Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Evelyn terbangun dari tidurnya setelah merasakan tenggorokan nya kering. Ia melirik gelas yang sudah kosong, meski malas Eve beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum.


Evelyn menuangkan air ke dalam gelas dan menyesapnya, rasa segar menyapa saat air dingin itu mengaliri tenggorokan nya.


Eve kembali mengisi air ke dalam gelas untuk berjaga saat ia kembali merasa kehausan.


Langkah kaki yang semakin mendekat membuat Eve menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Jantung Evelyn berdegup saat melihat Noah dengan piyama tidur dan rambut yang acak-acakan berjalan ke arahnya. Pria itu begitu tampan meski dengan tampilan seperti itu.


Noah berjalan dengan mata yang menatap tajam ke arah Evelyn.


"Eve kenapa belum tidur" Suara serak Noah menyadarkan gadis itu dari lamunan nya.


"Aku terbangun karena haus kak. Kakak mau minum?" Tawar Evelyn, pria itu mengangguk.


"Biar aku yang ambil kak" Ucap Eve, ia segera mengambil gelas dan mengisinya kemudian menyerahkan nya pada Noah yang terlihat menatap dalam padanya. Evelyn sedikit grogi karena nya.


"Terimakasih" Bisik Noah seraya menerima gelas yang diberikan Evelyn. Ia menenggak air putih itu hingga tandas lalu kembali menyerahkan gelasnya pada Evelyn. Ada gurat kesedihan di wajah Noah yang membuat Evelyn begitu ingin tahu penyebab kegelisahan dari pria yang begitu ia cintai itu. Namun nyali nya terlalu kerdil untuk bertanya, karena nya Evelyn memutuskan untuk kembali ke kamar.


"Sudah mau kembali ke kamar?" Tanya Noah saat melihat Eve mulai melangkah meninggalkan dapur.


"Iya, ada apa kak?" Tanya Evelyn setelah menghentikan langkahnya


"Bisa temani aku sebentar?" Evelyn mengernyit heran saat melihat tatapan penuh permohonan di mata Noah. Tatapan yang entah mengapa membuat hati Evelyn berdenyut sakit.


"Ehem maaf, lupakan Eve. Selamat malam" Noah tersenyum tipis dan segera membalikkan badannya untuk meninggalkan Evelyn menuju kamarnya.


"Aku mau" Jawab Evelyn cepat, Noah menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Evelyn.


"Kamu belum mengantuk?"

__ADS_1


Evelyn menggeleng, Noah berjalan ke arah Eve dan meraih tangan gadis itu. Noah menuntun Evelyn menuju ruang keluarga.


Keduanya duduk berdekatan di sofa yang cukup besar. Noah tak berniat menghidupkan lampu ruangan itu sehingga suasana tampak temaram.


"Kakak kenapa?" Evelyn memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak apa-apa Eve. Aku hanya belum ingin kembali tidur setelah tadi terbangun" Jawab Noah sendu.


"Kakak mimpi buruk?" Suara Evelyn yang terdengar penuh perhatian membuat hati Noah menghangat.


"Aku pria dewasa yang tidak seharusnya takut hanya karena mimpi buruk kan? tapi nyatanya mimpi itu begitu menggangguku" Ucap Noah sambil terkekeh.


"Perasaan takut itu manusiawi kak, kalo boleh tau kakak bermimpi tentang apa?"


Noah tak menjawab, ia hanya menatap dalam pada Evelyn. Dari tatapan itu Eve menangkap keraguan. Sepertinya Noah tak begitu yakin untuk menceritakan nya pada gadis itu.


"Nggak apa-apa kalau kakak nggak mau cerita" Lanjut Evelyn.


"Mungkin kakak terlalu merindukan kak Syahira" Ucap Evelyn asal.


"Yah, sepertinya aku memang merindukan nya" Ucap Noah lirih. Evelyn tersenyum getir, ucapan Noah sedikit menggoyahkan kepercayaan dirinya. Evelyn jadi menyangsikan ucapan Syahira yang mengatakan bahwa Noah masih mencintainya.


"Aku sangat merindukan nya" Bisik Noah lagi namun dengan tatapan begitu lekat pada Evelyn.


