
"Dia pria itu kan Eve?" Tanya Satria sambil menatap tajam pada Evelyn.
Evelyn mengalihkan pandangannya pada Satria setelah mendengar pertanyaan pria itu. Evelyn tersenyum getir. Tak ada gunanya untuk menutupi semuanya dari Satria, nyatanya ia begitu peka terhadap apapun yang menyangkut Evelyn.
"Tolong jangan bilang kak Syahira, meski dia tau masa lalu kami tapi ia tak pernah tau bahwa aku masih terpenjara kisah masa lalu bersama suaminya. Percayalah tak ada sedikitpun niat di hati aku untuk merebut posisinya karena aku sadar aku tak akan pernah bisa. Kak Noah sudah tidak mencintaiku. Aku harap kamu bisa menutupi semuanya. Aku tidak bisa menyakiti kak Syahira yang begitu baik padaku" Ucap Evelyn penuh harap. Satria tertegun sejenak, hingga kemudian seringai jahil terbit di wajah nya.
"Oke, tapi dengan satu syarat" Satria menaik turunkan kedua alisnya.
"Apa?" Evelyn mulai curiga.
"Terima lamaran ku" Evelyn tersenyum masam namun diam-diam ada kelegaan yang menyusup ke dalam hatinya. Ia yakin Satria bukan pria jahat, ia tak akan mengatakan apapun pada Syahira.
"Kamu yakin menjalani hubungan sementara aku terpaksa menerima karena ancaman?" Tanya Evelyn dengan tatapan mengejek.
"Tidak masalah. Awalnya terpaksa lama-lama juga nanti terbiasa dan kamu akan jatuh cinta padaku" Jawab Satria dengan percaya diri.
"Dunia ini sempit ya Sat, siapa yang menyangka kamu adalah adik sepupu dari kak Syahira. Aku jadi kefikiran untuk menjauhi kamu agar bisa jauh dari mereka juga. Kalo aku nerima kamu aku malah berfikir bahwa semua akan semakin rumit"
"Pemikiran macam apa itu, jangan pernah berfikir kamu akan lepas dariku Eve. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah lelah berusaha sampai kamu jadi milikku" Eve bergidik ngeri, ia seakan melihat sisi lain dari Satria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Nada kalimat serta kilatan mata Satria terlihat penuh ancaman.
"Kamu menyeramkan, aku jadi takut" Ucap Evelyn lirih. Di luar dugaan Satria malah terbahak.
"Aku bercanda Eve" Satria terus tertawa, begitupun Evelyn namun tawa Evelyn penuh kekhawatiran. Bibir Satria bisa berucap itu hanya kalimat candaan. Namun mata Satria tak bisa berbohong, ada kejujuran dan keseriusan di sana.
"Sat, pulang yuk. Aku mau istirahat" Ucap Evelyn. Ia tiba-tiba merasa resah dan segera ingin menyendiri.
"Masih jam 3 sore Eve. Kita jalan-jalan dulu ya."
"Tapi aku capek banget Sat. Besok aja ya?" Ucap Evelyn sedikit memohon
"Kapan bisa ketemu orang tua aku? kamu uda janji kan Ve?" Evelyn tak mengerti, ia merasa ada yang berubah pada sikap Satria dan itu sungguh membuatnya tidak nyaman. Mungkinkah perubahan itu karena Noah?
__ADS_1
"Besok kalau nggak ada halangan ya"
"Agenda kamu ke kota ini cuma buat mengunjungi makam mama kamu kan? lantas apa yang akan menghalangi mu untuk bertemu orang tua ku?"
Kening Evelyn berkerut menyadari Satria benar-benar aneh, Ia berubah menjadi pria pemaksa.
"Iya besok aku usahain Sat. Uda yuk pulang" Satria menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Ia memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka.
****
Evelyn termangu, otak nya dipenuhi tentang pertemuannya dengan Noah tadi siang. Dan itu merenggut ketenangan nya. Ia semakin ragu untuk membuka hati pada Satria, Eve takut tak bisa mengendalikan hatinya jika ia dan Noah menjadi saudara ipar. Akan semakin banyak hati yang tersakiti andai ia memaksakan untuk menerima pria itu.
Evelyn melirik ponselnya untuk melihat jam dan angka 5 tertera di sana. Evelyn memutuskan untuk berendam siapa tau perasaannya bisa lebih baik. Baru saja masuk ke dalam kamar mandi Evelyn sudah keluar lagi, ia mendapati noda merah di celananya tanda siklusnya telah tiba. Ia membuka tas untuk mengambil pembalut, namun setelah mengacak-acak isi tasnya Evelyn melenguh kecewa karena tak mendapati apa yang ia cari.
Mau tidak mau Evelyn harus ke supermarket sebelum tamu bulanan nya semakin banyak. Eve memutuskan untuk menunda mandinya, ia meraih dompet dan keluar dari kamar menuju supermarket terdekat.
