
"Kok cepat? kamu nggak buru-buru kan sarapannya?" pertanyaan Noah membuat Evelyn salah tingkah. Benarkah ia terlalu cepat menyusul?
"Eng enggak kok, emang uda selesai" Evelyn berusaha untuk bersikap biasa meski diam-diam perasaan nya tak menentu.
"Duduk Ve" Noah menepuk-nepuk bangku di sebelahnya.
"Iya kak"
Evelyn menuruti apa yang Noah minta, duduk di samping pria itu. Mereka berada pada posisi yang begitu dekat. Namun sayang hati Noah terlalu jauh untuk Evelyn jangkau.
"Maaf uda ngerepotin kamu ya Ve" Ucap Noah setelah keduanya sempat diam beberapa saat.
"Maaf karena mama uda minta kamu buat datang ke sini malam-malam" Lanjut Noah saat tak mendengar jawaban dari Evelyn namun ia bisa melihat banyak pertanyaan di mata gadis itu akan maksud ucapan nya.
Evelyn menghela nafas perlahan, gadis itu menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
"Aku nggak ngerasa direpotin kak, aku juga dijemput sopir jadi aman-aman aja"
"Tapi tetap aja Ve, Cilla uda ganggu waktu istirahat kamu. Aku nggak mau kamu ngerasa terbebani atas permintaan mama ataupun Cilla. Kamu berhak untuk menolak kalo kamu emang nggak bisa. Aku mohon jangan merasa nggak enak buat nolak"
"Kakak nggak suka Cilla dekat sama aku?"
"Bukan begitu Eve, nggak ada alasan aku buat nggak suka. Tapi aku nggak mau kamu ngerasa terbebani sama sesuatu yang bukan kewajiban kamu. Aku tau banyak waktu kamu yang uda tersita hanya untuk mengurusi Cilla. Bahkan waktu kamu sama Satria juga terganggu jadinya. Aku nggak mau semua rencana kalian berantakan hanya karena Cilla"
Kening Evelyn berkerut, matanya tak lepas menatap wajah Noah. Berharap bisa memahami keinginan yang tersirat dalam setiap ucapan Noah.
"Tapi aku nggak ngerasa kayak gitu kak, aku juga uda bilang kalo aku sama Satria cuma teman. Tidak ada rencana khusus yang kami rancang sebelum ke sini. Mending kakak langsung jujur aja kakak sebenarnya nggak suka aku dekat-dekat Cilla kan? nggak usah pake alasan takut ngerepotin aku segala"
__ADS_1
Noah menatap Evelyn, ada senyum kecil di bibir pria itu.
"Kenapa mikirnya gitu? aku beneran takut ngerepotin kamu Eve. Aku nggak mau menempatkan kamu pada posisi sulit"
"Kakak yang kenapa mikirnya gitu! Kan aku juga uda bilang kalo aku nggak ngerasa direpotkan. Aku pasti bilang kok kalo aku nggak bisa" Evelyn memanyunkan bibirnya. Entah kenapa ia tidak suka Noah meragukan ketulusannya.
"Iya uda aku minta maaf kalo gitu, aku juga berterimakasih karena kamu uda bantuin nenangin Cilla. Ingat ya, jangan takut buat nolak kalo kamu emang nggak bisa. Aku pasti berusaha cari jalan lain buat mengalihkan perhatian Cilla" Noah meraih tangan Evelyn dan menggenggamnya. Ada kehangatan yang mengaliri hati Evelyn saat merasakan sentuhan tangan Noah lagi. Jantung nya berdegup begitu kencang Keinginan untuk memeluk Noah begitu besar, namun ia terlalu takut untuk melakukan nya.
"Hari ini mau ke makam mama kamu lagi?"
"Belum tau, nanti kalo Cilla mau ditinggal baru ke makam mama"
"Tuch Cilla jadi menghambat rencana kamu kan? itu yang aku takut kan Eve. Aku nggak mau langkah kamu terbatas hanya karena Cilla. Itu yang aku maksud. Jangan biarkan siapapun menghalangi langkah kamu Eve. Kamu bebas menentukan hidup kamu sendiri"
Evelyn terdiam, berusaha meresapi setiap ucapan Noah. Evelyn tak menyangka Noah belum sepenuhnya sembuh atas luka yang ia gores kan di masa lalu. Noah menyimpan ketakutan yang terlalu besar, ia begitu takut menjadi rantai kebebasan Evelyn.
