
Aira tak pernah merasa begitu bersemangat seperti hari ini saat akan bertemu dengan Darrel. 3 jam sebelum Darrel menjemput Aira sudah mempersiapkan dirinya, beberapa kali ia mengganti bajunya agar tampil sempurna.
"Kamu ngerjain mama ya nak?" Ucap Aira sambil mengusap dan menatap perutnya, sungguh ini sangat menyenangkan. Mengajak janin di dalam kandungnya berbicara sepertinya akan menjadi kebiasaan barunya. Begitu menyenangkan menyadari bahwa ia kini tak lagi sendiri.
Aira tau, apa yang terjadi antara ia dan Darrel adalah sebuah kesalahan. Tapi bolehkah ia berbahagia atas kehadiran calon buah hati mereka? Menyadari sebuah kesalahan bukan berarti harus membuang bayi yang tak berdosa ini bukan? Yah Aira tak ingin menambah dosa dengan melenyapkan bayi yang tumbuh di rahimnya. Aira memilih bertanggung jawab atas kesalahan nya.
Aira menemui Darrel yang sudah menuggu di teras rumahnya. Ia menenangkan degup jantung yang berdetak dengan cepat.
"Berangkat sekarang?" Tanya Darrel saat Aira sudah ada di hadapan nya.
"Iya Rel" Jawab Aira dengan senyum tipisnya. Aira berusaha menahan diri agar tidak terlalu menampakkan kerinduannya pada Darrel. Padahal sejak tadi ia begitu ingin memeluk pria itu.
Darrel membawa Aira ke privat room sebuah restoran mengingat semalam Aira mengatakan ingin berbicara dengan nya. Ia tak mau obrolan mereka mendapat gangguan.
"Mau makan apa?" Tanya Darrel lembut. Aira sudah terbiasa dengan sikap lembut Darrel sejak dulu, namun hari ini perasaan nya berbunga-bunga menerima semua perlakuan pria itu padanya, semua tampak manis di mata Aira.
"Apa aja Rel, aku ikut kamu aja" Aira terus berusaha bersikap santai seperti biasanya. Darrel memesan menu untuk mereka berdua. Ia sengaja memesan makanan favorit Aira.
Setelah beberapa menit menunggu makanan yang dipesan telah terhidang di meja makan, awalnya mata Aira berbinar melihat sop iga kesukaan nya yang begitu menggugah, namun saat ia mulai mencium aroma nya tiba-tiba Aira merasa begitu mual. Ia menahan diri agar tidak muntah dengan menjauhkan diri dan memalingkan wajahnya untuk menetralkan penciuman nya.
"Kamu kenapa Ra?" Tanya Darrel yang melihat reaksi Aira yang terlihat aneh.
"Aku tidak apa-apa Rel. Tapi sepertinya aku sedang tidak bisa makan, a-aku mual" Ucap Aira ragu. Kening Darrel berkerut heran
"Kamu sakit Ra?"
Air sudah tidak tahan dengan bau makanan yang menguar. Ia menjauh menuju sudut sofa yang cukup jauh dari meja makan. Darrel segera menyusul gadis itu dengan penuh tanya.
"Rel maaf, kamu makan sendiri ya. Aku tunggu kamu di sini setelah itu baru kita bicara" Aira menatap penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Ra sebenarnya kamu kenapa?" Darrel duduk di samping Aira cukup dekat hingga aroma tubuh pria itu menyapa hidung Aira. Gadis itu tiba-tiba memejamkan matanya, perasaan nya terasa lebih nyaman sekarang.
"Aku tidak apa-apa Rel, kamu makan saja dulu. Nanti saja bicaranya" Ucap Aira.
"Kita bicara sekarang. Aku tidak mau makan sendiri" Putus Darrel.
Aira terdiam untuk beberapa saat, baiklah jika memang Darrel ingin bicara sekarang mungkin sudah saat nya.
Aira menyerahkan sebuah kotak kecil memanjang pada Darrel. Pria itu semakin kebingungan.
"Buka Rel" Aira menatap dalam pada Sahabatnya.
Darrel membuka kotak dan menemukan benda yang sebenarnya tidak asing namun otaknya tak langsung mampu mencerna nya.
"Apa ini Ra?" Darrel mengangkat benda pipih itu dan membolak-balikkan nya.
