
"Mas seberapa besar keinginan kamu memiliki bayi lagi?" Evelyn membentuk goresan abstrak dengan telunjuknya di dada Noah yang sejak tadi mengusap kepalanya agar ia terlelap setelah pertukaran keringat mereka malam ini. Pembahasan nya dengan Aira sebelumnya membuat keinginan nya untuk memiliki bayi semakin besar.
Tadinya ia dan Aira ingin langsung mengecek kehamilan Sahabatnya itu, namun Darrel sudah menjemput Aira untuk segera pulang. Sepertinya pria itu mengerti Noah dan Evelyn ke kota ini dengan tujuan bulan madu.
"Tentu saja sangat besar sayang" Jawab Noah setengah mengantuk, tampak sekali bahwa ia sangat lelah.
"Akan seperti apa ya wajahnya nanti?" Gumam Evelyn belum berniat untuk menghentikan obrolan.
"Tentu saja seperti wajahku atau wajahmu atau juga perpaduan wajah kita berdua tidak mungkin akan seperti Satria" Rasa kantuk membuat Noah asal bicara. Evelyn yang terkejut segera menarik diri dari dekapan Noah. Ia menatap pada wajah suaminya yang masih belum menyadari kegusaran hati sang istri atas ucapan asalnya.
"Maksud kamu apa mas bawa-bawa nama Satria? mas curiga aku pernah bermain gila dengan Satria?" Entah mengapa Evelyn sulit sekali menahan emosinya, pernyataan Noah benar-benar membuat hatinya tidak nyaman.
"Ha? maksud kamu apa sayang, memangnya aku bicara apa?" Noah yang terkejut melihat Eve seperti menahan tangis segera tersadar. Rasa kantuk yang menyerang lenyap begitu saja. Ia berusaha mengingat ucapan yang menyulut emosi sang istri.
"Kamu bilang anak kita akan seperti kamu atau seperti aku atau perpaduan kita berdua tidak mungkin akan seperti Satria" Evelyn mengulangi kalimat yang Noah ucapkan, pria itu tampak mengernyit bingung. Baiklah bisa dikatakan kata itu tak seharusnya ia lontarkan tapi rasanya keseleo lidah yang ia lakukan tak sefatal itu hingga Evelyn harus terlihat marah dan sesedih ini.
"Maaf sayang, aku hanya mengantuk jadi aku tidak sadar bahwa ucapan ku bisa sengawur itu. Tolong maafkan aku sayang" Tidak ada salahnya mengakui kesalahan demi ketentraman hati istri tercinta.
"Jadi pertanyaan aku mengganggu tidur kamu ya?" Kali ini suara Evelyn terdengar melemah. Air matanya malah menggenang.
"Istri macam apa aku ini, tidak peka saat suaminya mengantuk dan butuh istirahat" Suara Evelyn bergetar menahan tangis. Noah kembali melongo, ia tak mengerti kenapa istrinya bersikap aneh tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? aku sama sekali tidak terganggu. Maafin aku ya?" Noah mengusap rambut istrinya dengan begitu lembut.
"Aku yang minta maaf mas, ya udah mas istirahat ya" Ucap Evelyn lirih. Noah bingung harus melakukan apa untuk mengembalikan mood istrinya.
"Sudah ya, sekarang mau tidur atau mau lanjut ngobrolnya?" Tawar Noah.
"Tidur aja mas, aku ngantuk" Evelyn kembali memeluk Noah dan memejam kan matanya. Diam-diam Evelyn juga merasa aneh akan sikap nya itu. Ia tak mengerti kenapa mood nya malam ini sangat berantakan dan begitu cepat berubah.
Noah yang juga masih dilanda kebingungan mendekap erat tubuh mungil istrinya. Ia menciumi puncak kepala Evelyn dan tak henti mengusap nya dengan lembut berharap hal itu bisa mengobati rasa kesal Eve atas ucapan nya.
***
Namun ia begitu gelisah, ia kembali mengingat saat Darrel mengantarnya pulang.
