Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Sembilan


__ADS_3

Hari ke empat tanpa Noah, semua berjalan sesuai rencana, hari-hari Eve sepulang kuliah ia habiskan bersama teman-temannya. Seketika Evelyn merasa ia telah membuang waktu berharga nya dengan berada dalam genggaman Noah, nyatanya dunia ini begitu indah untuk diabaikan.


Setiap jam pulang Noah akan menelfon Evelyn dan memastikan gadis itu pulang ke rumah nya, Setelah Noah selesai menelfon nya Evelyn berpamitan ingin tidur agar Noah tidak mengganggunya. Ia bisa pergi dengan aman. Andai Noah tidak mengekangnya mungkin Eve tidak akan membohongi kekasihnya seperti ini.


"Ya udah yang, selamat istirahat" Tutup Noah sambil memberikan kecupan jarak jauh.


"Iya yang, nanti kalo aku uda bangun aku telfon ya sayang. Bye" Evelyn melempar senyum manisnya. Noah menganggukkan kepalanya dan memutuskan sambungan telfon.


Pria itu bisa tenang melanjutkan pekerjaannya jika Evelyn telah pulang dengan selamat. Pria itu sudah tidak sabar ingin segera pulang untuk bertemu Eve. Rindunya selama 4 hari ini hampir tak terbendung.


Bertolak belakang dengan kekasihnya, Evelyn malah berharap Noah lebih lama berada di luar kota agar ia bisa menikmati hidupnya yang merdeka.


Dengan semangat, Evelyn membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi bersama Aira, mereka akan menonton balapan liar. Meski ada keraguan di hati Eve karena akan ada Darrel bersama mereka. Andai Noah tau ia pasti akan kecewa.


"Bentar lagi kami jemput ya Ve"


Bunyi pesan yang dikirim oleh Aira. Setelah membaca pesan Evelyn meletakkan ponselnya kemudian melanjutkan berdandan.


****


Evelyn terlalu asyik dengan euporia nya bersama teman-temannya hingga ia tak menyadari panggilan telfon dari Noah. Ia juga tak menyadari sejak tadi Darrel terus menatapnya dengan senyum yang mengembang. Ia sangat menyukai tawa Evelyn yang lepas, Seperti tanpa beban. Berbeda saat bersama Noah, Gadis itu menjadi pendiam dan terkesan menjaga jarak dengan dirinya juga Aira dan Mona.


"Ngapain liatin aku kayak gitu Rel"


Darrel tersenyum mengalih kan pandangannya saat akhirnya Evelyn memergoki dirinya sedang menatap sahabatnya itu.


"Aku suka kamu yang kayak gini. Kamu jadi diri kamu sendiri, ceria dan terlihat tanpa beban."


Evelyn tersenyum getir.


"Aku yakin kamu tersiksa sama Noah Ve. Dia terlalu mengekang kamu, Padahal di umur kita sekarang emang lagi waktunya bergaul dan menikmati hidup."

__ADS_1


"Tapi aku cinta sama dia Rel, aku nggak tersiksa kok. Aku nggak keberatan dengan semua larangan kak Noah"


Darrel malah terkekeh.


"Aku tau kamu bohong Ve. Buktinya sekarang kamu begitu menikmati hari-hari kamu tanpa Noah. Kamu seperti burung yang terbebas dari sangkar yang mengurung selama bertahun-tahun. Aku tau ini kamu yang sebenarnya"


Eve terdiam, nyatanya apa yang Darrel ucapkan diamini oleh hatinya.


"Hubungan kalian nggak sehat Ve. Harusnya Noah memberi kamu ruang. Bukan mengikat kamu untuk dirinya sendiri tanpa mempedulikan kebutuhan kamu"


"Jangan jadi kompor dech Rel, Noah juga membatasi pergaulannya. Menjadikan Evelyn sebagai dunianya, jadi nggak salah kalo dia juga menginginkan Evelyn melakukan hal yang sama buat dia" Aira yang berada dibarisan pendukung Noah mencoba menengahi.


"Aku uda ngerasain kok mantan aku ngebebasin aku bergaul sama siapapun, nggak ada rasa cemburu sedikitpun. Aku jadi tau ternyata dia nggak benar-benar cinta aku. jadi aku lebih memilih dicintai kayak Noah mencintai Eve" tambah Aira. .