"Maksudnya apa Ra?"
"Aku hamil Rel, aku sudah telat menstruasi 2 minggu dari jadwalnya." Aira menundukkan kepalanya, takut akan reaksi pria itu. Darrel memang berulang kali menawarkan tanggung jawab padanya, namun ia tidak yakin Darrel akan menerima kehadiran janin ini.
"Rel, setelah malam itu aku tidak pernah tidur dengan siapapun lagi. Aku bisa menjamin bayi yang aku kandung adalah anak kamu. Kamu setuju atau tidak aku akan mempertahankan nya Rel. Kalaupun kamu tidak mau menerimanya...."
"Ra kamu bicara apa?" Darrel memotong Aira sebelum gadis itu melanjutkan kalimatnya.
"Lihat aku Ra" Bisik Darrel lembut. Ia meraih dagu Aira agar menatap padanya.
"Kamu beneran hamil?" Aira melihat mata itu begitu berbinar dan penuh harap. Aira hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu ingin mempertahankan nya? kamu tidak membencinya?" Tanya Darrel lagi.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin membenci darah daging ku sendiri Rel. Kita yang bersalah, kenapa aku harus membencinya?" Tegas Aira, keningnya berkerut saat air mata menetes dari mata Darrel namun senyumnya tersungging lebar.
Darrel menarik Aira ke dalam dekapan nya, Aira membeku saat Darrel menghujami puncak kepalanya dengan banyak kecupan
"Terimakasih kamu mau mempertahankan bayi kita Ra, terimakasih sudah bersedia mengandungnya. Aku sangat bahagia, kita akan merawat dan menjaganya bersama kan Ra"
Darrel tak bisa menutupi rasa haru akibat terlalu bahagia, ia tak menyangka ia akan menjadi ayah terlebih Aira sama sekali tak membenci bayi mereka meski cara mereka menghadirkan nya adalah salah.
"Ra, menikahlah dengan ku. Kita harus memberinya orang tua yang lengkap. Aku mohon jangan keras kepala" Ucap Darrel sambil mengusap perut Aira yang masih datar. Tubuh Aira menegang sentuhan Darrel membuatnya seolah tersengat.
"Ra" suara berat penuh permohonan Darrel membuat Aira segera tersadar dari kebekuan nya.
"Iya Rel aku mau" Ucap Aira sambil tersenyum. Mata Darrel membulat sempurna seolah tak percaya Aira akhirnya menerima lamaran nya setelah berkali-kali menolak.
"Makasih Ra aku pasti akan selalu membahagiakan kamu dan anak kita Ra." Darrel memeluk erat tubuh Aira. Gadis itu hanya mengangguk.
'Tak apa meski papa tidak mencintai mama, melihatnya begitu bahagia dengan kehadiran kamu itu sudah cukup bagi mama sayang. Demi kamu mama akan mengikhlaskan semuanya' Bisik Aira.
"Jadi karena itu kamu mual? Jadi kamu mau makan apa Ra? kamu harus makan, bayi kita harus mendapat nutrisi yang cukup" Ucap Darrel penuh semangat.
"Aku tidak tau Rel, belum ada makanan yang aku inginkan sekarang" Aira benar-benar belum bernafsu memikirkan makanan apapun.
"Kamu sudah berapa lama merasakan ini? pasti kamu merasa tersiksa ya Ra" Rasa khawatir bercampur rasa bersalah terpancar pada matanya.
"Baru hari ini kok Rel, mungkin dia ingin aku benar-benar menyadari keberadaan nya mengingat aku mengabaikan nya selama ini" Ucap Aira sambil tersenyum. Darrel merasakan kehangatan mendengar ucapan Aira.
"Sayang maafin papa dan mama ya, tidak menyadari keberadaan mu selama ini. Jangan ngambek sayang, kasihan mama nggak bisa makan" bisik Darrel sambil mengusap perut Aira.
Sungguh Dada Aira terasa membuncah atas perlakuan dan ucapan Darrel. Ia tak menyangka Darrel akan bersikap semanis ini, ia merasa menjadi wanita yang paling bahagia karena nya. Meski Darrel tak mencintainya namun perhatian seperti ini rasanya sudah cukup baginya. Aira semakin mantap untuk menikah dengan Darrel.
__ADS_1