Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

"Maafkan istriku Eve" Sebutan 'istriku' yang terucap dari bibir Noah membuat hati Evelyn berdenyut sakit. Padahal tidak ada yang salah, Syahira memang istri Noah. Tapi mengingat mereka pernah merangkai mimpi berdua, dulu beberapa kali Noah memanggil Eve dengan sebutan istriku dengan maksud menggoda membuat Evelyn merasa tak rela Noah memberikan sebutan itu pada orang lain. Yah Evelyn memang mengakui bahwa ia sungguh tak tahu diri dalam hal ini.


"Iya kak" Ucap Evelyn singkat. Sebelumnya Noah meminta Syahira beristirahat dan meminta waktu berbicara berdua dengan Evelyn. Tentu saja Syahira mengizinkan nya, ia berharap Eve dan Noah membahas kembali hubungan mereka.


"Akhir-akhir ini Syahira memang sering berfikir tak masuk akal. Aku harap kamu tak mengambil hati setiap ucapan nya." Tampak sekali kebingungan di mata pria itu


Lagi-lagi hati Evelyn terasa remuk. Ucapan yang mana yang tak perlu ia ambil hati? nyatanya setiap ucapan Syahira berhasil membuatnya bahagia dan merasa hidup kembali walaupun ia tak berniat menuruti permintaan wanita itu.


Ia berharap Noah memang masih mencintainya meski mereka tidak akan bersama, setidaknya ia tidak merasa mencintai sendirian.


"Lakukan apa yang akan membuatmu nyaman Eve. Jangan pedulikan Syahira, aku akan memberikan pengertian padanya. Hiduplah dengan bahagia, jangan sampai orang lain menjadi hambatan mu melangkah dalam meraih kebahagiaan kamu" Evelyn terhenyak, entah kenapa setiap ucapan Noah terdengar begitu menyakitkan. Kata-kata Noah mengandung makna ambigu, di satu sisi seolah mengusir Evelyn untuk pergi namun di sisi lain terdengar mengandung makna penuh sesal karena pernah menjadi penghambat langkah Evelyn meraih kebahagiaan nya di masa lalu.


Jika makna yang kedua yang Noah maksud gadis itu ingin sekali berteriak, menjelaskan pada Noah bahwa dulu ia salah. Menganggap Noah mengekangnya dan merasa tersiksa namun saat pria itu pergi Evelyn baru menyadari kesalahan nya. Ia begitu menginginkan berada dalam kungkungan pria itu lagi. Tapi sekarang semua sudah terlambat kan? Apapun yang ia katakan tak akan mengubah fakta bahwa mereka kini berdiri di dua sisi berbeda dipisahkan bentangan jurang pemisah yang dalam.


"Terimakasih untuk semuanya kak, maaf untuk luka dan kesakitan yang pernah aku berikan untuk kakak. Sampaikan permohonan maaf ku pada kak Syahira karena tak bisa memenuhi keinginan nya" Yah, Evelyn belum sempat memohon maaf pada Noah atas kesalahannya. Setelah ini ia tak tau akan kembali bertemu dengan Noah atau tidak. Namun kini ia bisa melangkah dengan ringan, tak adalagi penyesalan karena permohonan maaf telah terucap.


"Jadi kamu akan pergi Eve?" Tanya Noah sendu.


"Iya kak, jangan bilang kak Syahira dulu ya. Ceritakan setelah aku sudah tidak ada di sini. Mungkin aku tidak akan berada di kota ini lagi"


Evelyn tersenyum tulus, senyum terakhir yang akan ia persembahkan untuk pria yang ia cintai.

__ADS_1


"Jaga dirimu Evelyn, berbahagialah. Aku sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu. Aku juga meminta maaf untuk keegoisanku yang menyakitimu" Ucap Noah. Ada kegetiran dalam suara pria itu. Ia ingin bertanya ke mana Evelyn akan pergi, namun ia merasa tak lagi berhak untuk tau lebih banyak tentang gadis itu.


"Boleh aku memeluk kakak untuk terakhir kalinya?" Evelyn memberanikan diri meminta sesuatu yang sebenarnya sudah tak boleh ia minta, Ia menguatkan hatinya agar siap dengan penolakan Noah. Ia tau Noah adalah pria setia.


