
"Ma, Noah sama Eve ke kamar dulu ya?" Pamit pria itu. Ia ingin menenangkan istrinya.
"Mas, kita belum ketemu Cilla" Eve menahan Noah yang akan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Kalian tenangkan diri dulu sayang. Cilla pasti bisa merasakan kegelisahan kalian." Mama Noah menghampiri Eve dan mengusap pundak menantunya.
"Mama kalian benar, kalian harus mendinginkan hati dan perasaan kalian dulu" Papa Noah menimpali.
"Iya ma, pa. Kami permisi dulu" Pamit Noah lagi. Mau tidak mau Evelyn menuruti saran mertuanya meski ia sudah sangat ingin memeluk gadis kecilnya. Mereka sudah dua hari tidak bertemu, ditambah permasalahan ini membuat Evelyn sangat merindukan Cilla. Namun setelah berfikir sejenak mama dan papa Noah benar, ia harus menata hatinya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan putrinya yang menggemaskan.
Noah mengajak Eve ke kamar, kamar yang ditempati Eve sebelumnya yang sudah di tata kembali. Semua barang Noah telah dipindahkan ke sana. Noah sengaja tidak menempati kamar nya bersama Syahira karena ia ingin memulai semuanya dari awal bersama Evelyn tanpa harus merasa dibayang-bayangi oleh Syahira.
"Sayang, Maaf ya" Ucap Eve sendu seraya menatap penuh rasa bersalah pada suaminya. Mereka kini tengah duduk di ranjang mereka.
"Maaf untuk apa?" Noah membalas tatapan Evelyn dengan lembut.
"Karena aku hubungan kamu sama mama kak Syahira jadi rumit" Suara Eve kembali bergetar.
"Sstt, sama sekali bukan salah kamu. Aku yakin ada yang sengaja menghasut mama" Ucap Noah sambil mengusap rambut Evelyn. Ia tak tega melihat sang istri di dera rasa bersalah.
"Mungkinkah Satria?" Tebak Evelyn.
"Kemungkinan besar iya, mengingat Satria adalah sepupunya Syahira. Dan yang jelas sekali tidak menyukai pernikahan kita hanya dia" Tiba-tiba raut wajah Noah berubah, ia kini menatap penuh arti pada Istrinya. Tentu saja hal itu membuat Evelyn gusar.
"Dia sangat terobsesi padamu Eve, aku tidak menyangka ia akan melakukan hal sepicik ini. Ternyata dia sangat mengidamkan istriku. Bahkan di saat kamu telah resmi menjadi milikku ia masih saja tak menyerah" Kilatan cemburu tak bisa Noah sembunyikan. ia menatap wajah Evelyn yang semakin terlihat salah tingkah.
"Tapi aku tidak pernah memberikan harapan padanya mas, aku hanya mencintaimu" Ucap Evelyn sendu.
__ADS_1
"Kamu terlalu istimewa sayang, karena itu Satria tak rela melepaskan mu" Kini tatapan mata Noah berubah menggoda dengan senyum tipis, hal itu membuat Evelyn tersipu.
"Kita harus bagaimana mas, bagaimana kalau mereka mengambil Cilla" Wajah Eve kembali cemas.
"Aku lebih berhak terhadap diri Cilla sayang. Mereka tidak akan pernah bisa mengambil hak asuh Cilla, meski mereka menempuh jalur hukum sekalipun"
"Tapi tetap saja kondisi seperti ini akan menimbulkan ketidak nyamanan terutama bagi Cilla. Harusnya kita dan keluarga kak Syahira bisa bekerja sama untuk memberikan kasih sayang pada Cilla, bukan malah terpecah seperti ini" Noah menarik Evelyn ke dalam pelukannya.
"Aku akan menyelesaikan semuanya sayang. Jangan khawatir semua akan baik-baik saja" Noah mengecup kepala istrinya. Ia bisa merasakan Eve membalas pelukannya tak kalah erat.
"Atau turuti saja permintaan mamanya Syahira mas, demi Cilla lepaskan aku"
Noah dengan cepat melepaskan pelukan nya pada Eve. Ia memegang pundak istrinya dan menatap wajah istrinya dengan tajam.
"Ini baru hari ke 2 kita menjalani pernikahan kita Eve. Ini baru hambatan awal yang tak seberapa dan kamu sudah ingin menyerah? apa kamu tidak mencintaiku? apa kamu sudah sangat siap untuk berpisah dariku?"
