Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tujuh Puluh


__ADS_3

Hari-hari indah Noah dan Evelyn terus mereka lewati hingga pernikahan mereka telah memasuki bulan ke 6, seperti bulan-bulan sebelumnya Evelyn kembali menangis pilu di kamar mandi karena mendapati siklusnya kembali datang. Padahal ia sudah sangat berharap mengingat dirinya sudah terlambat datang bulan selama satu minggu.


Mereka juga sudah mendatangi dokter untuk melihat adakah yang salah pada diri pasangan itu hingga mereka masih belum di karuniai buah hati. Sejauh ini dokter mengatakan tidak ada yang salah pada diri Evelyn maupun Noah, semuanya normal.


"Sabar sayang, mungkin Tuhan masih ingin kita menikmati bulan madu. Kita diberi kesempatan untuk menjalani momen-momen berdua yang sempat terampas selama 5 tahun" Bisik Noah waktu itu. Pria itu selalu menguatkan dan menyemangati dirinya.


Evelyn meraba perutnya, Air matanya masih terus bercucuran. Ia sudah berusaha menguatkan hatinya namun tetap saja terasa begitu sakit. Ia ingin seperti Aira, Meski sudah ada Cilla diantara ia dan Noah tetap saja ia ingin merasakan bagaimana rasanya mengandung. Namun jangan pernah meragukan rasa sayangnya pada Cilla karena keinginan nya itu, Rasa cinta dan sayang senantiasa tercurah begitu besar pada putri kecilnya.


"Kenapa belum mau hadir di rahim mama nak?" Keluh Eve disela isak tangisnya. Sebuah pelukan hangat menyapa dirinya yang tengah terduduk dilantai kamar mandi.


"Sayang kenapa?" Evelyn memutar tubuhnya dan membalas pelukan Noah saat menyadari kedatangan suaminya, ia tak lagi menahan tangis. Isakan Eve terdengar kuat, Noah sudah hafal akan keadaan seperti ini, setiap bulan akan ada momen di mana Evelyn begitu bersedih.


"Jangan menangis sayang, kita akan terus berjuang bersama merebut kepercayaan Tuhan untuk menitipkan buah hati pada pernikahan kita. Jangan bersedih aku mohon" Noah menciumi rambut Evelyn, ia selalu tak sampai hati saat melihat Evelyn bersedih. Hatinya terasa remuk.


"Ma-af aku mengecewakanmu lagi sayang" Ucap Eve dengan terbata. Suaranya terdengar putus asa.


"Harus berapa kali aku mengatakan padamu Eve, ini bukan salahmu. Kenapa aku harus kecewa? Jangan menyalahkan dirimu sendiri terus-terusan. Aku tidak pernah kecewa padamu sayang, kita sama-sama menginginkan nya, kita sudah terus berusaha. Hasil akhirnya kita pasrahkan pada Tuhan"


"Kenapa Tuhan belum percaya pada kita mas? aku tak pernah berhenti belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk Cilla. Tapi kenapa Tuhan masih belum percaya bahwa aku bisa menjadi ibu? atau sebenarnya aku memang belum cukup berhasil menjalankan peranku sebagai ibu bagi Cilla selama ini mas?" Keluh Eve.


"Kamu ini bicara apa? kamu ibu yang luar biasa untuk Cilla sayang. Jangan berfikir seperti itu." Noah meraih wajah Eve agar menatap padanya.


"Sayang aku tak suka melihatmu bersedih seperti ini, aku telah berjanji untuk selalu membahagiakan mu, aku merasa tak bisa menepati janjiku saat melihatmu menangis" Lirih Noah.


"Tidak mas, kamu selalu membahagiakan aku. Sepanjang pernikahan kita tidak sekalipun kamu membuat aku bersedih. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa seperti banyak wanita di luar sana" melihat rasa bersalah di mata Noah membuat hati Evelyn terasa perih.


"Tapi diluar sana ada banyak pasangan yang sama seperti kita, menunggu buah hati yang tak kunjung hadir. Kita belum terlalu lama menikah, baru 6 bulan sayang. Dan tidak ada masalah pada kesehatanmu itu artinya peluang kita untuk memiliki bayi sangat besar, hanya saja harus sedikit bersabar. Sembari menanti jangan berhenti untuk berusaha" Noah mencium bibir Eve yang sedikit terbuka.


"Aku tidak keberatan untuk terus mencoba sampai berhasil sayang, jangan takut" Ucap Noah dengan seringai menggoda.

