Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

"Aku denger dari Sari kamu mau pulang kampung?" Satria duduk di hadapan Evelyn yang sedang meneliti catatan keuangan warung mereka selama satu bulan ini.


"Iya" Jawab Evelyn singkat.


"Kampung kamu di mana?" Satria tampak penasaran. Hati Evelyn tergelitik dengan istilah pulang kampung, karena Evelyn sendiri tak tau di mana kampung nya yang sebenarnya. Lagian tempat yang ia tuju adalah sebuah kota, kenapa disebut kampung? oke tak perlu memusingkan hal yang tak begitu penting.


"Nggak bisa dibilang kampung aku juga si, Tapi karena ada makam mama di sana jadi mungkin mulai sekarang aku harus menyebutnya daerah asal ku" Evelyn tersenyum sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaan awalnya.


"Iya di mana?"


"Di kota X" Jawab Evelyn dan tanpa Evelyn duga Satria terlihat begitu terkejut hingga membelalakkan matanya


"Beneran kota X?" Tanya Satria dengan sangat antusias dan Evelyn menganggukkan kepalanya.


"Itu kota asal aku kalo kamu mau tau. Orang tuaku tinggal di sana" Jelas Satria dan kali ini gantian Evelyn yang membulatkan matanya seakan tak percaya.


"Beneran? kok bisa si. Ah dunia emang sesempit ini ternyata" Evelyn terkekeh.


"Kapan rencana mau pulang? Berapa lama di sana?"


"Seminggu lagi, paling lama satu minggu lah. Kayaknya aku nggak bisa lama-lama tinggalin warung tanpa pengawasan dariku" Satria menganggukkan kepalanya.


"Emang kenapa mau pulang?" Tanyanya kemudian.


"Aku uda kangen banget sama mama aku. Sejak meninggalkan kota itu tiga tahun yang lalu aku belum pernah kembali lagi" Evelyn tiba-tiba tampak murung.


"Apa karena ada pria masa lalu kamu?" Tebak Satria, dan tentu saja tebakan pria itu tepat adanya. Keberadaan Noah menjadi salah satu alasan Evelyn merasa berat untuk menginjakkan kaki di sana. Berbeda dengan sang papa Evelyn sudah dua kali mengunjungi makamnya, karena ia tak perlu merasa takut untuk bertemu Noah. Namun kali ini kerinduan pada mamanya sudah tidak tertahankan. Ia harus mengunjungi sang mama di peristirahatan abadinya. Evelyn hanya bisa berdoa semoga ia tak bertemu Noah.


"Jadi kali ini udah nggak khawatir ketemu dia?" Evelyn menatap Satria dan melemparkan senyuman manisnya.


"Rasa rindu ke mama mengalahkan kekhawatiran aku untuk ketemu dia. Lagian kota itu cukup luas, semoga saja semesta berbaik hati padaku untuk tidak mempertemukan dengan nya"

__ADS_1


"Bareng aku ya, aku mau ngajuin cuti kebetulan tahun ini aku belum ambil jatah cuti. Jadi kita bisa pulang bareng" Putus Satria akhirnya.


"Hem boleh juga" Evelyn tersenyum lebar dengan mata berbinar. Ia senang ada teman dalam perjalanan dan bisa terselamatkan dari kebosanan.


"Sekalian aku kenalin ke orang tua aku ya, biar mereka bisa lamar kamu secepatnya" Goda Satria yang membuat Evelyn memelototi Satria.


"Jangan macam-macam ya" ancam Evelyn memasang wajah sangar tapi malah terlihat begitu manis di mata Satria.


****


Berjuta perasaan memenuhi benak Evelyn saat kakinya kembali menginjak kota yang telah cukup lama ia tinggalkan.


'Kita menghirup udara yang sama sekarang kak' Bisik Evelyn sambil memejamkan matanya, bayangan wajah Noah berkelebat memenuhi otaknya. Ada bagian dari hatinya yang menginginkan untuk berjumpa dengan pria itu, namun sebagian besar lagi memilih untuk menunda andai takdir ingin mempertemukan mereka.


