Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

"Sayang, bangun" Bisik Evelyn di telinga suaminya. Sepertinya Noah begitu lelah hingga meski Evelyn telah selesai dengan kegiatan paginya menyiapkan sarapan pria itu masih jatuh dalam lelap.


Noah masih tak bergeming, hanya dengkuran halus yang terdengar.


"Mas, nanti kesiangan ke kantornya" Eve menggoyangkan tubuh Noah dengan lembut. Bukannya bangun Noah malah menarik tubuh Eve kemudian memeluknya dengan begitu erat.


"Mas aku sulit bernafas" Eve mencoba membebaskan diri dari kungkungan suaminya, namun tenaga nya tidak cukup kuat untuk membebaskan diri.


"Sayang aku harus ke kamar Cilla. Nanti Cilla keburu bangun sementara aku masih di sini, Cilla pasti kecewa tidak melihat aku saat membuka mata" Rengek Evelyn, namun ia tak lagi bergerak. Ia malah meresapi kenyamanan berada dalam dekapan hangat suaminya.


"Pagi ini aku sedang ingin bermanja dengan istriku. Sekali-sekali Cilla harus mengalah sama papanya" Ucap Noah tanpa membuka matanya. Evelyn tersenyum, tak habis fikir dengan sikap suaminya. Belum sempat Evelyn menjawab tiba-tiba Noah mengubah posisi menindih tubuh mungil Evelyn dan membenamkan kecupan di seluruh wajah istrinya.


"Aku merindukan mu" Bisik Noah dengan tatapan mendamba pada istrinya. Evelyn membulatkan matanya.


"Tadi malam kita sudah melakukan nya dua kali mas" Cebik Evelyn.


"Aku ingin lagi" Bisik Noah untuk sesaat kemudian kembali membenamkan bibirnya pada bibir Evelyn. Jangan salahkan dirinya, tubuh Evelyn terlalu indah hingga membuat Noah hampir tak bisa melewatkan cumbuan dengan penuh pemujaan pada tubuh itu. Tubuh Evelyn mengandung candu yang membuat pria itu tak bisa menahan diri untuk tidak menikmatinya.


Evelyn hanya bisa pasrah menerima dan menikmati serangan suaminya, sepertinya Cilla memang harus mengalah pada sang papa yang berubah begitu manja pagi ini.


30 menit kemudian setelah pergumulan panas mereka, Evelyn kira Noah akan membebaskan nya Ia ingin segera membersihkan tubuh dan bergegas menuju putri kecilnya. Namun sayang Evelyn lagi-lagi tak berdaya menolak permintaan suaminya, ia kembali pasrah saat pria itu menggendong tubuhnya menuju kamar mandi.


"Aku bantu, kamu pasti kelelahan" Ucap Noah dengan seringai penuh arti. Evelyn memutar matanya malas, Ia sudah hafal dengan niat terselubung Noah. Ucapan tak ingin Evelyn kelelahan berjalan menuju kamar mandi yang hanya beberapa langkah hanya tipu daya belaka nyatanya ia justeru tengah bersiap untuk membuat istrinya lebih lelah.


"Celamat pagi putri mama" Evelyn menyapa putrinya yang sudah nampak rapi dan segar. Benar saja bibir Cilla mengerucut dengan sangat menggemaskan, ia sedang merajuk pada Eve yang tak ada di sampingnya saat ia membuka mata. Bagaimana tidak, Noah baru membebaskan Evelyn satu jam lebih lambat dari waktu bangunnya Cilla.

__ADS_1


"Hei cantik, kok manyun? Maafin mama ya" Evelyn menciumi wajah putrinya.


"Iya sayang, tadi papa sakit perut. Jadi mama ngobatin papa dulu" Noah yang baru bergabung di meja makan menyahuti percakapan istri dan anak nya.


Evelyn mencebik ke arah Noah sementara pria itu melempar seringai jahil pada gadis itu.


"Papa cakit?" Cilla menatap iba pada sang papa.


"Iya, tapi udah sembuh diobatin mama. Mama Cilla dokter yang hebat" Jawab Noah sambil mengangkat dua jempol nya.