"Aku mohon fikir kan kembali tawaran aku Ra. Hidupku tidak akan tenang jika tidak menikahi kamu. Aku tidak mau dilanda rasa bersalah yang berkepanjangan seumur hidup aku" Darrel angkat bicara setelah keheningan mewarnai perjalanan mereka. Meski mereka telah berusaha untuk bersikap senormal mungkin setelah kejadian itu, namun tetap saja rasa canggung tak bisa mereka hindari begitu saja.
Aira menghela nafasnya dengan berat, begitu menyedihkan jika harus menikah karena penebusan dosa semata. Tidak bisakah ia mewujudkan mimpi yang ia bangun sejak dulu tentang pernikahan ideal impian nya?
Aira tanpa sadar mengusap perutnya, jika benar ada bayi di sana haruskah ia mengikhlaskan diri terjebak dalam pernikahan dengan cinta sepihak?
Aira kembali mengingat percakapan nya dengan Darrel.
__ADS_1
"Ra jawab aku, aku mohon turunkan ego kamu. Apa aku seburuk itu hingga kamu tidak mau menikah dengan ku?" Nada suara Darrel terdengar putus asa. Aira sangat diliputi rasa bimbang.
"Tapi Rel, cinta adalah nyawa dalam pernikahan. Aku nggak mau menikah hanya karena rasa tanggung jawab. Aku ingin menikah satu kali seumur hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku." Ucap Aira. Dan yah Aira lagi-lagi harus menelan kecewa saat Darrel tak mampu membantah ucapan nya. Andai saja Darrel mengatakan bahwa ia mencintainya meski hanya sebuah dusta Aira akan menerimanya.
Tidak jauh berbeda dengan Aira, Darrel juga belum bisa memejamkan matanya. Bayangan malam panas bersama Aira masih selalu menghantuinya. Meski tak seharusnya namun sedikitpun tak ada rasa sesal atas apa yang telah terjadi. Hanya saja ia merasa berdosa pada sahabat nya itu, apalagi saat ia tau dirinya adalah laki-laki pertama untuk Aira.
Rasa bersalah itu hanya bisa ia tebus dengan menikahi Aira, ia begitu yakin untuk menikahi gadis itu tak ada keraguan sedikitpun.
"Aira kenapa harus keras kepala seperti ini" Gumam Darrel, ia teramat lelah menghadapi penolakan-penolakan yang selalu Aira lakukan.
Rasa geram menghantuinya kala mengingat Tara, gadis yang telah mengkhianatinya hingga membuat ia lupa diri dan meniduri Aira. Tapi anehnya hati pria itu menolak kala ia menganggap apa yang ia lakukan pada Aira sebatas pelampiasan atas rasa sakit hatinya pada Tara, ia tak memungkiri bahwa ia begitu menikmati percintaan nya dengan Aira. Ia tak bisa menepis fakta bahwa ia melakukannya dengan hati dan penuh perasaan.
Darrel meremas rambutnya dengan kuat, ia begitu resah dan kacau dengan permasalahan yang tengah ia hadapi. Ia meraih ponselnya, membuka kontak Aira, tapi ia ragu untuk menekan tanda telfon mengingat hari sudah begitu larut.
"Selamat malam Aira, selamat tidur. Aku harap kamu bisa melembutkan hatimu, menekan ego mu dan menerima pertanggung jawaban dariku. Buka hatimu Aira" Akhirnya Darrel lebih memilih mengirimkan pesan singkat pada gadis itu.
Darrel menghela nafasnya, Ia tak benar-benar paham mengapa Aira selalu menolak dirinya. Darrel yakin bukan karena Aira telah mencintai pria lain, ia tau Aira telah melupakan Marcell.
Apa seburuk itu menikahi sahabat sendiri bagi Aira? Jika Aira tidak mau menikah dengan nya lantas mengapa gadis itu tidak menolak saat ia menidurinya? bukankah Aira bisa menolak? karena meski dikuasai oleh alkohol Darrel masih cukup sadar akan apa yang terjadi. Ia yakin masih bisa mengontrol dirinya andai Aira menolak untuk melakukan hubungan itu.
***
__ADS_1