Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Lima Belas


__ADS_3

Evelyn terdiam sambil menatap tak percaya pada Noah. Meski cinta Noah menyesakkan bukan berarti dirinya ingin benar-benar berpisah dari pria itu. Evelyn tak bisa mengelak bahwa ia mencintai Noah.


Tapi tak mungkin jika ia menolak saat Noah memutuskan hubungan mereka, karena sebelumnya dirinyalah yang meminta itu, meski sebenarnya itu sebatas ancaman agar Noah tak membatasi dirinya lagi. Namun jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin berpisah dari pria itu.


"Jadi kakak mutusin aku?" Tanya Evelyn lirih.


"Kakak memenuhi apa yang menjadi keinginan kami Eve. Apapun itu akan kakak lakukan untuk kebahagiaan kamu. Sekarang kamu boleh pergi. Kakak harap kamu selalu bahagia Eve. Karena tidak ada lagi Noah yang akan mengganggu dan mengikat kebebasan kamu" Ucap Noah tanpa menatap wajah Eve. Pria itu berusaha tegar di tengah kehancuran hatinya.


"Makasih untuk selalu ada buat aku selama ini kak" Ucap Evelyn sambil tersenyum getir.


"Kakak yang berterimakasih Eve. Justeru kakak menyesal atas kehadiran kakak yang telah merebut kebahagiaan kamu selama ini"


Evelyn ingin menyela ucapan Noah, menyatakan bahwa apa yang Noah katakan tidak benar. Tapi keegoisannya selama ini mencegah bibir nya untuk berucap.


"Jaga diri kakak baik-baik. Kakak pasti akan mendapatkan gadis yang jauh lebih baik. Yang bisa mengerti kakak" Ada perasaan tidak rela saat mengucapkan kata-kata itu. Tapi semua sudah terlanjur. Tak ada lagi yang bisa Evelyn ubah.


"Semoga Eve. Kamu juga jaga diri baik-baik"


Noah masih enggan menatap Eve. Ia tidak ingin gadis itu melihat kesakitan yang terpancar pada sorot matanya.


Noah menelungkupkan kepalanya di setir mobil. Air mata pria itu keluar saat mendengar pintu mobil yang ditutup pertanda Evelyn telah pergi. Air mata pertama yang tumpah di usia dewasanya, Pertanda betapa Evelyn sangat berarti untuknya namun sayang ia harus memilih jalan paling menyakitkan untuk membahagiakan Evelyn.


Semua usaha telah ia lakukan untuk membahagiakan gadis itu saat berada di sisinya, mencurahkan kasih sayang dan perhatian yang tak terkira banyaknya namun ternyata lepas dari nya adalah kebahagiaan yang gadis itu idam-idam kan.


"Kakak mencintai kamu Eve, terimalah bukti cinta kakak. Semoga kamu benar-benar bahagia dengan pilihan kamu ini" Noah memegang dadanya yang terasa sesak. Semua kenangan yang telah mereka rangkai selama hampir 4 tahun ini menari-nari di benak Noah, Ia memejamkan matanya berusaha melenyapkan semua hal tentang Eve.

__ADS_1


Bayangan senyuman Evelyn yang selalu menjadi penyemangat nya selama ini menjadi hal yang paling menyakitkan untuk ia ingat sekarang


"Entah bagaimana aku harus menjalani hidup setelah ini Eve" Noah tidak tau harus memulai dari mana membiasakan diri hidup untuk dirinya sendiri. Menghapus semua rencana dan cita-cita yang terlanjur ada nama Evelyn di dalamnya. Lagi-lagi itu sungguh menyakiti dirinya. Cinta pertamanya harus berakhir menyakitkan.


Noah menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ia berjanji ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia menangis untuk Eve. Ia harus tegar, ini semua demi kebahagiaan gadis yang dicintainya. Tawa lepas dan binar bahagia saat Evelyn bersama teman-teman nya harus menjadi salah satu penguat Noah untuk melepaskan Evelyn. Jika dirinya tidak bisa menjadi sebab kebahagiaan Evelyn maka ia harus ikhlas.


****


Evelyn meraba hatinya, Ia merasa sedih atas apa yang terjadi sekarang. Semua terasa seperti mimpi, selama ini ia merasa begitu percaya diri bahwa Noah tidak akan pernah meninggalkan nya. Nyatanya ada luka tak kasat mata yang terasa perih atas perpisahan ini.