"Mama hebat" Tawa ceria itu kembali menyapa bibir mungil Cilla. Ia menatap penuh kekaguman pada Evelyn yang sibuk menyiapkan sarapan untuknya dan Noah.


****


"Tante sehat?" sapa Evelyn dengan suara bergetar, ia tak bisa menyembunyikan kegelisahan nya.


"Iya tante sehat, kamu gimana?" Evelyn kembali terkejut saat mendengar suara lembut dan tatapan sendu wanita paruh baya itu. Apakah ia sedang bermimpi? kenapa mama Syahira bersikap jauh berbeda dengan waktu itu. Keangkuhannya sama sekali tak terlihat.


"A-aku sehat tante" Balas Eve setelah berhasil menguasai keterkejutannya. Jujur ia merasa sedikit lega sekarang. Keheningan menyapa hingga asisten rumah tangga menghidangkan minuman dan cemilan ke atas meja.


"Silahkan nyonya" Ucap snag asisten


"Iya terimakasih" Mama Syahira mengangguk.


"Tante diminum ya, tante sendirian?" meski masih ada sedikit kekhawatiran namun Evelyn mencoba untuk bersikap ramah pada mertua dari suaminya itu

__ADS_1


"Iya terimakasih Eve. Tante diantar sopir" Kembali hening, Eve kembali terdiam. Menanti mama Syahira menyampaikan maksud kedatangan nya.


"Cilla di mana? apa cucuku sehat?"


"Sedang bermain, iya Cilla sehat. Makin hari makin cerewet dan ingin tahu tentang banyak hal" Evelyn semakin merasa lega saat melihat senyum di bibir lawan bicaranya.


"Syukurlah, Eve terimakasih sudah merawat cucuku dengan baik. Tante juga mau minta maaf untuk sikap tante tempo hari. Tante menyesal terlalu cepat menyimpulkan hingga membuat kamu dan Noah tidak nyaman" Ada rasa bersalah yang tampak jelas di wajah mama Syahira.


"Tante termakan hasutan hingga tante tidak berfikir panjang. Maaf untuk ucapan tante yang sempat melukai hati kamu" Noah memang telah menceritakan pada Eve bahwa ia menerahkan diary Syahira kepada mama mertuanya, namun mereka tidak berani terlalu berharap hal itu akan berhasil.


"Iya tante, Eve juga minta maaf kalau kehadiran Eve membuat tante tidak nyaman. Tapi percayalah tante, Eve tulus menyayangi Cilla" Ucap Evelyn lembut.


"Iya tante tau itu, Syahira juga mengatakan bahwa kamu gadis yang baik yang pasti bisa mengurusi Cilla dengan baik. Maafkan tante yang sempat berprasangka buruk pada kamu dan Noah. Tante sangat menyesalinya. Tidak seharusnya tante menyakiti hati kalian yang begitu baik"


"Iya tante tidak apa-apa. Eve dan mas Noah sudah memaafkan tante jauh sebelum tante meminta maaf. Kami tidak mungkin menyimpan kemarahan untuk tante yang sudah kami anggap orang tua kami. Kita bisa merawat Cilla bersama-sama agar Cilla mendapatkan kasih sayang yang utuh tante" Mama Syahira begitu terharu, ia bersyukur cucunya diasuh oleh orang yang tepat.


"Tante mau ketemu Cilla?" Hilang sudah ketakutan Evelyn yang sempat mengira mama Syahira datang untuk mengambil Cilla.


"Iya Eve, tante sudah sangat merindukan cucuku yang sangat menggemaskan itu" Keduanya tersenyum. Eve merasa sangat lega, lagi-lagi Tuhan begitu baik padanya. Permasalahan yang sempat hadir dan membuat resah begitu mudah mereka selesaikan.


Dua wanita beda generasi itu berjalan bersamaan menuju taman belakang untuk menemui Cilla.


Evelyn merasa sangat terharu saat melihat betapa Cilla bahagia bertemu oma nya. Evelyn bisa membayangkan betapa sedihnya Cilla andai permasalahan mereka tak kunjung usai.


Senyum tersungging di bibir Eve melihat interaksi Cilla dan oma nya. Ia menghela nafas lega, satu rintangan telah berhasil mereka lewati.

__ADS_1


__ADS_2