Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tiga Belas


__ADS_3

"Mama mau ngomong nak"


Noah yang akan masuk ke kamarnya segera menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah sang mama.


"Kenapa ma?"


Noah tampak heran dengan raut serius mama nya. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan mama yang menatap dalam padanya


"Kamu mau cerita sesuatu ke mama?"


Noah menghela nafas, Ia selalu tak bisa menyembunyikan apapun. Mama nya selalu tau jika ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya.


Namun untuk masalah Eve Noah belum bisa menceritakan apapun. Ia takut mamanya akan menilai buruk kekasihnya dan tidak menyukai Evelyn akhirnya.


"Enggak ma, Noah baik-baik aja" Noah tersenyum manis untuk meyakinkan mamanya.


"Kamu tau, kamu selalu nggak bisa menyimpan apapun dari mama. Mungkin sekarang emang kamu belum siap untuk cerita ke mama. Nggak apa-apa mama ngerti kok. Tapi jangan pernah ngerasa sendiri ya? kalau kamu uda mulai lelah menyimpan sendiri kamu tau ke mana tempat kamu berbagi" Senyum tulus dan tatapan hangat sang mama membuat Noah merasa lebih baik. Ia tersenyum dan mengangguk ke arah mamanya.


"Kalau gitu kamu istirahat sayang. Mama juga capek mau istirahat"


"Iya ma, Noah sayang mama"


"Mama juga selalu sayang Noah"


Noah merasa betapa beruntungnya ia memiliki sosok wanita yang sellau mengerti dan memahami dirinya lebih dari siapapun.


Pria itu melangkah menuju kamarnya. Ia merebahkan dirinya, Ia menatap langit-langit kamar namun fikiran nya menerawang jauh.


Ia tak menyangka akan menjadi seperti ini saat mencintai. Merasa memiliki dan ingin mendominasi. Ia sadar Eve bukan barang yang bisa ia miliki sendiri, Eve memiliki kehidupan lain selain dirinya.


Ia tak bisa terus menyamakan dirinya dengan Evelyn. Ia bisa mengurangi pergaulannya dan menghabiskan waktu untuk fokus pada studi, keluarga dan Evelyn.


Lamunan nya buyar saat notifikasi di hp nya menunjukkan ada pesan masuk.


"Kak, Eve udah pulang"


Noah memandangi pesan dari gadis yang sangat dicintainya itu, gadis yang telah dua kali kedapatan berbohong padanya. Bohong jika dirinya tidak marah ataupun kecewa.

__ADS_1


"Iya, selamat istirahat Ve. Mimpi indah"


Noah mematikan ponselnya setelah mengirimkan balasan pada Eve. Ia tidak ingin memperpanjang obrolan lagi, ia takut tak bisa menahan diri dalam kondisi emosi yang belum stabil hingga merusak hubungannya dengan Evelyn nantinya.


Sementara itu Evelyn merasa gelisah mendapatkan balasan dari Noah yang lain dari biasanya. Pria itu terkesan dingin. Biasanya Noah akan langsung menelfon nya.


"Eve minta maaf kak"


Eve memutuskan untuk membalas kembali pesan Noah. Namun beberapa menit menunggu tak kunjung ada balasan. Eve membuka kembali room chat nya. Ia mendapati pesannya hanya contreng satu yang menandakan pesan itu belum diterima oleh Noah.


Evelyn menghela nafas, Ia tau Noah sedang ingin menghindari dirinya. Sikap yang pertama kali Noah lakukan sepanjang hubungan mereka.


"Aku ngeri kamu pasti kecewa kak. Aku memang salah"


Setitik sesal terselip di hatinya. Noah sudah cukup untuk memberinya ruang, namun ia salah menempatkan kepercayaan Noah. Padahal Evelyn tau sungguh tidak mudah bagi Noah melepaskan dirinya untuk bersama teman-teman nya


****


Evelyn lega saat mendapati Noah menjemputnya pagi ini. Seharian kemaren saat menemani Aira mencari kado bahkan sampai tadi malam Noah sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan saat Eve mencoba menelfon nomor pria itu tidak aktif.