"Tentu saja aku sangat mencintaimu mas, aku juga tidak tau akan seperti apa aku jika harus berpisah dari kamu. Tapi aku tidak mau masalah ini akan mengganggu tumbuh kembang Cilla. Aku tidak mau Cilla tidak bahagia karena aku. Aku juga tidak mau terus dituduh merebut perhatian kamu dari Cilla" Evelyn tak tau kenapa ia bisa mengatakan hal konyol itu, padahal ia sendiri tau bahwa ia tak akan pernah sanggup berpisah lagi dari Noah
"Sayang, aku sudah katakan bahwa kamu dan Cilla menempati posisi masing-masing di hati aku, kalian sama pentingnya bagiku. Mana mungkin bisa salah satu dari kalian aku abaikan. Jangan dengarkan ucapan mamanya Syahira. Percaya padaku aku akan menyelesaikan semuanya" Tegas Noah dengan mata tak lepas menatap pada Evelyn.
"Atau kamu benar-benar ingin berpisah dariku" tanya Noah sendu.
"Tidak, aku yakin aku tidak akan sanggup jika itu terjadi" Jawab Evelyn cepat tanpa keraguan
"Lantas kenapa menawarkan pilihan itu?"
"Aku tidak tau, mungkin otakku bermasalah. Aku terlalu kalut dengan permasalahan ini sehingga membuat ku mengambil kesimpulan gegabah. Tapi setelah ku fikir kan kembali itu pilihan yang sangat menakutkan" Tegas Evelyn dengan wajah menggemaskan, hal itu membuat Noah terkekeh. Ia menarik tubuh Evelyn dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Serahkan semuanya padaku sayang, semua akan kembali baik-baik saja. Aku mohon jangan pernah berfikir untuk menyerah. Ke depan akan lebih banyak hambatan yang akan menghadang langkah kita. Tetaplah bersamaku, kita harus saling menguatkan. Semua bisa kita lalui asal kita tetap bersama" Eve mengangguk, ia merasa bersalah atas fikiran konyolnya.
Bayangan wajah Satria tiba-tiba terlintas di benak Eve
"Apa yang harus kita lakukan pada Satria agar dia berhenti berulah mas" Eve diam-diam menyesap aroma tubuh Noah yang bisa membuatnya tenang
"Aku akan berbicara padanya"
"Bagaimana kalau aku saja yang bicara padanya mas" Usul Eve. Noah kembali melepaskan pelukannya untuk melihat wajah istrinya.
"Berdua?" Tanya Noah dengan ekspresi tak terbaca. Evelyn mengangguk dengan tatapan polosnya.
"Enak saja, tidak akan kubiarkan" Noah menekan kening Eve dengan telunjuknya.
"Kenapa?"
Ah wajah polos tanpa dosa ini membuat Noah menahan sesuatu yang tiba-tiba berkobar di dalam dirinya. Tapi ia harus menahan nya sedikit lagi.
"Alasan pertama karena aku cemburu, aku tidak suka istriku berbicara berdua dengan laki-laki lain apalagi laki-laki itu jelas-jelas menyukai istriku. Kedua aku tidak ingin Satria menggunakan kesempatan itu untuk melakukan sesuatu kepadamu sayang. ingat pertemuan terakhir kalian? aku masih tak berani membayangkan apa yang akan terjadi andai saat itu aku tidak melihat kejadian itu"
Evelyn tersenyum kemudian meraih wajah suaminya.
"Aku suka mendengar alasan kamu sayang, aku merasa sangat dicintai. Terimakasih sudah mencintai ku sebesar ini. Apa aku sudah pernah mengucapkan nya sebelumnya?"
Ekspresi menggemaskan Evelyn membuat Noah tak bisa lagi menahan diri. Ia segera mendekatkan wajahnya dan menyambar bibir Eve dengan bibirnya, Meski sempat terkejut namun akhirnya Evelyn memejamkan matanya menikmati perlakuan Noah padanya.
Noah tak bisa lagi menahan dirinya, ia kembali membawa Evelyn pada pusaran keindahan yang sejak kemarin tak bosan mereka lakukan. Pagi itu keduanya kembali larut dalam percintaan yang membuat mereka melupakan sejenak permasalahan yang menyapa diawal pernikahan mereka.
__ADS_1
****