Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tiga Puluh Lima


__ADS_3

"Mama, Eve kangen. Mama apa kabar? Maaf baru bisa datang sekarang ya ma, mama gimana di sana? uda bahagia pasti ya ma ketemu papa" Akhirnya Eve tiba di tempat peristirahatan mama nya. Makam itu tampak terawat meski ia tak pernah datang mengunjunginya. Eve harus berterimakasih pada penjaga makam yang merawatnya.


"Mama, Eve sekarang udah lebih baik. Eve sudah cukup bahagia dengan kehidupan yang Eve jalani sekarang. Tapi ada sesal di hati Eve, kenapa di saat mama masih hidup Eve tidak bisa membahagiakan mama. Saat Eve sudah stabil secara finansial mama malah uda nggak ada." Air mata Evelyn meleleh, mengingat kembali kehidupannya dulu bersama sang mama yang cukup memprihatinkan.


"Mama maaf ya, karena ingin menghindari kak Noah Eve nggak pernah datang buat jenguk mama. Ini Eve lakukan sebagai bentuk balas budi untuk mereka. Mereka yang bantuin ngurusin semuanya saat mama pergi. Iya ma, kak Noah sudah memiliki istri. Istrinya cantik dan baik. Karena itu Eve nggak mau keberadaan Eve mengganggu keharmonisan keluarga mereka. Mama pasti ngerti kan sama keputusan Eve? Ma Eve kangen banget sama mama. Banyak hal yang uda Eve lewatin tanpa mama, Oh ya ma Eve punya teman namanya Satria. Dia uda beberapa kali ingin melamar Eve, tapi hati Eve masih belum mau menggantikan Noah dengannya. Eve bingung banget ma, Satria pria yang baik. Tapi karena kebaikannya itu Eve nggak mau sembarangan menentukan keputusan. Eve nggak mau malah menyakiti hatinya dengan tergesa menerima, Eve bingung ma." Eve menyusut air mata yang membasahi pipinya dengan ujung jarinya. Ia terus menceritakan apa yang ingin ia ungkapkan. Semua yang terlintas di kepalanya ia tuturkan seolah ia tengah berhadapan dengan sang mama.


Hatinya perlahan merasa lega setelah mengeluarkan semua isi hatinya pada wanita yang teramat ia cintai. Meski tak ada jawaban apapun tapi Eve merasa mamanya mendengar semua keluh kesahnya.


Gadis itu mengusap nisan yang bertuliskan nama mamanya. Ia melantunkan doa untuk kebahagiaan ke dua orang tuanya di kehidupan yang lain.


Tak terasa dua jam berlalu. Meski berat Eve memutuskan untuk kembali, perutnya sudah berbunyi karena ia belum sarapan saat mengunjungi makam sang mama.


"Eve pulang dulu ya ma, Eve lapar." Eve menyunggingkan senyum nya.


"Besok Eve datang lagi, mungkin Eve akan berada di sini selama satu minggu. Jadi Eve akan setiap hari ke sini." Eve mencium nisan mamanya kemudian beranjak dari tempat itu, hatinya terasa ringan seolah beban berat yang menghimpit dadanya telah terangkat. Kerinduan pada wanita terbaiknya sedikit terobati saat menyentuh tanah dan nisan nya. Selama ini Evelyn hanya mampu bercerita dan berdoa dengan memandangi foto sang mama.


Saat sudah di taxi Evelyn merogoh tasnya untuk melihat ponsel. Ada banyak pesan dan panggilan dari Satria. Evelyn tersenyum membaca pesan-pesan penuh rayuan yang Satria kirimkan.


Eve mengirimkan balasan pada salah satu pesan yang Satria kirimkan. Ia menyetujui permintaan pria itu yang mengajaknya bertemu untuk makan siang bersama dua jam lagi.


***


Eve mendekat pada meja yang Satria duduki. Pria itu melambaikan tangannya saat melihat Evelyn di pintu masuk tempat makan yang ia pilih.


Eve tampak cantik dengan kaos lengan pendek berwarna putih yang dipadukan dengan rok selutut warna pink lembut. Gadis itu terlihat semakin anggun dan manis dengan rambut panjang yang ia gerai dilengkapi bando berwarna senada dengan rok yang ia pakai.


"Kadar kecantikan kamu bertambah sepuluh kali lipat dengan baju ini nona" Ucap Satria setibanya Evelyn di tempat ia berada. Satria beranjak dari duduknya untuk menarik kursi yang akan Evelyn duduki.

__ADS_1


"Terimakasih untuk pujian serta kursinya tuan Satria" Balas Evelyn sambil tersenyum manis. Ia sudah terbiasa dengan segala bentuk gombalan dari pria itu.


"Apapun untuk mu Eve. Gadis spesial yang tak pernah beranjak dari hati dan fikiran ku." Ucap Satria sambil terkekeh.


"Uda lama nunggu?" Evelyn memilih untuk tidak meladeni lebih lanjut atau Satria tak akan berhenti mengeluarkan rayuan-rayuan mautnya.