Evelyn mengusap tangan Noah yang menggenggam tangannya. Berusaha menyatakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan atas permintaan Cilla yang selalu ingin dekat dengannya.
"Ehm, Maaf aku ganggu kalian sepertinya" Satria yang entah sejak kapan berada di sana mengalihkan perhatian Noah dan Evelyn.
Noah dengan cepat melepaskan genggamannya pada tangan Eve. Meski Evelyn menyatakan bahwa ia dan Satria tidak memiliki hubungan apapun namun Noah dapat merasakan bahwa Satria menaruh hati pada Evelyn, dan ia harus menghormati itu.
"Hei Sat, uda lama?" Noah menghampiri pria itu.
"Yah lumayan" Jawab Satria sambil menatap tajam pada Eve dengan senyum sinis yang tersungging.
"Aku sama Eve uda selesai bicaranya, aku duluan ke dalam ya. Duduk sana Sat" Noah menepuk pundak Satria dan berlalu tanpa menoleh pada Evelyn yang tak lepas memandanginya sejak tadi.
__ADS_1
"Sejak semalam aku terus mencari dengan cemas, ternyata yang aku cari sedang sibuk bernostalgia dengan kisah masa lalu" Ucap Satria. Evelyn menatap cepat pada Satria yang kini duduk di sebelahnya menggantikan posisi Noah sebelumnya.
"Maksud kamu apa?" Evelyn merasa tidak suka mendengar nada bicara Satria.
"Kamu ngapain di sini?"
"Sejak pertama ketemu Cilla langsung lengket sama aku. Semalam dia nangis nyariin aku makanya aku ke sini" Jawab Evelyn santai.
"Oh jadi kamu mau jadi baby sitter nya Cilla? atau kamu sedang bermimpi untuk menjadi ibu tirinya?"
"Jaga ya mulut kamu! aku nggak suka kamu asal ngomong kayak gitu"
Satria tersenyum sinis pada Evelyn
"Ve, aku sengaja nggak bilang sama kamu kalo kak Syahira udah meninggal. Supaya kamu nggak bermimpi untuk kembali sama kak Noah. Tapi kayaknya kamu emang nggak pernah bisa lepas dari masa lalu kamu. Kenapa harus sebodoh ini Eve"
Rasa cemburu yang menderanya membuat Satria tak mampu lagi menyaring ucapan nya. Ia hanya ingin Evelyn melupakan Noah dan memulai kisah baru bersamanya.
"Ya memang nyatanya aku sebodoh itu Sat, kalo aku nggak bodoh aku nggak mungkin kehilangan pria sebaik kak Noah. Dan kamu beruntung kan Sat gadis bodoh ini tidak pernah membuka hatinya buat kamu. Kalo nggak kamu pasti akan merasakan sial seumur hidup karena bersama gadis seperti aku"
"Kenapa sesulit itu membuka hati kamu buat aku Eve. Kamu mengabaikan aku yang jelas-jelas sangat mencintai kamu demi mengharapkan orang lain yang sudah melupakan kamu?"
Meski Evelyn menyadari ucapan Satria tidak sepenuhnya salah namun mendengar kalimat bahwa Noah telah melupakan nya terasa begitu menyakitkan.
"Aku menolak kamu bukan karena aku masih mengharapkan kak Noah Sat!" Tegas Evelyn. Entahlah Eve tak begitu yakin dengan ucapan nya. Benarkah ia tak mengharapkan Noah lagi? Apakah terus merindukan pria itu dan tak pernah melupakan nya tidak bisa disebut sebagai pengharapan? atau dirinya hanya terlalu malu untuk mengakui?
***
__ADS_1
Jadi Eve sebaiknya sama Satria atau Berjuang untuk mendapatkan hati Noah aja?