Karena terus memikirkan Noah Evelyn tak menyadari ia telah tiba di tempat yang telah ia janjikan bersama Aira dan yang lainnya.


"Mbak udah sampai"


"Oh iya mas" Evelyn tersenyum kaku merasa tak enak hati pada sopir itu. Ia segera mengeluarkan uang di dompetnya.


Gadis itu berjalan menuju apartemen Darrel. Teman-temannya sejak tadi berkali-kali menelfon dirinya.


"Haduh princess kita lama banget"


Ucap Mona saat membukakan pintu untuk Evelyn. Gadis itu hanya tersenyum tipis. Ia mengikuti langkah Mona menuju ruangan di mana sudah ada Aira, Marcell dan Darrel. Seperti biasa Aira bergelayut manja di lengan Marcell yang entah kenapa kali ini pemandangan itu membuat Eve merasa sedih.


"Lagi ada masalah Ve?" Darrel menangkap ekspresi tak biasa sahabat nya. Ia begitu mengenali Eve, hingga mampu menangkap perubahan pada wajah Evelyn sekecil apapun.


"Berantem sama Noah? pasti dia larang kamu ke sini kan" Ucap Mona sinis.

__ADS_1


"Nggak berantem kok, tapi emang kak Noah mutusin aku" Ucap Evelyn lesu. Ke empat temannya menatap kaget pada Eve. Mereka tau bagaimana Noah sangat mencintai Evelyn, karena itu ucapan Evelyn sangat sulit untuk mereka percaya.


"Kenapa bisa?" Marcell yang pertama kali berhasil keluar dari keterkejutan itu akhirnya bertanya mewakili isi hati dan otak Aira, Mona dan Darrel.


"Kalian taulah gimana posesifnya dia selama ini. Dia uda nggak kuat sama kondisi yang sekarang, maunya dia aku kayak dulu setiap saat sama dia. Tadi abis sidang dia ajak aku makan siang sekalian ngerayain kesuksesan sidangnya. Tapi aku nolak karena Mona nelfonin aku terus. Jadi dia nggak terima dan mutusin aku" Ucap Evelyn dengan senyum getir.


"Ya harusnya emang kamu ikut Noah lah Ve. Kalo boleh jujur kamu emang uda kelewatan sama Noah. Akhir-akhir ini kamu selalu nolak ajakan dia kan? ini hari pentingnya dia loh Ve harusnya kamu emang sama dia"


Ucap Aira prihatin.


"Tapi kan Eve laporan terus tiap jam sama Noah Ra, Udah jangan bikin Eve jadi sedih" Protes Mona.


"Aku no komen" Jawab Marcell. Sebagai sesama pria ia bisa mengerti keputusan Noah.


"Perasaan kamu gimana Ve?" Ucap Darrel sambil menatap dalam pada Evelyn.


"Nggak tau Rel, di satu sisi aku ngerasa lega bisa terbebas dari Noah dan segala aturannya. Tapi aku nggak bisa memungkiri aku merasa sedih karena bagaimanapun aku cinta sama dia" Jawab Evelyn lesu. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Menurut aku, kamu minta maaf sama Noah Ve dan kamu juga harus berubah. Noah uda berusaha ngertiin kamu jadi kamu juga harus bisa bagi waktu buat dia. Jangan sampai kamu nyesal Ve. Cowok kayak Noah tu langka zaman sekarang"


"Yang, kamu kok selalu muji Noah?" Protes Marcell pada Aira, gadis itu malah terkekeh sambil memukul lengan Marcell.


"Biarin lah Ra, Emang dasar Noah nya aja yang kelewat posesif. Ve kamu nggak boleh sedih. Kamu bebas sekarang, nggak mesti laporan setiap saat sama Noah kalo lagi jalan sama kita. Nggak ada yang larang-larang kamu lagi. Ucapkan selamat datang pada kebebasan" Ucap Mona penuh semangat. Aira menggelengkan kepalanya, tak mengerti kenapa Mona selalu tidak suka pada Noah.


"Kamu fikirin aja nanti baiknya gimana ya Ve. Ikuti kata hati kamu" Bisik Darrel sambil mengusap pundak Evelyn yang hanya mengangguk dan tersenyum tipis

__ADS_1


__ADS_2