedih. Aku hanya ingin kamu yakin akan keseriusan ku bahwa aku tidak pernah berniat main-main padamu. Lupakan masa lalu, kita renda masa depan kita berdua dan Cilla" Noah membingkai wajah Eve dengan kedua tangan nya. ia merasa bersalah atas ucapannya sebelumnya.


"Iya kak" Jawab Evelyn dengan senyum manis menghiasi bibirnya.


"Jadi kamu setuju jika kita menikah?" Mata Eve berkaca-kaca, gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban karena kerongkongan nya rasanya tercekat tak mampu mengutarakan apapun karena rasa haru yang membuncah.


"Terimakasih sayang, aku sangat bahagia" Bisik Noah, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Evelyn dengan tangan yang masih memegang pipi gadis itu. Perlahan ia mendaratkan kecupan lembut di bibir Evelyn, menyesap dengan penuh cinta dan rasa yang teramat bahagia hingga seolah tak ada lagi tempat bagi kesedihan yang tersisah.

__ADS_1


Malam ini sebuah janji telah terikat diantara Sepasang manusia, cinta yang terpisah kini telah kembali pada pemiliknya, ada harap yang terucap bahwa kisah mereka akan berakhir bahagia, serta memohon pada semesta agar tak lagi membuat mereka harus dilanda rindu yang terasa membunuh.


***


"Mama Cilla ngangen" Cilla berlari ke arah Evelyn yang sudah menyambutnya dengan senyum cerah.


"Kenapa ninggalin mama hem?" Eve menciumi pipi Cilla dengan gemas sementara gadis kecil itu terkekeh kegelian.


"Nenek yang ajak" sang nenek tertawa gemas melihat Cilla melemparkan kesalahan padanya.


"Noah mana Eve?" tanya mama saat tak mendapati keberadaan Noah.


"Kak Noah tadi pamit buat mandi ma. Oh ya tadi Eve uda siapin sarapan" Semalaman ia dan Noah menghabiskan waktu berdua, bercerita banyak hal untuk menebus rindu hingga kantuk tak berani untuk sekedar menyapa. Mereka tersadar saat mendengar ayam berkokok, meski berat hati mereka memutuskan untuk berpisah sejenak melakukan aktivitas masing-masing.


Eve memasak sehabis mandi sementara Noah masih berada di kamarnya. Mungkin diam-diam pria itu tengah menikmati lelap.


"Harusnya mama belum mau pulang dulu, tapi Cilla sudah mulai rewel ingin bertemu kamu"


Eve menatap ke arah Cilla dan kembali mendaratkan kecupan di kening nya.


"He'em udah ma" Cilla tersenyum membuat Cilla begitu bahagia. Ia tak menyangka bisa memiliki perasaan ini pada Cilla, padahal ia belum berpengalaman berinteraksi dengan anak kecil selama ini.


"Hai princess, kenapa ninggalin mama dan papa semalam?" Noah yang sudah tampak segar keluar dengan pakaian santainya. ia mendaratkan ciuman di pipi Cilla dan beralih ke pipi Eve yang duduk di sebelah putrinya.


"Kakak ada mama" protes Eve dengan wajah merona menahan malu sementara mama Noah terkekeh gemas.


"Santai aja sayang, mama tau kok kita lagi kasmaran" Jawab Noah santai, tak peduli wajah Eve yang semakin merona.


"Iya Eve santai aja" Timpal mama Noah masih dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Mama, Cilla mau loti pake cokelat" Eve mengangguk dan tersenyum ke arah Cilla kemudian dengan sigap mengambilkan roti dan mengolesinya dengan selai cokelat.


"Makacih mama" ucap Cilla dengan senyum menggemaskan.

__ADS_1


"Cama-cama cayang" Evelyn tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit dan menciun pipi chubby Cilla.


Noah tersenyum bahagia menatap interaksi dua wanita yang sangat ia cintai itu, pancaran kebahagian wajah Noah tak lepas dari perhatian mamanya.


"Jadi kapan mama dan papa Cilla meresmikan hubungan nya?" Ucap mama Noah tanpa basa basi.


"Secepatnya ma" Jawab Noah sambil memasukkan potongan omelet yang dibuat Eve ke dalam mulutnya. Evelyn menunduk namun hatinya bersorak bahagia


"Baguslah, papa uda protes terus tuh nggak tahan jauh dari mama" Karena tidak ada yang mengawasi baby sitter Noah meminta mamanya menemani Cilla, sementara papanya tak bisa meninggalkan perusahaan sehingga terpaksa mereka harus berjauhan dan bertemu satu bulan sekali.


"Iya bilang ke papa sabar, aku dan Eve akan menikah minggu depan" Baik Eve maupun mamanya langsung tersedak mendengar ucapan Noah, keduanya serentak menoleh pada Noah.


"Satu minggu lagi? apa nggak terlalu cepat?"


"Malah terlalu lama ma, Noah maunya kalo bisa hari ini. Tapi banyak yang harus dipersiapkan jadinya Noah terpaksa harus bersabar" Eve menatap gemas pada Noah yang memasang wajah sedih seolah mereka harus menunggu satu tahun.


"Kak beneran seminggu lagi?" Bisik Evelyn.


"Kenapa? kamu belum siap sayang?" Ada gurat kecewa di wajah pria itu.


"Bukan seperti itu, aku siap kak. Aku cuma kaget dan terlalu bahagia" Ucap Eve sambil mengulum senyum.


"Benarkah? ah terimakasih sayang" Noah merangkul Eve dan mendaratkan banyak ciuman di pipi gadis itu, tak peduli pada mamanya yang masih tampak shock dengan keputusan yang Noah ambil.


"Tapi apa cukup mempersiapkan semuanya dalam waktu satu minggu nak? Ini pernikahan pertama untuk Eve, dia pasti menginginkan pernikahan yang sesuai dg wedding dream nya"


Noah menoleh cepat pada Eve


"Maaf sayang, aku tidak berfikir ke sana. Beritahu aku bagaimana pernikahan impian mu? kita akan mewujudkan nya, tak apa jika harus diundur" Ucap Noah sambil mengusap lembut pipi kekasihnya.


"Impian pernikahan aku cuma satu kak, kamu sebagai mempelai laki-lakinya. Tidak ada impian lainnya. Jadi aku tidak mempermasalahkan nya, yang penting sama kamu dan secepatnya" Evelyn mengusap tangan Noah yang masih berada di pipinya.


"Benarkah? jadi tidak apa-apa satu minggu lagi kita menikah meski hanya sederhana?"

__ADS_1


Evelyn mengangguk tanpa keraguan.


__ADS_2