
"Evelyn bareng dong jangan lari, eh aduh tuh kan jatuh" Satria tampak panik pria itu mengulurkan tangannya membantu Evelyn untuk berdiri dari jatuhnya.
"Aku buru-buru Sat, bu Karin memintaku mengantarkan makanan secepatnya" Evelyn tersenyum lebar. Setelah mengantarkan 10 kotak makanan pesanan karyawan di perusahaan itu ada tambahan pesanan yang meminta Evelyn mengantarkan nya dengan cepat
"Memangnya Sari ke mana? kok kamu yang anterin?" Satria tampak heran.
"Sari izin nggak masuk kerja hari ini Sat. Sementara pesanan lumayan banyak" Evelyn berjalan tergesa yang diikuti Satria. Pria yang dikenalnya tiga tahun yang lalu.
Yah tiga tahun telah berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Noah, Evelyn memilih sebuah kota yang bisa ditempuh dalam waktu 3 jam dari kota sebelumnya untuk memulai hidup barunya. Evelyn tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan seperti ini, dulu ia sering berpindah tempat karena ayahnya pindah tugas, namun saat ayahnya telah tiada pun tidak lantas membuatnya menetap, takdir masih mengharuskannya berpindah.
Sepertinya nasib baik cukup berpihak padanya sejak tiga tahun yang lalu, Evelyn mulai bangkit dari keterpurukannya diawali dengan menyewa tempat yang cukup strategis untuk memulai usahanya. Berbekal uang pemberian Noah dan sedikit tabungan nya serta pengalaman menjadi pegawai restoran Evelyn memutuskan memulai usaha membuka warung makan sederhana.
Evelyn beruntung mendapatkan tempat yang tepat yaitu di area perkantoran sehingga sejak awal warung makan Evelyn sudah cukup diminati. Sekarang Evelyn memiliki 5 karyawan yang membantunya. Di warung makan inilah pertama kali Evelyn bertemu Satria, pria baik hati yang menjadi salah satu pelanggan pertamanya. Satria pula lah yang mempromosikan warung makan Evelyn pada teman-teman sekantornya hingga mereka menjadi pelanggan tetap.
"Rin, siapin pesanan bu Karin ya. Pesanan nya seperti biasa ditambah sate telur puyuh 2 tusuk. Tapi bu Karin minta sambalnya ditambahin. Kemarin kurang katanya. Abis itu minta tolong dianterin ya Rin" Ucap Evelyn pada salah satu pegawainya.
"Baik mbak" Rini kemudian mulai mengerjakan apa yang diminta oleh Evelyn.
Sementara Evelyn kemudian menoleh pada Satria yang masih mengikutinya.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa Sat?" Tanyanya pada pria itu.
"Lagi nggak nafsu makan kalo sendirian. Kalo ditemenin kamu yang cantik dan manis ini kayaknya nafsu makan aku akan kembali" Satria menyeringai jahil mendapat cebikan sinis dari Evelyn. Sejak pertama melihat Evelyn Satria langsung tertarik untuk mengenal gadis itu lebih dalam. Evelyn gadis yang menarik dengan pembawaan nya yang ramah dan gesit. Semakin mengenalnya Satria menyadari hatinya telah terpaut pada Evelyn.
Namun sampai sekarang hubungan mereka masih jalan di tempat. Hati Evelyn begitu sulit untuk Satria masuki karena Evelyn masih terpenjara pada bayangan Noah. Namun meski belum melupakan pria itu, Evelyn bisa menjalani hari-harinya dengan baik. Jika dulu air matanya akan tumpah saat mengingat Noah tidak untuk saat ini. Bibirnya akan menyunggingkan senyuman, ternyata mencintai tanpa obsesi untuk memiliki sangat indah untuk dirasakan. Ia hanya mengingat kenangan indah saat bersama Noah tanpa kesakitan dan penyesalan.
Suatu saat ia ingin bertemu lagi dengan Noah, menyaksikan kebahagiaan pria itu bersama Syahira dan bayi mereka secara langsung. Ia yakin hatinya sudah sangat kuat untuk itu.
"Ngelamun? astaga setiap kali dirayu sedikit pasti langsung kefikiran pria di masa lalu kamu." Satria menggelengkan kepalanya saat melihat senyum getir di bibir Evelyn. Satria yang tak mendapat respon tiap kali menawarkan hubungan yang lebih dari teman akhirnya menyimpulkan bahwa Evelyn telah memiliki seseorang di hatinya. Ia bukan pria bodoh yang tidak peka.
