
"Apa yang harus aku lakukan Ra, Noah menolak untuk membahas masa lalu. Aku harus bagaimana mengutarakan perasaan ku?"
Eve sesenggukan sambil menelfon sahabatnya. Ia sebenarnya tak enak hati menghubungi sahabatnya selarut ini, beruntung Aira teramat mengerti dirinya.
"Pelan-pelan aja Ve, Karena masalahnya emang nggak sesederhana itu. Sumber masalah bukan ada pada dirimu, akan lebih mudah andai saat ini Noah menyimpan sakit atas apa yang kamu lakukan dulu, kamu bisa berjuang mati-matian meminta maaf. Tapi masalahnya bukan itu, ini berkaitan dengan diri Noah sendiri. Noah justeru menganggap akar permasalahan nya ada pada dirinya, Kamu harus menumbuhkan kepercayaan dirinya bahwa kamu akan bahagia bersama nya." Evelyn termangu mendengar penjelasan dari Aira.
"Apa aku nyerah aja ya Ra" Rasa kalut yang memenuhi otaknya membuat Evelyn tak bisa menyaring ucapan nya.
"Ya nyerah aja kalo emang kamu uda capek. Padahal baru aja mulai" Cebik Aira gemas.
"Nyerah dan kabur aja lagi kalo kamu yakin kamu bisa melepaskan dan melupakan perasaan kami terhadap Noah. Tapi kalo ujung-ujungnya gagal move on lagi, kamu cuma buang-buang waktu" lanjut Aira lagi.
"Jadi aku harus gimana" Ucap Eve sambil menghapus kasar air mata yang menyusuri pipinya.
"Santai dan pelan-pelan. Tanamkan kepercayaan pada Noah bahwa hanya dia yang bisa memberikan kebahagiaan padamu"
"Tapi apa benar Noah seperti ini karena emang dia seperti anggapan kak Syahira dan kamu? kalo sebenarnya Noah bersikap seperti ini karena emang dia uda nggak cinta sama aku gimana?"
"Ya udah nyerah aja" Aira terkekeh, terlebih mendengar helaan putus asa Evelyn.
"Jadi aku nyerah aja ya, tapi kasihan Cilla kalo aku nyerah. Dia nggak bisa jauh dari aku Ra, anehnya aku juga berat banget buat ninggalin dia"
"Ikuti kata hatimu Ve" Ucap Aira sendu, Eve tau gadis itu sangat mengantuk.
"Iya, makasih ya uda mau dengerin aku. Kamu emang sahabat terbaik aku. Kapan-kapan main ke sini dong. Ajak Darrel juga"
"Iya Ve nanti aku coba hubungin Darrel"
__ADS_1
"Oke bye Aira"
Evelyn memutuskan sambungan telfon nya. Gadis itu terdiam sesaat, fikiran nya menerawang. Kembali menguatkan hatinya untuk mengejar Noah, kali ini ia tak akan melarikan diri lagi.
****
"Eve mana ma?"
Noah yang baru tiba dari kantor tampak heran saat tak melihat gadis itu, sementara Cilla tampak gembira bermain bersama babby sitternya.
"Kenapa kangen?" Goda sang mama yang membuat Noah salah tingkah.
"Akhir-akhir ini Cilla biasanya nggak mau pisah sama dia, tapi itu aku lihat Cilla lagi main sama mbaknya." Hari ini Noah pulang lebih cepat karena tak terlalu banyak pekerjaan.
"Tadi Eve pamit keluar sebentar, ketemuan sama temannya. Kebetulan Cilla lagi bagus moodnya jadi oke aja waktu Eve pamit nggak ada drama berlebihan seperti biasanya"
"Artinya Cilla uda nggak terlalu bergantung sama Eve ya ma, baguslah seenggaknya kalo Eve pergi Cilla baik-baik aja" Ucap Noah, ia menepis perasaan nya yang seperti tak rela membayangkan Evelyn kembali pergi.
"Kamu masih mencintai Evelyn kan nak?" Pertanyaan sang mama membuat Noah tersentak.
"Mama apaan si, kok nanya begitu" Noah tersenyum simpul.
"Jujur pada diri kamu Noah, sampai detik ini cinta mu pada Evelyn tidak pernah berubah kan?"
"Ma, Noah bukan remaja lagi. Noah ini suaminya Syahira, papanya Cilla. Nggak pantas mama bertanya seperti itu." Ucap Noah sambil memalingkan wajahnya.
