Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Empat Puluh Empat


__ADS_3

"Kamu serius Eve? please jangan gila Eve. Aku benar-benar nggak habis fikir sama keputusan kamu yang menurut aku nggak masuk akal sama sekali" Satria tak bisa menutupi kekecewaan nya saat Eve memutuskan untuk tinggal lebih lama di kota ini. Harusnya mereka kembali hari ini, namun Eve menolak.


"Aku masih kangen mama. Aku sudah pergi selama tiga tahun. Mustahil kerinduan ku pada mama akan terobati hanya dalam 1 minggu saja. Aku ingin lebih lama berada di sini untuk menebus kerinduanku padanya."


"Eve dengan berbicara seperti itu kamu seolah menganggap ku anak kecil yang polos. Aku tau bukan itu alasan utama kamu tetap tinggal di sini Eve. Aku tau karena Noah kan?" Satria tersenyum dan menatap sinis pada Evelyn.


Apapun alasannya Eve merasa Satria tak perlu ikut campur terlalu jauh. Namun untuk mengatakan nya Eve tak sampai hati mengingat Satria sudah begitu baik padanya selama ini.


"Kenapa diam, ucapan aku benar kan Ve?"


"Terserah kamu Sat. Aku nggak akan maksa kamu untuk percaya ucapan ku" Jawab Eve halus


"Terus gimana sama warung kamu Ve? ayolah lanjutkan hidup kamu yang baru Eve. Jangan terus-terusan dihambat masa lalu"


"Warung sejauh ini aman kok. Aku uda minta Vera untuk membuat laporan setiap hari. Dia jujur banget orang nya. Maaf Sat, tentang hidupku aku berhak menentukan arahnya sendiri"


Satria menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lelah menghadapi Evelyn yang tak kunjung luluh padanya.


"Apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku Eve?" Suara Satria melemah.


"Aku hanya bisa menjalani hubungan sebatas pertemanan Sat, Maaf. Aku cuma bisa terus berdoa untuk kebahagiaan mu, buka hati kamu untuk orang lain Sat" Evelyn menatap sendu pada Satria yang semakin kecewa.


"Baiklah Eve, semoga keputusan kamu ini tepat. Aku pergi"


Satria melangkah tanpa menoleh pada Evelyn yang tak lepas menatap kepergian pria itu.


"Maafin aku Satria" Lirih Evelyn.


"Sejauh dan selama apapun kamu pergi, cinta kamu cuma buat Noah. Jadi sekarang saat nya kamu memperjuangkan hati Noah kembali Eve selagi ada kesempatan. Nggak ada pilihan lain, nyatanya hati kamu hanya menginginkan dia." Ucapan Aira kembali terngiang. Yah Eve menghubungi sahabatnya itu saat ia merasa gundah usai membaca surat dari Syahira serta perlakuan Noah yang membuatnya tak menentu.


"Kamu yang harus menyembuhkan Noah Eve, tidak ada salahnya untuk menurunkan ego kamu. Tidak selamanya perempuan yang diperjuangkan. Tapi aku nggak akan maksa, karena hati kamu yang tau persis apa yg ia inginkan"


Evelyn membenarkan ucapan Aira. Nyatanya sekuat apapun ia berusaha posisi Noah di hatinya tak pernah bisa ia gantikan dengan siapapun. Ia harus menghentikan segala kesakitan yang ia ciptakan.


"Iya Ra, aku akan berjuang untuk kak Noah. Aku akan memenangkan hatinya kembali."

__ADS_1


"Semangat Eve, kalian harus bahagia. Harus ada yang menyudahi kebodohan dan kesalah pahaman yang sudah berlarut terlalu lama."


Evelyn bertekad untuk menyelesaikan semua luka ini, seperti kata Aira ia dan Noah harus bahagia.


***


Noah menatap layar laptopnya. Ia berusaha fokus menyelesaikan pekerjaan nya meski hatinya tengah gusar. Tadi pagi ia sempat bertemu Satria, pria itu berpamitan padanya untuk kembali. Satria juga mengatakan bahwa ia dan Evelyn akan kembali ke kota X hari ini.


Semalam Eve tak mengucapkan apapun terkait kepulangan nya, bahkan tadi pagi saat ia berangkat ke kantor dan Evelyn masih bersama Cilla tak ada kata pamit yang terucap dari bibir Evelyn.


Noah meremas rambutnya, ia tak bisa bekerja dengan tenang. Namun suara ponsel mengalihkan perhatian nya. Nama sang mama tertera di layar. Hati Noah kembali gusar, mungkin saja Cilla sedang menangis karena ditinggal pergi oleh Eve


"Iya ma kenapa?"


