Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Dua Puluh


__ADS_3

Evelyn terpaksa harus mengambil cuti kuliah mengingat kondisi keuangan yang belum stabil. Selain karena faktor usia berita tentang korupsi papanya sudah menyebar hingga mama Evelyn kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Eve tak sampai hati jika mamanya harus banting tulang sendirian.


"Eve mau cuti kuliah dulu ma, Eve mau cari kerja aja" Putus Eve, saat melihat wajah lelah sang mama.


"Enggak nak, sayang kalo cuti. Lagian kamu mau kerja apa? cari uang biar jadi urusan mama ya. Kamu fokus aja sama pendidikan kamu"


"Cuti bukan berenti ma, suatu waktu saat keuangan kita memadai Eve pasti lanjut kuliah kok. Eve cuma punya mama sekarang. Eve nggak mau mama terlalu capek"


Senyum sedih terpancar di wajah wanita paruh baya itu. Ia memeluk Eve dengan rasa bersalah yang memenuhi hatinya.


"Maaf kamu harus ngerasain hidup susah nak" Sakit sekali rasanya mendengar suara sang mama yang menahan tangis.


"Bukan salah mama, ini memang garis takdir yang harus kita jalani ma. Kita pasti bisa lewatin ini semua" Ucap Eve sambil mengeratkan pelukannya pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Mereka kini harus tinggal di kontrakan sempit. Uang yang semakin menipis menuntut mereka untuk berhemat, sehingga mau tidak mau mereka mengontrak rumah seadanya. Yang penting ada tempat bernaung dari panas dan hujan.


"Besok Eve mau cari kerja, sebelum tabungan kita benar-benar habis. Mama di rumah aja, biar Eve yang kerja." Mama Evelyn tak mampu lagi menahan air matanya. Ia merasa sangat bersalah karena Evelyn harus menderita di usia mudanya.


"Jangan sedih ma, Tuhan kasih kita cobaan ini karena kita kuat untuk menjalani nya"


****


Dua tahun berlalu dan kehidupan Evelyn masih belum membaik. Mereka memutuskan pindah karena kota sebelumnya sudah tidak nyaman untuk mereka tinggali. Kota itu seakan tak menerima keberadaan mereka lagi.


Selama 2 tahun ini Evelyn sudah beberapa kali berganti pekerjaan. Mulai dari menjaga toko, menjadi, menjadi SPG, dan bekerja di pabrik sepatu dengan jam kerja yang padat namun gaji yang menyedihkan, dan terakhir saat ini ia bekerja sebagai pelayan restoran mewah dengan gaji yang lumayan.


Terkadang Eve sangat sedih karena sampai saat ini kuliahnya harus terhenti, entah kapan ia kembali ke kota itu. Kota yang melahirkan banyak kenangan sekaligus kesakitan.


Di kota itu ia pernah menjadi gadis yang sangat bahagia sebagai kekasih Noah, namun di kota itu juga akhirnya ia ditinggalkan karena kesalahannya sendiri. Kesalahan yang berakhir penyesalan hingga kini, nyatanya jarak dan waktu tak berhasil menghapus kenangan tentang Noah, seolah kutukan perasaan nya semakin dalam pada pria itu. Lukanya terus menganga tercipta dari rindu dan sesal yang semakin hari semakin banyak.

__ADS_1


"Pesanan meja 57" Ucap koki restoran sambil menyerahkan nampan makanan pada Eve.


Dengan hati-hati Eve melangkah membawa nampan makanan yang cukup berat ke meja yang dituju. Semakin dekat jantungnya berdetak cepat, ia seperti mengenali pelanggan di meja 57 itu.


Saat tiba di meja Eve berusaha menenangkan dirinya, Ia memasang senyum terbaik meski jantungnya kian tak menentu.


"Selamat malam ibu dan bapak, ini pesanan nya" ucap Evelyn ramah.


Ia mulai menghidangkan makanan itu satu persatu ke atas meja.


"Eve? kamu Evelyn?"


Ucap wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik.