"Siapa orang itu?" Tanya Satria di suatu hari saat lagi-lagi Evelyn menolak pernyataan cintanya yang ke tiga kalinya.
"Maksud kamu?" Tanya Evelyn dengan kening berkerut.
"Nggak ada siapa-siapa"
"Nggak mungkin, hati kamu terlalu sulit untuk dimasuki. Pasti karena sudah ada pria lain yang mengisinya." Evelyn memilih mengabaikan pertanyaan dari Satria. Namun bagi Satria diamnya Evelyn sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan darinya.
Hingga detik ini Satria masih penasaran akan sosok pria yang membuat Evelyn kesulitan membuka hati untuknya. Setiap kali ditanya Evelyn hanya bungkam, membuat Satria hanya bisa menerka-nerka tanpa kejelasan.
__ADS_1
Namun anehnya, pria itu menolak untuk berhenti memperjuangkan Evelyn. Ia merasa Evelyn terlalu berharga untuk ia lewatkan begitu saja.
"Ve setidaknya kasih aku gambaran tentang pria itu, agar aku bisa menentukan langkah untuk menyainginya minimal menyamainya lah" Evelyn menghentikan langkahnya yang akan mengambilkan makanan untuk Satria saat mendengar pertanyaan pria itu.
"Tak perlu menyamai atau menyainginya, cukup menangkan hatiku dengan menjadi dirimu sendiri. Aku tidak mau melihat dirinya dalam dirimu, jika aku membuka hati aku ingin karena kamu bukan karena melihat bayangannya yang ada pada dirimu" Satria tersenyum tipis, setidaknya kali ini Evelyn mengutarakan keinginan hatinya tidak hanya diam seperti biasanya, membuat ia lebih bersemangat untuk kembali memperjuangkan gadis itu.
"Jadi jika aku terus berusaha, ada kemungkinan suatu hari hatimu akan terbuka untukku?" Tanya Satria dengan mata berbinar.
"Mungkin" Jawab Evelyn dengan senyum tipisnya. Ia meninggalkan Satria yang tersenyum cerah. Ia iba, namun Satria terlalu baik. Ia ingin memulai hubungan dengan pria itu jika memang hatinya telah sepenuhnya terbuka. Ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri terlebih Satria dengan memaksakan diri menerima pria itu, Itu akan jauh lebih menyakitkan.
****
Evelyn termenung memandangi jendela kaca yang disusuri air hujan malam ini. Saat seperti ini rindunya pada Noah terasa berkali lipat. Ia meraih pigura yang berisi foto dirinya bersama Noah.
"Hei apa kabar? Maaf untuk perasaan ini, aku hanya memilikinya saja, tak akan mengganggu hidupmu karena keberadaanya di hatiku. Aku merindukan mu, apa kau baik-baik saja?" Bukan kali ini saja, Evelyn sudah terbiasa bercerita pada foto itu seolah ia sedang bercerita langsung pada Noah. Semua yang mengganjal di hati dan fikirannya selalu ia ceritakan, termasuk tentang Satria dan kebaikannya, tentang hatinya yang tak kunjung terbuka untuk Satria yang tak berhenti berjuang untuk memilikinya. Hal itu cukup membantunya melewati hari-hari dengan tenang.
Awalnya Evelyn merasa amat putus asa karena tak kunjung mampu menghapus perasaannya pada Noah dan itu sangat menyiksa, Ia merasa sangat memalukan karena mencintai pria beristri. namun ketika Evelyn memutuskan untuk pasrah dan menerimanya ia merasa lebih tenang. Tentu saja ia tetap berharap suatu saat akan ada pria yang membuka hatinya dan menghapus perasaan terlarangnya pada Noah hanya saja ia tak ingin terlalu memaksa pada hatinya. Selagi perasaan tak memaksanya untuk memiliki Noah dan merebutnya dari Syahira ia rasa sah-sah saja tetap menyimpan dengan baik perasaan terhadap pria itu. Evelyn pada akhirnya memilih pasrah jika hidupnya masih akan selalu dibayangi oleh pria bernama Noah cinta pertamanya...
***TAMAT belum nich kira-kira?*** 😀😀
__ADS_1
BTW maaf ya kalo misal jalan cerita tidak sesuai dengan yang readers mau, karena sebelum menulis author sudah menyiapkan alur sejak awal hingga akhir. Jadi kalo diubah sesuai keinginan readers nanti endingnya nggak sesuai. Jadi nikmatin aja ya alurnya sesuai apa yang author tulis.
thanks sudah setia mengikuti 🥰🥰