Evelyn menatap ke arah tangannya yang tiba-tiba digenggam oleh Satria, seakan ia mampu memahami apa yang tengah Evelyn rasakan.


"Semuanya akan baik-baik saja Eve" Satria menyuguhkan senyum menenangkan.


"Iya semua akan baik-baik aja" Angguk Evelyn.


"Enggak Sat, Apa nanti kata orang tua dan tetangga kamu. Aku nginap di hotel aja" Rumah yang dulu Evelyn cicil ia sewakan sehingga Eve tak bisa untuk tinggal di sana.


"Ngapain mikirin omongan tetangga, kalau mama papa aku malah seneng mantu nya mau nginap" Ucap Satria penuh arti


"Jangan ngarang dech Sat. Aku belum bilang 'Iya' untuk setiap ungkapan cinta dari kamu" Ledek Evelyn dengan sombong.


"Tapi aku yakin sebentar lagi akan segera aku dapatkan kata 'Iya' itu nona. Anda lupa berhadapan dengan siapa." Balas Satria tak kalah sombong.


"Dalam mimpimu tuan!" Balas Evelyn sambil menjulurkan lidahnya. Aksi saling mengejek itu harus terhenti saat mobil jemputan dari sopir keluarga Satria berhenti di hadapan mereka.


"Ve beneran mau ke hotel aja?" Satria kembali memastikan keputusan Evelyn saat keduanya telah berada di dalam mobil jemputan Satria.

__ADS_1


"Iya Sat, mungkin besok-besok baru main ke rumah kamu"


"Beneran ya kamu harus mau aku kenalin ke orang tua aku" Ucap Satria penuh semangat.


"Iya kenalan biasa ya nggak masalah. Asal jangan aneh-aneh aja"


"Enggak bakalan aneh-aneh lah, cuma kenalin sebagai calon menantu bukan masuk kategori aneh kan?" Satria tersenyum miring melihat reaksi Eve yang tampak sebal.


Evelyn memilih memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Beberapa tempat tak asing baginya karena ia pernah menetap selama 2 tahun di kota ini meski sudah ada yang mengalami perubahan.


Hatinya tiba-tiba kelu entah kenapa berada di kota ini rindunya pada sang mama dan Noah malah begitu meronta menuntut penuntasan. Bayangan wajah mamanya mengerubungi otaknya bergantian dengan wajah Noah


"Kamu kenapa Eve?" Satria sepertinya menyadari perubahan wajah Evelyn yang tampak murung.


"Ehm aku cuma kangen mama. Berada di sini membuat aku kembali terkenang sosok mama" Jawab Evelyn gelagapan.


"Mau langsung ke makam aja? aku temenin" Tawar Satria.


"Nggak usah. Aku mau istirahat dulu. Kamu juga pasti capek dan butuh istirahat"


Tolak Evelyn. Ia ingin meluapkan semua perasaannya pada sang mama nanti, ia tidak akan bebas jika ada orang lain selain dirinya.


"Aku lihat kamu nggak baik-baik aja Eve. Aku khawatir membiarkan kamu sendirian" Satria menatap Evelyn tampak jelas rasa ragu dan khawatir di mata itu.


"Aku baik-baik aja kok Sat nggak usah khawatir" Evelyn memaksakan senyumnya agar Satria tak lagi khawatir soal dirinya


"Janji ya kamu akan baik-baik aja? aku nggak mau kamu kenapa-kenapa Eve" Ucap Satria lembut. Evelyn sedikit terpukau pada kepedulian pria tampan itu, andai hatinya bisa terbuka dengan mudah mungkin hidupnya akan sangat bahagia.


"Iya Sat. Makasih ya uda peduli sama aku. Semoga suatu hari nanti kamu menemukan gadis baik yang akan mendampingi kamu" Ucap Evelyn sambil memegang tangan Satria.


"Tapi aku maunya kamu Eve. Ayo dong buka hati kamu buat aku" Ucap Satria balas menggenggam tangan Evelyn. Gadis itu tersenyum kecut.

__ADS_1


"Aku nggak mau kamu terlalu lama menunggu Sat. Karena aku nggak tau sampai kapan hati aku akan terus seperti ini."


****


__ADS_2