"Iya benar kamu Evelyn"


"Baik sayang, kenapa jadi panggil ibu. Walaupun uda putus sama Noah tetap panggil mama yah. Jangan berubah" Wajah tulus wanita itu membuat rasa bersalah itu begitu besar. Ia telah menyakiti Noah namun sang mama masih begitu baik padanya.


"I iya ma" Jawab Evelyn kaku.


"Kamu kenapa ada di sini Eve?" Papa Noah ikut menyapa Evelyn.


"Uda 2 tahun Eve pindah ke sini pa"


Ucap Evelyn sendu, bayangan kelam 2 tahun silam kembali memenuhi otaknya.


"Selama di sini pernah ketemu Noah?"


Jantung Evelyn berdetak lagi, jadi Noah juga berada di kota ini? Kenapa takdir tak memberinya kesempatan padanya untuk bertemu satu kali saja untuk meminta maaf pada pria itu.

__ADS_1


"Enggak ma, kak Noah di kota ini juga?"


Sang mama tersenyum dan menatap pada Evelyn.


"Iya, papa yang minta dia buat urus perusahaan yang ada di sini sekalian menyembuhkan patah hatinya" Wajah Evelyn berubah sendu.


"Ma, nggak usah bahasa itu. Tuh Evelyn jadi nggak enak gitu mukanya" Ucap papa Noah yang menangkap raut bersalah di wajah Evelyn.


"Udah nggak apa-apa masa itu sudah berlalu. Nggak perlu merasa tak enak hati. Mama uda anggap kamu anak mama sendiri. Lagian Noah juga uda sembuh dari patah hatinya. Seminggu yang lalu dia menikah dan sekarang sedang bulan madu. Jadi jangan merasa bersalah ya. Mama paham kamu masih muda masih banyak impian yang harus kamu kejar. Wajar kalo kamu nggak tahan sama sikap posesif Noah"


Jujur telinga Evelyn tak mendengar kalimat panjang yang mama Noah ucapkan. Telinga nya hanya mampu menangkap sampai pada kata Noah telah menikah, selebihnya Evelyn seperti mati rasa, nyawanya seakan melayang dari jasad nya.


Kalimat "Noah telah menikah" terus mengerubungi telinga nya. Luka hatinya kian melebar mendapatkan fakta bahwa Noah telah melupakannya, melupakan dirinya yang masih terpenjara pada cinta Noah.


"Evelyn, kamu baik-baik aja nak?" Mama Noah menggoyangkan lengan Evelyn saat melihat gadis itu hanya terpaku dengan wajah pucat.


Kesadaran menyentak Eve, ia mati-matian menahan matanya agar tak mengerjap. Atau ia akan mempermalukan dirinya sendiri di tempat ini.


"Nggak apa-apa ma, silahkan dinikmati makanan nya. Eve kerja dulu" Tak menunggu jawaban Eve langsung berbalik dan melangkah cepat. Akhirnya air mata itu luruh menemani hatinya yang teramat nyeri. 2 tahun penantiannya berakhir luka, Noah benar-benar meninggalkan nya.


Semesta tak sudi memberi nya belas kasih untuk sedetik saja mempertemukannya dengan Noah dan menebus segala kesalahan nya dulu.


Noah telah berhasil menyembuhkan lukanya dan menemukan pelabuhan cinta nya, sementara dirinya masih bergelut dengan luka yang ia torehkan sendiri.


Tak peduli akan hukuman yang akan ia terima Evelyn melangkah cepat keluar dari restoran itu, dadanya terasa sesak. Ia seperti kehabisan udara untuk bernafas. Ia ingin menangis dan menjerit untuk meluapkan segala kesedihan nya.


"Kamu pantas Eve sangat pantas mendapatkan ini. Noah berhak bahagia bersama wanita yang bisa menerima segala ketulusan Noah. Kamu yang buta Eve, kamu pantas untuk menerima semua ini"


Eve menutup telinga dengan kedua tangan nya, suara-suara itu terus bergema menambah sayatan luka pada perasaan nya.

__ADS_1


__ADS_2