Bersyukur tak begitu jauh dari hotelnya terdapat sebuah supermarket yang bisa ia tempuh dengan berjalan kaki.
Langkahnya terhenti dan mengamati seorang wanita yang rasanya tak asing baginya, wanita itu terlihat tengah menggendong anak kecil dan berusaha meraih salah satu merk susu yang terletak di rak bagian atas, cukup tinggi dari jangkauannya dan Ia terlihat kesusahan menggapai susu itu di tambah tangan sebelahnya menahan beban karena menggendong seorang gadis kecil.
Evelyn ingin segera pergi karena takut jika wanita itu benar-benar wanita yang ia kenal. Namun rasa iba karena melihatnya kesusahan membuat Evelyn memutuskan mendekat untuk membantu. Ia segera mengambil susu itu dan menyerahkannya.
"Tante butuh ini?" Dan benar saja ia mengenal wanita itu. Evelyn sedikit terpaku menatap ke arahnya.
"Makasih nak, eh Evelyn?" Wanita itu tak kalah terkejut saat mendapati gadis yang membantunya adalah Evelyn.
"Iya beneran tante ternyata" Ucap Evelyn dengan senyum yang ia paksakan. Yah wanita itu adalah mamanya Noah salah satu orang yang seharusnya Evelyn hindari.
"Mama?" Kalimat yang akan mama Noah katakan pada Evelyn urung terucap saat. Tiba-tiba gadis kecil yang ada di gendongannya itu menatap Eve sambil memanggil dengan wajah riang dan menggemaskan. Mama Noah termangu dan Kening Evelyn berkerut ia menatap pada balita yang terlihat memiliki garis wajah yang persis dengan pria masa lalunya. Eve merasa yakin ia adalah putri Noah, Evelyn menoleh ke kiri dan ke kanan mencari Syahira sosok yang baru saja dipanggil oleh balita itu.
"Ini putrinya kak Noah ya tante?" Tanya Evelyn setelah tak mendapati Syahira di sekitar mereka.
__ADS_1
"Iya namanya Cilla anak nya Noah dan Syahira" ucap mama Noah dengan senyum mengembang.
Evelyn menatap pada Cilla yang sejak tadi menggapai-gapaikan tangan nya pada Eve.
"Mama... mau dendong mama" Cilla tampak riang menatap Evelyn. Kedua tangan nya membentang ke arah Evelyn yang masih terlihat bingung akan reaksinya saat melihat Evelyn
"Aduh Eve, Cilla minta digendong kamu nich. Tante jadi nggak enak ngerepotin kamu" Refleks Evelyn menyambut tubuh Cilla ke dalam dekapannya. Ada aliran kehangatan yang tidak Evelyn mengerti merasuk ke dalam hatinya.
"Mama" panggil Cilla lagi sambil memeluk leher Eve dan menyandarkan kepalanya di sana. Hati Evelyn bergetar hebat, ini pertama kalinya ia menggendong anak kecil selama hidupnya. Ia bingung atas perasaannya terlebih panggilan Cilla yang seolah ditujukan pada dirinya.
"Kak Syahira nya mana tante, dari tadi Cilla manggil mama terus" Evelyn menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang Cilla panggil.
Belum sempat mama Noah menjawab
"Mama kok lama?" Sebuah suara mengintruksi mereka, jantung Evelyn berdetak kencang lagi. Ia tak tau harus senang atau marah saat kembali dipertemukan dengan Noah.
"Loh Evelyn? nggak nyangka kita ketemu lagi" Ucap Noah setelah berhasil mengubah ekspresi kaget di wajahnya. Ia sempat terkejut saat kembali bertemu gadis itu terlebih ia menyaksikan putrinya yang terlihat menempel nyaman pada gadis itu.
"Eh iya kak" Ucap evelyn terbata.
"Kalian uda ketemu sebelumnya?" Mama Noah menatap keduanya bergantian.
"Iya tadi ketemu Eve dan Satria sepupunya Syahira anak tante Emil, mama ingat kan?Evelyn ternyata calon istrinya Satria ma."
"Beneran Eve? Kamu calon istrinya Satria?" Evelyn seperti melihat kekecewaan di mata wanita di hadapan nya. Tapi kenapa?
"Beneran ma, tadi Satria sendiri yang bilang. Ehmm Cilla sini sama papa, tante Evelyn pasti capek gendong Cilla yang uda gede" Noah mengulurkan tangannya pada sang putri. Ia tak memperhatikan ekspresi sedih sang mama.
"Dendong mama" Jawab Cilla menolak ajakan Noah. Ia semakin erat memeluk dan menenggelamkan wajahnya di leher Evelyn.
"Cilla uda gede kan, masa minta gendong tantenya. Ayo sini sama papa ya" Bujuk Noah, situasi ini membuat Evelyn salah tingkah.
__ADS_1
"Biarin aja dulu Nak. Eve boleh ya gendong Cilla sebentar" Mama Noah menatap penuh harap pada Evelyn yang menganggukkan kepalanya.