"Sejak tiga tahun yang lalu Eve. Meski tak kunjung ada jawaban aku tak pernah lelah menunggu" Sial Evelyn salah melontarkan pertanyaan. Niat hati ingin menyudahi malah pertanyaan nya menambah bahan bagi pria itu.


"Sat aku lapar stop basa basi" Evelyn pura-pura merajuk


"Aduh gemes banget kalo lagi ngambek gini. Makin nggak sabar pengen bawa ke penghulu" Satria terkekeh lagi melihat wajah Evelyn yang semakin masam. Tak ingin membuat Evelyn benar-benar kesal, Ia segera memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.


Tak perlu menunggu terlalu lama makanan yang mereka pesan telah terhidang. Satria dan Evelyn menyantap makanan sambil diselingi dengan mengobrol hingga tak terasa makanan yang berada di piring mereka tandas.


"Hai Satria, ternyata benar aku nggak salah lihat" Satria mengangkat wajahnya saat ada yang menyapa nya begitupun Evelyn yang menoleh cepat ke arah sumber suara. Ia sangat mengenali suara itu dan benar saja ia terpaku saat melihat sosok itu kembali. Tiga tahun sudah berlalu namun tak banyak yang berubah dari pria yang tak lain adalah Noah, Ia malah semakin tampan dan matang.


"Lama nggak ketemu, lagi cuti?" Mata Noah masih fokus pada Satria.


"Iya lagi ambil cuti, nemenin calon istri mengunjungi mamanya" Ucap satria jahil sambil menatap Evelyn. Keningnya sedikit berkerut saat melihat Evelyn yang terpaku menatap pada Noah dan seakan tak menyadari apa yang ia lontarkan.


Noah ikut menoleh pada sosok yang sejak tadi belum ia sadari. Ekspresi pria itu tak jauh berbeda saat menyadari keberadaan gadis yang telah lama menghilang dari hidupnya. Namun Noah cepat menguasai keadaannya. Ia tersenyum pada Eve yang masih menatap nya dengan tatapan penuh kerinduan. Tapi Noah mengabaikan nya ia tak mau salah tafsir terlebih saat mengingat sebutan Satria untuk Evelyn.


"Eve? apa kabar?" Tanya Noah untuk memecah kecanggungan. Namun Eve masih tak bergeming, tak ada jawaban dari bibir itu.


"Kalian uda saling kenal?" Eve tersentak dari keterpanaan nya saat mendengar suara Satria.


"Iya aku dan Eve dulu satu sekolah" Jawab Noah. Satria menatap pada Eve, gadis itu tampak salah tingkah.

__ADS_1


"Iya kita dulu satu SMA Sat. Kalian sendiri saling kenal?" Tanya Eve pada Satria.


"Iya, Dia kakak ipar aku. Lebih tepatnya Kak Noah suaminya kakak sepupu aku" Jawab Satria. Namun matanya masi tak lepas menatap Evelyn, dari raut wajah Evelyn sepertinya Satria bisa menyimpulkan sesuatu.


"Oh gitu, gimana kabar kak Syahira kak? oh ya bayi kalian perempuan apa laki-laki?" Tanya Evelyn sedikit terbata. Hatinya masih bergetar hebat saat berada di dekat Noah.


"Syahira baik, anak kami perempuan. Usianya hampir tiga tahun" Jawab Noah yang mendapat senyum getir dari Evelyn.


"Salam buat kak Syahira ya"


"Iya nanti aku sampaikan. Syahira pasti senang mendengar kabar bahwa kamu akan menjadi adik iparnya" Ucap Noah sambil melempar senyum pada Satria yang membalasnya dengan senyum tipis.


"Adik ipar? Satria?" Evelyn menatap pada Satria tak mengerti.


"Sayang jangan malu-malu gitu. Maaf ya kak Noah Evelyn masih suka malu-malu membicarakan hubungan kami sama orang lain" Ucap Satria sambil tertawa begitupun Noah. sementara Evelyn menatap tajam pada Satria yang berbicara seenaknya.


"Hemm kalau gitu aku permisi dulu mau kembali ke kantor ya. Kalian lanjut lagi maaf mengganggu." Noah menatap pada Evelyn lalu tersenyum hangat.


"Selamat ya untuk kalian, kalian benar-benar cocok. Jangan lupa undangannya segera" Noah beralih menatap pada Satria.


"Iya makasih kak, doakan segera ya" Ucap Satria yang dibalas anggukan oleh Noah. Evelyn memilih tak peduli dengan percakapan tak jelas mereka berdua.


Mata Evelyn mengikuti kepergian pria yang terlihat semakin gagah dengan pakaian kerjanya itu. Sepertinya Noah baru selesai meeting dengan klien. Ternyata dunia memang begitu sempit Eve tak menyangka Satria adalah sepupu dari istri Noah.


'Sungguh cantik permainanmu dunia' batin Evelyn dengan senyum getir.


"Dia pria itu kan Eve?" Tanya Satria sambil menatap tajam pada Evelyn.

__ADS_1


__ADS_2