Saat selesai mandi pagi harinya ia merasa bahagia saat mendapat pesan bahwa Noah akan menjemputnya.


"Kakak, Ke mana aja?"


Evelyn menatap Noah saat ia sudah berada di dalam mobil kekasihnya itu.


"Nggak ke mana-mana" Jawab Noah sambil tersenyum tipis pada Evelyn.


"Kenapa seharian kemarin sampai tadi malam kakak nggak ngehubungin aku? Nomor kakak juga gak aktif. Kakak masih marah sama aku?"


Noah terdiam sejenak, kemudian membalas tatapan kecewa Evelyn padanya.


"Yakin mau bahas ini sekarang? kamu sebentar lagi masuk" Noah melirik jam di tangannya.


"Telat dikit nggak apa-apa daripada saat di kelas aku nggak tenang karena kefikiran sikap kamu."


Setelah terdiam beberapa saat Noah menghela nafasnya perlahan.

__ADS_1


"Iya kakak masih kecewa karena kamu bohongin kakak. Kakak cuma berusaha meredam perasaan kakak supaya nggak emosi. Kakak nggak mau kita berantem makanya lebih baik kakak diam untuk beberapa saat. Kemarin kamu juga uda janjian kan sama Aira. itu juga alasannya, kakak nggak mau ganggu kamu menghabiskan waktu sama Aira. Kakak sedang berlatih untuk membiarkan kamu bergaul dan menjalani apa yang kamu sukai. Meski nggak mudah buat kakak. Tapi kebahagiaan kamu adala yang paling penting buat kakak."


Evelyn tersenyum, ia senang Noah mulai mengerti keinginannya.


"Makasih ya, kakak uda mau ngertiin aku"


Noah tersenyum getir. Sedikit kecewa karena Evelyn tidak berusaha menenangkan perasaannya. Ia berharap Evelyn akan berjanji membagi waktu antara dirinya dan teman-temannya. Ia malah melihat binar kebahagiaan di mata Evelyn saat mendengar Ia memberikan kebebasan untuk Eve.


Baiklah, Noah mencoba ikhlas. Toh tujuannya untuk membuat Evelyn bahagia sudah tercapai meski itu menyakiti dirinya.


"Pulang nanti mau sama kakak atau sama teman-teman kamu?"


Noah sudah menjalankan mobilnya, Ia fokus menatap jalanan.


"Sama teman-teman ya? Kemarin kami uda janjian mau ke kafe langganan sekalian bahas tugas"


Lagi-lagi Noah kecewa, pria itu mengangguk pelan.


"Boleh ya kak? kakak nggak marah kan?"


"Iya boleh, Kakak nggak marah kok tenang aja. Kakak juga mau ke perpustakaan pusat mau cari referensi lagi buat skripsi." Noah mengalihkan fokusnya. Ia tak mau larut dalam kekecewaan nya.


"Sukses ya sayang buat skripsinya. Uda mau kelar ya kak?"


Biasanya ia tau semua perkembangan Noah. Ia selalu menemani setiap projek yang Noah kerjakan. Namun akhir-akhir ini ia banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya hingga banyak yang terlewatkan.


"Iya, udah masuk Bab IV Mungkin awal bulan depan uda bisa sidang. Doain lancar ya, biar bisa cepat wisuda abis itu lamar kamu"


Noah tersenyum sambil melirik sekilas pada Evelyn.


Noah mampu menangkap perubahan wajah Evelyn yang mulai menegang. Dengan semua perubahan kekasihnya akhir-akhir ini Noah tidak yakin Evelyn akan mau menjalani apa yang telah menjadi kesepakatan mereka sebelumnya. Yaitu menikah setelah Noah menyelesaikan wisuda nya.


"Kak soal itu..."


"Kakak cuma becanda Ve. Kakak nggak akan maksa kamu kalo emang belum siap. Nggak usah terlalu difikirin"


Evelyn tersenyum getir. Terus terang ia memang belum siap untuk memasuki kehidupan pernikahan. Ia masih ingin menikmati hari-hari nya.

__ADS_1


__ADS_2