"Yah kalo uda nikah nggak apa-apa. Emang uda haknya dia. Sementara Evelyn dan Noah masih pacaran. Kayak nggak tepat aja sich membatasi pergerakan anak orang."


"Aku sependapat sama Darrel. Gila capek banget lah ngejalanin hubungan kayak gitu."


Evelyn berusaha mencerna tiap kalimat yang diucapkan Aira, Mona dan Darrel. Hatinya lebih condong menyetujui pendapat Mona dan Darrel. Mungkin ia sudah terlalu lelah dengan Noah yang posesif. Terlebih saat ia menjalani kebebasannya beberapa hari ini tanpa Noah ia begitu bahagia dan lega. Ia jadi semakin meyakini bahwa ia begitu menginginkan hidup bebas.


"Jangan dengerin mereka Ve. Kamu bahagia kan bersama Noah? pernah nggak Noah nyakitin kamu? Noah itu cowok idaman para wanita Ve. jangan sampe kamu terpengaruh sama mereka dan menyesal seumur hidup. Nggak sulit bagi Noah dapetin cewek yang jauh lebih baik dari kamu Ve. Sebenarnya Pelet apa yang kamu kasih ke Noah sampe setunduk itu sama kamu"


"Sialan Aira! sembarangan dech kalo ngomong"


Evelyn mendelik kesal mendengar kalimat terakhir yang Aira ucapkan. Sementara sahabatnya itu malah terkekeh, ia puas berhasil meledek Evelyn.


***


Evelyn gelisah saat melihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Noah. Ia segera membersihkan dandanannya serta tubuhnya. Setelah berganti pakaian Evelyn naik ke tempat tidur. Ia memasang ekspresi lemas dengan rambut yang sedikit acak agar terlihat abru bangun tidur.


"Hallo kak, maaf dari tadi aku tiduran mulu. Badan aku nggak enak"

__ADS_1


Ucap Evelyn dengan suara dibuat lemas saat telfonnya tersambung pada kekasihnya.


Evelyn menangkap tatapan aneh dari mata Noah, tapu ia tidak mampu memahami arti tatapan Noah.


"Kamu istirahat lagi aja kalo gitu yang, kakak lagi nemenin papa meeting"


Eve dapat melihat penampilan Noah memang terlihat rapi.


"Kakak marah ya aku nggak angkat telfon?"


Noah menghela nafas sebelum kembali berbicara pada Eve.


"Nggak yang, kamu kan lagi nggak enak badan. kakak ngerti kalo emang lagi nggak bisa angkat telfon"


Evelyn diam-diam menghela nafas lega. Nampaknya Noah mempercayai sandiwaranya.


"Kakak lanjut nemenin papa dulu ya, nanti kalo emang kamu belum tidur satu jam lagi telfon kakak. Tapi kalo emang uda mau tidur nggak apa-apa tidur aja"


Tatapan lembut penuh ketulusan Noah menggetarkan hati Evelyn, membangkitkan rasa bersalah di hatinya karena telah membohongi Noah.


"Iya udah sayang, sukses ya. Eve cinta kamu"


Ucap Evelyn dengan senyum manisnya.


"Kakak juga cinta Eve"


Setelah mengucapkan itu Noah memutuskan sambungan telfonnya.


Evelyn mematung sejenak, gadis itu nampak berfikir benarkah ia terkekang dengan semua aturan Noah padanya? Benarkah dirinya tidak bahagia dan merasa tersiksa seperti yang Darrel bilang?


di satu sisi ia tidak meragukan cinta nya ataupun cinta Noah. Namun di sisi lain ia juga tak menyangkal bahwa apa yang Darrel dan Mona ucapkan memang ia rasakan. Evelyn terus berusaha menyibak perasaannya yang sebenarnya, mempertanyakan apa yang ia inginkan dan paling ia butuhkan. Kebebasan atau cinta Noah? Ucapan Darrel dan Mona terus terngiang bergantian dengan ucapan Aira.

__ADS_1


Karena lelah ditambah banyak berfikir membuat Evelyn akhirnya memejamkan matanya. Ia membatalkan niatnya untuk menunggu Noah selesai meeting. Ia memutuskan untuk memenuhi hak tubuhnya untuk beristirahat.


__ADS_2