Di luar dugaan Noah mengangguk dan merentangkan tangan nya, dengan senyum dan deraian air mata Evelyn merengsek masuk ke dalam dekapan Noah, merasakan kembali kehangatan dan aroma tubuh pria itu.


'Aku mencintaimu kak, masih sangat mencintai mu' Bisik Evelyn di dalam hati. Cukup ia pendam sendiri perasaannya, tak perlu Noah tau. Ia memeluk Noah dengan erat, menghirup aroma tubuh Noah sebanyak-banyaknya.


"Kak, aku pergi" Evelyn melepaskan diri dari pelukan Noah. Menghapus air mata yang membanjiri wajah cantiknya.


"Eve terimalah ini" Noah mengambil uang yang ada di dompetnya.


"Tidak banyak, tapi mungkin bisa sedikit membantu" Evelyn ragu untuk mengambil pemberian Noah. Namun ia belum tau apa yang akan ia hadapi ke depan, ia harus menekan egonya.


Evelyn pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Noah yang memandangi kepergiannya. Evelyn telah bertekad akan menyimpan kisahnya bersama Noah yang telah benar-benar usai. Evelyn berharap ia bisa hidup lebih baik tanpa sesal yang menyesakkan.


Semoga masih ada harapan baginya untuk menjalani hidup dengan bahagia. Jatuh cinta lagi? Entahlah Evelyn belum berani berandai-andai lebih jauh


***


"Mas kenapa membiarkan Evelyn pergi? gadis itu sebatang kara. Ke mana dia akan pergi? apa kamu sama sekali tidak mengkhawatirkan Evelyn? Jangan sampai kamu menyesal mas" Syahira terisak saat mengetahui Evelyn telah meninggalkan rumah mereka.

__ADS_1


"Kita tidak bisa ikut campur terlalu dalam bagi kehidupan Evelyn Syahira. Dia berhak menentukan langkah bagi hidupnya" Noah berusaha memberikan pengertian pada Istrinya.


"Mas dia sendirian, ibunya baru saja pergi. Jiwanya belum terlalu kuat. Aku takut terjadi sesuatu sama dia. Ayo kita cari Eve, jemput Evelyn lagi mas" Syahira menggoyang-goyangkan tangan suaminya yang tampak tak bergeming.


"Dia akan semakin tertekan berada di sini Syahira. Bagaimana pun kita bukan siapa-siapa baginya. Evelyn mungkin sudah pergi jauh, dia sendiri yang bilang akan meninggalkan kota ini"


Syahira terkejut, menatap tajam suaminya.


"Kamu tega banget sama dia mas. Kita harus susul dia sekarang. Mungkin Evelyn belum benar-benar pergi"


Syahira begitu gemas saat melihat suaminya hanya diam tanpa pergerakan.


"Aku cari dia sendirian kalo kamu nggak mau mas" Syahira akan melangkah keluar namun tangan nya segera dicekal oleh Noah. Pria itu menuntun Istrinya untuk duduk di ranjang mereka. Mengusap air mata Syahira dengan lembut.


"Mengertilah Syahira, jangan memaksakan kehendak dan berfikir menurut versi kamu. Evelyn mungkin tidak selemah yang kamu fikir. Mana tau jiwanya malah semakin tertekan saat berada di sini" Ucap Noah dengan lembut.


"Beri ia waktu untuk sendiri Syahira. Aku tau niat kamu baik. Namun jangan sampai niat baik kamu malah menyakitinya. Kamu mengerti kan?" Noah menatap dalam pada Syahira. Berharap sang istri dapat merelakan Evelyn demi kebaikan bersama.


"Maafin aku ya mas, uda jadi penghalang antara kamu dan Evelyn" Ucap Syahira sendu.


"Maksud kamu apa? Jangan berfikir yang tidak-tidak" Noah menarik tubuh Evelyn ke dalam pelukannya, mengusap rambut istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Andai aku nggak ada mungkin kamu dan Evelyn bisa bersama" Ucap Syahira lagi.


"Aku uda bilang jangan berfikir berdasarkan versi kamu sendiri. Kisah ku dan Eve sudah usai, dia bukan takdir ku. Ingat sebuah kata bijak mengatakan apa yang menjadi takdirku tidak akan melewatkan ku sebaliknya apa yang melewatkan ku tidak mungkin menjadi takdirku."


__ADS_2