
"Aku merindukan mu" Kalimat serta kecupan lembut di dahi adalah hal pertama yang Noah lakukan setiap kali ia baru pulang dari kantor. Hal itu selalu berhasil membuat Evelyn tenang dan bahagia. Terlebih hari ini pria itu pulang terlambat karena sedang banyak pekerjaan. Ia baru pulang setelah malam hari.
"Tadi oma nya Cilla datang mas" Ucap Eve, ia mengambil alih tas di tangan suaminya. Tangan kosong Noah seperti biasa akan menarik pinggang Evelyn agar merapat dengan nya.
"Oh ya? apa yang mama lakukan? apa mama menyakitimu" Noah tak bisa menyembunyikan kekhawatiran nya.
"Enggak mas, mama malah minta maaf. Sepertinya usaha kamu memberikan diary kak Syahira berhasil membuka mata nya"
Noah menghembuskan nafasnya lega. Sekali lagi ia mendaratkan kecupan di kening istrinya.
"Syukurlah aku takut mama nyakitin kamu lagi"
"Lagi-lagi kak Syahira membantu kita mas. Kenapa wanita sebaik kak Syahira harus pergi begitu cepat" Wajah Evelyn berubah sendu.
Noah melepaskan rangkulan nya pada pinggang Evelyn kemudian meraih wajah nya dan menatap dalam mata istri yang teramat ia cintai itu.
"Semua sudah digariskan oleh yang maha kuasa sayang tak perlu mempertanyakan ketentuan dari Nya. Tugas kita adalah menjalankan amanah dari Syahira sebaik mungkin sebagai wujud terimakasih kita padanya"
Evelyn mengangguk, tatapan tajam namun meneduhkan dari suaminya membuat ia terhanyut dalam damai.
"Mas mandi dulu ya, aku siapin makan malam" Ucap Eve
"Ehem mau gabung?" Tanya Noah dengan senyum dan tatapan penuh arti.
"Lain kali aja boleh nggak? aku lapar mas" Noah terkekeh melihat ekspresi memelas istrinya.
"Kenapa tidak makan lebih dulu?" Noah mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Aku mau makan bersama suami aku" Ucap Eve dengan mengulum senyum.
"Baiklah sayang, aku mandi dulu" Meski ia begitu menginginkan istrinya namun Noah tak bisa egois membiarkan istrinya merasakan lapar lebih lama. Ia mendaratkan kecupan di bibir Evelyn sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Evelyn menyiapkan pakaian tidur untuk Noah kemudian beranjak menuju dapur menghidangkan makan malam mereka. Sebisa mungkin ia sendiri yang turun tangan dalam mengurusi semua keperluan Noah dan Cilla meskipun ada asisten rumah tangga. Agar peran dan kasih sayangnya bisa dirasakan langsung oleh dua orang yang teramat berarti itu.
Lima belas menit menunggu, Noah datang dengan celana pendek santai dan kaos oblong nya. Wajahnya tampak segar dan berbinar, Evelyn selalu betah memandangi wajah pria itu. Ia merasa seperti jatuh cinta setiap saat pada suaminya.
"Aku tampan ya?" Noah menyeringai dan menaik turunkan alisnya.
"Iya" Jawab Evelyn jujur dengan wajah merona. Noah tergelak melihat wajah Evelyn. Ia tak habis fikir pada istrinya yang masih sering salah tingkah dan malu-malu padanya meski usia pernikahan mereka telah berjalan satu bulan penuh.
Evelyn kemudian dengan telaten mengambil makanan untuk Noah.
"Sayang, barusan mama telfon. Mama mau ke sini besok buat jagain Cilla" Noah menyuapkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulutnya.
"Jagain Cilla?" Evelyn tak mengerti.
"Iya, mama mau kita bulan madu. Harusnya sejak awal kita berangkat katanya. Tapi karena sempat ada masalah kemaren mama nggak enak buat maksain kita honeymoon. Jadi kamu mau nya ke mana?"
Evelyn tampak berfikir
"Mama mau kita fokus sayang"
"Fokus apa?" Tanya Evelyn bingung.