__ADS_1


Noah terkekeh melihat Evelyn mengerucutkan bibirnya atas ucapan itu, namun tak urung suasana hati Evelyn kembali membaik. Ah Noah memang selalu berhasil membuatnya kembali tenang. Adakah wanita yang lebih beruntung dari dirinya di dunia ini karena memiliki suami sebaik pria di hadapannya?


"Bersihkan tubuhmu ya, aku keluar dulu" Ucap Noah, ia mendaratkan kecupan di bibir Evelyn. Kalau saja Eve sedang tidak kedatangan tamunya Noah tidak akan membiarkan Evelyn mandi tanpa ia temani.


"Mas, mau mandi bersama?" Tanya Eve sebelum Noah menyentuh gagang pintu. Pria itu menoleh, ada rasa lega di hatinya saat melihat senyum istrinya sudah kembali, terlebih menyadari Evelyn sedang berniat menjahili dirinya.


"Tidak terimakasih, lain kali saja" ucap Noah dan dengan cepat tangan nya meraih handle pintu.


"Tapi nanti malam seperti biasa ya sayang, gunakan kembali keahlian mu mengatasi kondisi darurat seperti ini" Ucap Noah sebelum benar-benar menghilang di balik pintu. Meninggalkan Evelyn yang masih mengulum senyum nya.


Kesedihan yang tadi terasa begitu menyesakkan kini perlahan menguap, Evelyn menyadari Noah adalah obat dari segala kesedihannya. Hanya dengan melihat pria itu dan mendengarkan kelimat-kalimat penyemangat dari bibir Noah membuat hatinya pulih dengan cepat.


"Apa jadinya jika aku tanpa mu mas, aku mencintaimu" Ucap Evelyn dengan mata yang tertuju pada pintu meski Noah sudah tak lagi nampak di sana.


****


"Hai, adiknya lucu" Seorang pria yang cukup tampan menghampiri Evelyn. Kening gadis itu berkerut saat mendapati pria tak dikenali tiba-tiba menghampirinya.


"Hai cantik siapa namamu?" Pria itu bertanya pada Cilla.


"Cilla om" Jawab Cilla, mata bulat berhias bulu yang lentik itu mengerjap bingung.


"Nama yang sangat cantik Cilla. Kalau nama kakaknya siapa?" Pria itu beralih menatap Evelyn dengan senyum menghiasi bibir pria itu.


"Mama" Cilla memanggil lembut pada Evelyn. Pria itu tampak terkejut.


"Iya sayang, kenapa?" Eve menghadap pada Cilla, tak menjawab pria di hadapan nya yang sok kenal dan sok akrab itu.


"Cilla lapal, papa mana"

__ADS_1


"Dia tidak mungkin anakmu kan? kamu lebih cocok jadi kakak nya" Ucap pria itu lagi. Evelyn risih dibuatnya.


"Tapi dia memang anakku. Maaf sebentar lagi suami saya datang, sebaiknya anda pergi" Tegas Evelyn.


"Kamu sangat menarik nona, aku tau kamu hanya ingin menolakku dengan berpura-pura telah memiliki suami dan anak. Tapi aku tidak percaya, sayang sekali" Pria itu terkekeh.


"Dan sayang sekali anda salah bung! dia istriku" Noah merangkul dengan posesif tubuh Evelyn. Pria itu tersenyum masam.


"Ah baiklah, maaf kalau begitu saya permisi"


pria itu melangkah cepat meninggalkan Noah yang masih menatap tajam dirinya. Evelyn merasa suasana berubah mencekam, ia takut Noah akan marah padanya.


"Mas, dia datang sendiri aku tak mengundang nya" Ucap Evelyn sambil menatap takut pada suaminya.


"Iya aku tahu kamu memang tidak mengundangnya. Tapi pesona mu yang menariknya ke sini" Ucap Noah dengan raut kesal.


"Jadi?"


"Sepertinya aku harus mengurung mu hingga tidak ada siapapun yang melihatmu" Ucap Noah dengan seringai jahilnya.


****


Hai guys, maaf kemaren tidak sempat update ada kesibukan yang tak bisa ditinggalkan.


Btw, aku jadi kefikrian bikin novel sendiri untuk menceritakan kisah Aira dan Darrel supaya bisa lebih jelas dan tidak lompat-lompat, rencananya nanti menceritakan kehidupan Aira dan Darrel setelah menikah. menurut kalian gimana? adakah yang berminat untuk membaca nya nanti?


Ada saran untuk judulnya?


see u ❤️😘

__ADS_1


__ADS_2