"Loh apa hubungan nya?"
__ADS_1
"Maksud Noah, bukan saatnya lagi membahas perasaan Noah dengan kondisi seperti ini. Uda nggak penting, sekarang prioritas Noah adalah kebahagiaan dan masa depan Cilla"
Jawab Noah tegas.
"Tapi sebagian kebahagiaan Cilla ada pada Evelyn nak, dia membutuhkan keberadaan Eve" Noah menatap protes pada mamanya
"Cilla tanggung jawab Noah, jangan membebani Evelyn ma. Seperti yang selalu Noah katakan Evelyn berhak menentukan hidupnya sendiri"
"Tapi jika Evelyn menginginkan nya bagaimana? Evelyn sepertinya masih mencintaimu. Dia juga menyayangi Cilla dengan tulus, cobalah untuk kembali bersamanya" Noah terkekeh mendengar penuturan mamanya.
"Ma, Evelyn gadis yang cantik, baik, dan seperti yang mama bilang, dia tulus. Karena itu dia berhak mendapatkan pria yang bisa membahagiakan nya. Dia tidak mungkin mencintai Noah"
"Kamu juga pria yang baik dan bertanggung jawab nak" Mama Noah tidak terima Noah merendahkan dirinya seperti itu.
"Tapi Noah tidak bisa membahagiakan Eve, cinta Noah hanya menyakitinya. Noah tidak bisa mencintainya dengan cara normal. Noah tidak mau membuat Evelyn menderita dengan cara Noah mencintainya. Noah bukan pria yang tepat untuk Eve. Karena itu Noah memilih mengubur dan melupakan perasaan Noah" Tegas pria itu.
"Tapi kamu tidak berhasil melupakan nya Noah, mama tau itu. Kamu masih terus mencintainya tapi berusaha mengingkarinya. Itu menyakitimu nak cobalah berbicara pada Evelyn, kamu harus tau perasaan nya pada mu. Jika Eve tidak mencintaimu tidak mungkin ia bertahan di sini untuk Cilla"
"Biarkan Evelyn bersama Satria atau pria lain yang bisa mencintainya dengan benar ma. Noah tidak mau membawanya dalam kesengsaraan. Noah tidak mau egois, Noah hanya menginginkan kebahagiaan nya dan kebahagiaan Evelyn bukan bersama Noah"
Mama Noah terpaku melihat putranya, baru kali ini ia melihat kilatan luka yang teramat dalam di mata Noah. Ia tak menyangka diam-diam Noah menutupi kesakitan nya sendiri.
"Evelyn adalah gadis pertama yang berhasil merebut hati Noah, Eve mewarnai dunia Noah dengan begitu indahnya. Namun Noah menggenggamnya begitu erat hingga ia merasa kesakitan. Ternyata cinta Noah menyakitinya ma, bagaimana bisa Noah terus memaksakan diri untuk bersama Eve sementara cinta yang Noah punya hanya melahirkan derita bagi Evelyn? cinta Noah begitu besar padanya, tapi cinta Noah menyakiti bukan melindungi. Cinta itu tidak pernah bisa hilang di hati Noah, tapi Noah bisa hilang dari hidup Evelyn, cuma itu caranya agar Evelyn tidak menderita" Hati Noah terasa sesak, semua yang ia simpan rapat kini terbuka sudah.
"Karena itu Noah bahkan mengabaikan pesan terakhir Syahira yang meminta Noah kembali pada Evelyn. Biar Noah menanggung dosa pada Syahira karena tak bisa memenuhi amanahnya, itu lebih baik bagi Noah dari pada harus menyakiti Evelyn"
Sang mama ternganga memandangi Noah, ia kehilangan kata untuk menyanggah setiap ucapan yang meluncur dari bibir putranya.
__ADS_1
"Kebahagiaan Evelyn adalah kekuatan Noah dalam menjalani hidup ma, Tak apa meski bukan bersama Noah. Jangan membawa Evelyn dalam hidup Noah lagi, kasihan dia"
Tutup Noah seraya menghapus air matanya. Baginya semua telah selesai, tugasnya telah usai saat ia membebaskan Evelyn 5 tahun yang lalu. Menyimpan serapat mungkin perasaan nya pada Evelyn sama halnya dengan menutup semua pintu penderitaan gadis itu.