"Aku sangat sangat merindukan nya" Jantung Evelyn berdetak lebih cepat, tatapan mata Noah seolah mengunci tubuhnya hingga ia tiba-tiba merasa sesak. Evelyn merasa seolah kata rindu yang terucap ditujukan untuknya. Katakanlah ia terlalu percaya diri, namun Evelyn tak bisa menepis anggapan itu, semua tampak jelas di mata Noah.


"Dia juga sangat merindukan mu" Perlahan kata-kata itu terucap dari bibir Evelyn dengan tatapan yang tak kalah dalam. Berharap Noah mampu merasakan getaran rindu yang berasal dari kedalaman hatinya.


"Dia tidak mungkin merindukanku Eve, dia meninggalkan ku, membuang ku dengan begitu kejam" Air mata Evelyn luruh bersamaan dengan senyum getir yang tergambar di wajah Noah. Noah seakan tengah menampilkan luka yang ia rasakan. Luka yang selama ini ia simpan dengan begitu rapat.

__ADS_1


"Dia membuatku menjadi pria yang menyedihkan Evelyn" Senyum getir itu tak kunjung hilang, mencabik hati Evelyn dengan sadisnya.


Noah tersentak saat melihat air mata yang menyusuri pipi Evelyn. Ia menghela nafas kasar. Ia harus menyudahi pembahasan yang sudah terlalu dalam.


"Ah, kenapa obrolan kita jadi seperti ini. Kembalilah ke kamar Eve, sepertinya aku butuh melanjutkan tidurku" Ucap Noah kemudian sebelum Evelyn sempat mengutarakan isi hatinya.


"Keluarkan apa yang mengganjal di hati mu kak. Aku siap mendengarkan" Noah terpaku sesaat, sepertinya Evelyn menolak untuk mengakhiri pembicaraan ini.


"Sudah cukup Eve, terimakasih sudah mau menjadi pendengar ku"


"Sampai kapan kakak ingin terus bersembunyi? apa kakak tidak lelah terus mengingkari perasaan kakak yang sebenarnya?" Entah keberanian dari mana, namun Evelyn ingin segera mengakhiri kebekuan ini. Ia ingin mereka saling mengutarakan perasaan yang sekian lama terpendam.


"Apa maksud mu Evelyn? aku sama sekali tidak mengerti"


"Kakak masih menyimpan kekecewaan padaku? Bisakah kita luruskan permasalahan diantara kita kak?" Ucap Evelyn akhirnya.


"Sama sekali tidak Eve, aku sudah melupakan nya. Aku tidak merasa kita memiliki masalah apapun" Jawab Noah setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Tidurlah Eve, jangan dibahas lagi. Semua sudah berlalu. Aku yang banyak bersalah padamu dan berharap pengampunan dari mu. Jadi tak tersisah sedikitpun kekecewaan di hatiku kepadamu" Lanjut Noah lagi.


"Tidak kak, banyak hal yang harus kita bahas agar tidak ada lagi yang mengganjal. Kumohon beri aku waktu untuk meluruskan ke salah pahaman diantara kita" Ucap Evelyn dengan tatapan penuh permohonan.


"Aku tidak bisa hidup dengan baik sejak 5 tahun yang lalu. Aku dihantui rasa bersalah karena telah menyakitimu sedemikian dalam kak. Aku yang membutuhkan pengampunan dari mu. Apapun akan aku lakukan sebagai penebusan atas ketidak bersyukuran ku dipertemukan dengan orang sebaik dirimu"


Noah terpaku menatap Evelyn, kata-kata yang terlontar dari bibir Evelyn menggetarkan hatinya, Kilasan masa lalu tiba-tiba begitu lekat diingatan nya.


"Lupakanlah Eve, aku sama sekali tidak menyalahkan mu. Aku yang bersalah, sikapku yang memaksamu untuk melakukan itu. Jangan menyesalinya lagi Eve. Jangan merasa bersalah, aku baik-baik saja."


Pembicaraan ini begitu menyiksa perasaan Noah, ia ingin segera menyudahinya. Masa lalu yang sudah ia simpan begitu rapinya perlahan kembali muncul menyesakkan dadanya. Noah segera bangkit dan bergegas meninggalkan Evelyn tanpa menoleh, mengabaikan panggilan gadis itu.

__ADS_1


"Kak aku belum selesai bicara" Lirih Evelyn dengan air mata yang mengalir deras.


__ADS_2