Benar saja, terdengar tangisan Cilla di seberang telfon.


"Cilla nyari Eve nak, tadi Eve pamit keluar bersama Satria waktu Cilla lagi asyik bermain dan sampai sekarang belum kembali. Mama telfon ponselnya nggak aktif." Sang mama terlihat panik.


"Ma, tenang ya. Nggak usah hubungi Evelyn, Jangan membuat Cilla semakin bergantung pada nya. Eve punya kehidupan sendiri. Nggak bisa selamanya Eve kita libatkan dalam urusan Cilla, Noah akan segera pulang oke"


Setelah menempuh perjalanan selama 30menit Noah tiba di rumahnya. Ia segera turun dari mobilnya dan segera masuk ke rumah. Suasana tampak hening, tak terdengar lagi tangisan Cilla.


"Cilla mana ma?" Tanya Noah saat melihat sang mama yang berjalan ke arahnya.


"Cilla lagi mau bobok di kamar" Ucap mamanya sambil tersenyum. Noah berjalan menuju kamar Cilla tanpa bertanya pada sang mama. Kening Noah berkerut saat melihat babby sitter Cilla sedang membereskan mainan di ruang bermain Cilla yang bersebelahan dengan kamar buah hatinya itu.


"Cilla uda tidur mbak?"


Tanya Noah


"Kayaknya uda pak" meski heran namun Noah memilih tak memperpanjang pertanyaan nya. Ia segera memutar handle pintu.


"Eve?" Noah menatap heran pada sosok yang tengah tidur sambil mengusap kepala Cilla yang tidur di pelukannya.


"Ssst" Evelyn meletakkan jari telunjuk di bibirnya memberikan kode agar Noah tidak bersuara karena Cilla baru saja memejamkan matanya.

__ADS_1


Noah mengangguk dan memilih duduk di sofa yang terletak di kamar putrinya itu. Pria itu memandangi Eve yang tengah menciptakan suasana tidur yang nyaman untuk Cilla.


Setelah dirasa Cilla sudah nyenyak, Evelyn melepaskan lengannya yang menjadi bantal kepala Cilla dengan perlahan. Gadis kecil itu bergerak mencari kenyamanan nya, Evelyn menepuk-nepuk punggung Cilla dengan lembut hingga ia kembali terlelap dengan tenang.


"Kakak kenapa uda pulang?" Evelyn menghampiri Noah.


"Tadi mama telfon katanya Cilla menangis. Makanya aku cepat-cepat pulang. Oh ya Eve, kita bicara di luar aja ya" Noah beranjak dari duduknya setelah mendapat persetujuan dari Evelyn.


"Tadi aku ketemu Satria, dia bilang kalian pulang hari ini." Ucap Noah setelah mereka duduk di ruang keluarga.


"Iya emang harusnya pulang hari ini. Tapi aku memutuskan untuk tinggal lebih lama. Aku masih kangen mama."


Noah menatap pada Evelyn.


"Benar karena mama kamu? bukan karena Cilla?" Tanya Noah dengan tatapan menyelidik.


"Karena Cilla juga kok. Aku nggak tega ninggalin dia"


"Itu sama sekali nggak ngerepotin aku, aku bahagia bisa melakukan ini untuk Cilla" Evelyn memotong cepat sebelum Noah memprotes keputusannya.


"Tapi Eve, gimana sama kerjaan kamu di sana? mau sampai kapan Cilla menghambat langkah kamu?"


"Cilla nggak menghambat aku kak. Aku suka ngelakuin ini. Kerjaan aku juga uda di handle sama tangan yang tepat. Yah itung-itung cuti setelah tiga tahun lamanya aku kerja" Jawab Evelyn santai.


"Kakak keberatan sama keputusan aku?"


"Nggak, aku cuma nggak mau kamu mengorbankan masa depan kamu demi Cilla" Jawab Noah.


"Ini bukan cuma demi Cilla kak, tapi demi kita"


Batin Evelyn.


"Oh ya kak, aku nggak bisa tinggal di penginapan lebih lama. Sementara rumah aku masih di sewa hingga akhir bulan. Jadi selama 2 minggu ke depan izinin aku buat nginap di sini" Ucap Evelyn, meski terlihat malu namun Evelyn berusaha menekan nya.


"Tentu saja boleh Evelyn. Kamu sudah banyak berkorban untuk Cilla. Apapun yang kamu minta aku akan berusaha memenuhinya"

__ADS_1


"Makasih kak" Evelyn tersenyum manis, membuat Noah terpana. Kenapa rasanya sudah begitu lama ia tak bisa menikmati senyum Evelyn seperti saat ini.


__ADS_2