Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Evelyn meraih ponselnya yang berbunyi, nama Aira tampil dilayar.


"Hallo Ra" Ucap Evelyn setelah menghela nafas untuk menormalkan suaranya. Ia tak mau Aira tau bahwa ia habis menangis.


"Aku di kota kamu sekarang Ve. Kirim alamat kamu ya"


"Beneran? kamu sama siapa Ra?" Evelyn bangkit dari posisi tidurnya karena kaget tak menyangka bahwa Aira datang untuk menemuinya


"Iya beneran masa bohong. Aku ke sini sama Darrel Ve"


"Aku izin sama Noah dulu ya. Aku di rumah dia sekarang" Ucap Evelyn, ia menjauhkan ponsel dari telinga nya saat mendengar jeritan Aira. Pasti gadis itu shock mendapati fakta bahwa Evelyn bertemu dengan pria di masa lalunya.


"Kamu di rumah Noah? kok bisa?"


"Nanti aku ceritain." Evelyn tak menunggu jawaban Aira. Ia langsung memutus sambungan telfon.


Evelyn menghela nafas dan membuangnya, mempersiapkan diri untuk pamit pada Syahira dan Noah untuk pergi menemui teman-teman nya. Setelahnya ia akan langsung pulang ke rumah dan tidak perlu kembali lagi ke rumah ini. Ia tak memiliki hak serta alasan apapun untuk berada di rumah ini.


Setelah berhasil menguasai diri Evelyn beranjak dari ranjang dan berjalan keluar. Beruntung ia mendapati Syahira dan Noah sedang bersantai di ruang TV Sehingga Evelyn tak perlu repot-repot mencari.


Ah pemandangan yang manis namun menyakitkan, Syahira meringkuk dalam dekapan Noah yang dengan lembut mengusap perut buncit wanita itu. Keduanya sedang asyik menikmati acara televisi.


Evelyn ingin mengurungkan niatnya menemui Noah dan Syahira, Ia tak ingin mengganggu waktu santai sepasang suami istri itu namun sayang Noah telah lebih dulu melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf ganggu" Ucap Evelyn canggung.


"Ada apa Eve?" Syahira beranjak dari dekapan Noah dan menghadapkan tubuhnya pada Evelyn yang berjalan mendekat.


"Teman-teman aku datang ke sini. Aku mau menemui mereka sekalian aku mau pamit buat pulang. Makasih uda berbaik hati menampung aku di sini" Ucap Evelyn dengan senyum yang dipaksakan. Noah menatap ke arah Evelyn namun ekspresi Noah begitu datar hingga Evelyn tak mampu membaca apa yang pria itu fikirkan saat ini


"Aku nggak setuju kamu pulang Eve, Kamu kehilangan Ibu kamu baru kemarin. Kondisi kamu belum stabil, aku mohon tinggallah di sini sampai perasaan kamu lebih baik. Aku akan sangat mengkhawatirkan kamu kalo kamu sendirian di sana" Ucap Syahira dengan wajah sendu. Lagi-lagi ia tak mengerti kenapa ia harus sepeduli ini pada Eve.


Ketulusan yang terpancar di mata Syahira membuat Evelyn merasa bimbang.


"Ajak teman-teman kamu ke sini Eve nggak apa-apa. Kami nggak akan ganggu kalo kamu emang butuh privasi. Tapi tolong jangan biarkan aku tidak tenang dengan kamu pergi dari rumah ini" Evelyn tak mengerti dengan fikiran Syahira. Jika wanita lain akan sangat anti pada mantan kekasih dari suaminya sendiri namun wanita ini malah menampungnya di rumah mereka. Bahkan terkesan ingin mendekatkannya dengan Noah.


"Akhir-akhir ini Syahira suka khawatir berlebihan yang bisa menimbulkan efek buruk bagi kandungannya. Mungkin hormon kehamilan membuatnya lebih sensitif. Kalau kamu tidak keberatan bisakah memenuhi keinginan nya? Tapi jangan memaksakan diri jika memang kamu tidak nyaman aku akan berusaha memberi Syahira pengertian" Nampak sekali Noah merasa tidak enak akan sikap istrinya. Ia bisa memahami kecanggungan yang Evelyn rasakan.