"Bikin adiknya Cilla" Jawan Noah santai, ia terkekeh melihat wajah Evelyn yang memerah.
"Ada mama yang jagain Cilla nggak usah khawatir soal itu. Cilla juga pasti senang kalo dikasih adik bayi yang lucu" Lanjut Noah tak peduli akan istrinya yang semakin salah tingkah
****
Setelah menempuh perjalanan Evelyn dan Noah tiba di tempat tujuan mereka. Evelyn tidak meminta honeymoon ke luar negeri atau ke tempat yang sering dijadikan sebagai destinasi bulan madu.
"Nggak penting mau di mana mas, yang penting sama kamu" Ucap Evelyn saat Noah kembali menanyakan tempat yang Evelyn tuju.
__ADS_1
Karena Noah terus memaksa akhirnya Evelyn meminta bulan madu di kota mereka tempat di mana cinta mereka mulai bersemi. Evelyn ingin kembali menikmati kenangan nya sembari mengunjungi makam papanya yang sudah 5 tahun tak pernah ia datangi.
Tidak masalah bagi mereka, toh kota itu juga indah tak kalah dengan kota-kota lain yang menjadi kota favorit untuk berbulan madu.
"Kenapa nggak di rumah kamu aja mas" Evelyn merebahkan tangannya dan memejamkan mata untuk mengusir penat. Noah merebahkan diri di samping istrinya dengan posisi miring dan menjadikan lengannya sebagai sanggahan agar ia bisa menikmati wajah cantik Evelyn.
"Kita lagi bulan madu sayang, bukan pulang kampung" Bisik Noah, ia mendaratkan kecupan di wajah istrinya kemudian berlanjut ke bibir. Tangan nya mulai bergerilya, Eve memegang tangan Noah dengan maksud menghentikan pergerakan nya.
"Mas mau ngapain?" Entahlah, mungkin karena lelah Evelyn masih mempertanyakan maksud suaminya.
"Mau bulan madu sayang" Ucap Noah dengan suara berat. Selalu seperti ini, saat bersama istrinya hasratnya sulit dikendalikan.
"Mas nggak capek? nggak mau istirahat dulu?"
"Istirahatnya nanti aja, Ada yang lebih capek kalau dibiarkan menunggu" Ucap Noah sambil melirik bagian tubuhnya. Evelyn lagi-lagi tersipu malu menangkap maksud suaminya yang entah sejak kapan berubah menjadi sedikit mesum.
"Tapi kalau kamu capek nggak apa-apa, aku kasih pengertian ke dia supaya membiarkan istriku istirahat terlebih dahulu" Ucap Noah dengan berat hati.
"Aku nggak capek mas, aku uda siap kok" Ucap Evelyn cepat. Ia mengambil inisiatif mencium suaminya lebih dulu. Mana mungkin ia membiarkan sang suami menahan hasratnya yang terlihat begitu menggebu, Evelyn tak sampai hati untuk melakukan nya.
Noah tersenyum lebar setelah Evelyn melepaskan ciuman nya. Tak perlu menunggu lama Noah mulai melancarkan aksinya, mencecap dan menyentuh bagian-bagian favoritnya pada tubuh Evelyn, binar penuh damba nya pada tubuh itu tak pernah meredup, ia selalu menatapnya dengan penuh pemujaan meski ia sudah sering melihat dan melakukan nya, Hal itu membuat Evelyn merasa teramat berharga di mata suaminya.
Noah menarik tubuh Evelyn dan memeluknya setelah sesi pertukaran hasrat mereka telah berakhir. Noah mengusap percikan keringat di kening Evelyn lalu beralih dengan usapan lembut pada perut istrinya.
"Semoga Adik Cilla segera hadir di sini ya, Cilla sudah cukup besar dan sudah sangat menginginkan adik" Evelyn tersenyum di sela helaan nafasnya.
"Iya mas, doain mudah-mudahan semua dipermudah ya" Evelyn berbalik memeluk tubuh suaminya. Ia tak henti melantunkan doa, berharap Tuhan segera mengabulkan harapan mereka.
****
Ini bab-bab menjelang akhir ya guys. jadi isinya khusus yang manis-manis nya aja... 🥰😍
__ADS_1