Evelyn menganggukkan kepalanya. Entahlah ia merasa tak kuasa untuk menolak permintaan Syahira meski sangat bertentangan dengan hatinya.


"Tidak perlu meminta izin untuk itu Eve, Anggap saja ini rumah kamu sendiri." Ucap Syahira dengan senyum tulusnya.


****


Darrel dan Noah saling memandang, namun tak ada satupun yang bersuara.


"Nikmati kebersamaan kalian ya, kami ke kamar dulu. Kalau butuh apa-apa panggil saja mbak Ria ya Ve" Syahira memecah kecanggungan yang tercipta.

__ADS_1


"Iya kak makasih ya" Jawab Eve yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Syahira.


"Kalau boleh apa nanti aku bisa bicara sebentar sama kamu Noah?" Tak ada yang menyangka Darrel akan mengatakan itu, tak terkecuali Noah yang menatap heran pada Darrel.


"Aku menemani Syahira dulu, nanti aku akan menemui kamu" Jawab Noah akhirnya.


"Kamu mau ngomong apa sama dia Rel?" Tanya Eve dengan wajah khawatir saat Noah dan Syahira tak lagi nampak di antara mereka


"Rahasia dong" Darrel tersenyum jahil dijawab cebikan oleh Evelyn.


"Kamu sendiri kenapa bisa ada di sini Ve?" Tanya Aira. Evelyn menatap sendu pada Aira, meski berat akhirnya Evelyn mulai merangkai kisah tentang bagaimana ia bisa berada di rumah ini. Menceritakan nya seperti menyayat kembali luka yang masih basah di hatinya, Ia harus kembali mengingat kisah kelam saat kehilangan mama tercinta nya.


"Maaf karena nggak ada di sisi kamu Ve, maaf baru bisa ke sini hari ini. Kemarin aku masih ada kerjaan di luar kota. Aku baru tau berita ini tadi pagi" Darrel menatap iba pada Evelyn yang tengah terisak dalam dekapan Aira.


"Iya maafin kita ya Ve" Aira mengusap punggung Eve, berusaha menenangkan gadis itu. Mereka bisa merasakan kepedihan hati Eve.


"Kamu nggak sendiri Ve. Masih ada aku dan Aira. Kami akan selalu ada buat kamu. Jangan sedih terus ya, aku yakin mama dan papa kamu uda bahagia. Mereka orang yang baik Eve" Darrel beranjak pindah duduk ke samping Evelyn. Ia ikut mengusap lembut rambut Evelyn yang masih terus menangis. Inilah kenapa Eve ingin menyendiri, belum siap untuk menceritakan kembali kejadian yang ia alami, bercerita artinya ia harus kembali mengingat tiap detail kejadian yang memilukan. Namun ia tak bisa untuk menolak kedatangan Aira dan Darrel yang rela meluangkan waktu untuk menemuinya.


"Mereka percaya kamu bisa bangkit dan menjalani hidup kamu tanpa mereka. Mereka yakin kamu gadis yang kuat Eve sayang" Bisik Darrel lagi. Melihat Eve menangis membuat hatinya tersayat. Ia tak tega melihat kabut duka di wajah sahabatnya. Eve beralih memeluk Darrel.


"Makasih kalian selalu ada buat aku, masih mau berteman sama aku" Ucap Eve disela isakan nya. Eve merasa beruntung karena Darrel dan Aira tak meninggalkan nya. Mereka masih bersedia menjadi sandaran bagi dirinya.


"Kita berdua sayang kamu Ve, akan terus seperti itu sampai kapanpun" Bisik Aira.

__ADS_1


Aira dan Darrel terus bergantian menenangkan Evelyn, mereka tak menyadari sejak 5 menit yang lalu Noah menyaksikan bagaimana mereka saling menguatkan.


Noah tersenyum tipis, ada kelegaan menyusup ke dadanya. Evelyn tidak salah lebih memilih mereka ketimbang dirinya dulu.


__ADS_2