Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

"Nikahi Evelyn mas" Noah menoleh cepat pada Syahira yang tiba-tiba mengucapkan kalimat yang tak masuk akal baginya.


"Kasihan dia mas. Dia nggak punya siapa-siapa lagi" Lanjut Syahira dengan menyuguhkan senyuman lembut. Ia tau Noah tidak suka dengan usul nya.


"Jangan konyol Syahira. Aku tidak pernah berencana memiliki istri lebih dari satu. Memikirkan nya saja tidak, apalagi melakukan nya" Tegas Noah sambil menatap tajam istrinya.


"Tapi Eve nggak punya siapa-siapa lagi mas. Aku kasihan sama dia" Syahira mengusap punggung tangan Noah.


"Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berbuat baik pada Eve Syahira. Tidak harus memasukkan nya dalam kehidupan rumah tangga kita" keberanian Syahira sedikit menciut melihat reaksi suaminya. Ia sendiri bingung pada dirinya sendiri yang tiba-tiba memiliki ide yang tidak masuk akal tersebut. Mungkin karena kasihan pada gadis malang itu, Ia tidak tega menyaksikan penderitaan Evelyn hingga ia mengambil keputusan berani bertaruh pada hatinya sendiri.


"Maaf mas, tapi aku rasa ini keputusan yang paling tepat. Aku nggak tega biarin Evelyn tinggal sendirian di rumahnya. Tapi membawanya ke rumah ini tanpa status yang jelas juga bukan pilihan yang bijak."


Noah menghela nafas perlahan, kemudian menarik Syahira ke dalam dekapan nya.


"Jangan mengambil keputusan tergesa Syahira. Aku tahu hormon kehamilan membuat kamu lebih melankolis. Jangan bahas ini lagi, karena keputusan ku nggak akan berubah" Noah mengambil kesimpulan bahwa kehamilan Syahira membuat wanita itu lebih sensitif dan mudah sekali kasihan. Syahira terlalu iba dengan kondisi Evelyn hingga mengusulkan hal yang paling ditakuti wanita pada umumnya. Noah sangat mengerti tidak ada wanita yang benar-benar ikhlas berbagi hati.


"Tapi aku uda mikirin ini sejak lama kok mas. Kita nggak pernah tau apa yang udah Evelyn lewati selama ini, mungkin di awal Eve nyakitin kamu. Tapi aku bisa melihat dengan jelas kilatan cinta di mata Eve ke kamu. Mungkin ini jalan yang Tuhan kasih buat kamu dan Eve bersatu lagi mas"


Syahira masih berusaha meyakinkan suaminya. Pria itu malah terkekeh dan melepaskan pelukan nya pada tubuh Syahira. Ia kemudian menangkup wajah istrinya

__ADS_1


"Jangan berfikiran konyol Syahira. Kisah aku dan Eve uda selesai 2 tahun yang lalu. Kamu bukan cenayang yang bisa menebak perasaan orang lain hanya dari matanya. Jangan menciptakan kerumitan untuk hidup yang akan kita jalani. Kita bisa terus ada untuk Evelyn jika dia memerlukan bantuan. Sebagai sahabat!." Noah menekankan kata di akhir kalimat nya. Ia benar-benar tak ingin lagi Syahira memperpanjang pembahasan nya.


"Satu lagi Syahira, Jangan menghinakan Evelyn di mata dunia dengan memberi status orang ke tiga dalam pernikahan kita. Para wanita di luaran sana akan menghujat dan melemparkan tuduhan keji pada nya. Percayalah Syahira Ide konyol kamu hanya akan membuka jalan bagi kita untuk saling menyakiti. Bukan hanya kamu tapi kita bertiga akan sama-sama tersakiti." Tegas Noah lagi. Syahira tersenyum tipis, kini ia mengerti alasan Noah yang sebenarnya. Mungkin pria itu tak menyadari namun Syahira dapat menangkap itu semua dengan baik.


****


Syahira membuka gorden kamarnya membiar kan cahaya matahari menyusup masuk. Syahira melihat sosok Evelyn yang sedang duduk termenung di bangku taman. Syahira menoleh ke ranjang, ia melihat Noah masih tampak pulas dengan selimut tebal melilit tubuhnya. Syahira sengaja tak membangunkan nya karena ini hari sabtu, Ia membiarkan Noah menikmati lelapnya saat tak ada jadwal bekerja.


Syahira melangkah keluar, memutuskan untuk menghampiri Evelyn. Ia memang memaksa gadis itu tinggal di rumahnya sepulang dari pemakaman. Meski Evelyn sempat menolak namun Syahira tetap memaksa, ia tak mau Evelyn sendirian dalam kondisi kejiwaan yang belum stabil akibat kematian ibunya.


"Hai Eve, Udah sarapan?" Syahira duduk di samping Evelyn yang tampak kaget dengan kedatangan nya. Ia menghapus dengan cepat air mata yang membanjiri wajahnya.


"Mama kamu uda di tempat yang baik Ve, Aku yakin dia uda bahagia. Aku ngerti ini nggak mudah buat kamu meskipun aku belum pernah merasakan apa yang kamu rasain. Aku bersedia menjadi pendengar setia untuk keluh kesah kamu Eve, jangan di pendam sendiri itu akan lebih menyiksa"


Eve kembali mengukir senyum getir. Syahira terlihat begitu tulus, tidak heran jika Noah jatuh hati pada wanita baik ini. Hal itu membuat Evelyn tak enak hati berada di rumah ini. Ia malu pada Syahira atas perasaan nya pada Noah yang tak kunjung padam. Ia merasa tak tau diri karena belum berhasil membunuh perasaan nya pada suami wanita yang mengulurkan tangan padanya saat ia terpuruk.


"Makasih kak" Ucap Evelyn dengan suara serak. Syahira mengangguk sambil mengusap lengan Evelyn. Setelahnya Keduanya sama-sama diam, menikmati kehangatan mentari yang menyapa tubuh mereka.


"Syahira, susu kamu" Noah datang dengan membawa segelas susu hamil untuk istrinya. Keduanya menoleh berbarengan ketika mendengar suara pria itu.

__ADS_1


"Makasih mas" Syahira menerima susu dari Noah dengan senyum sumringah. Noah menoleh sekilas pada Evelyn, membuat gadis itu memalingkan wajahnya dengan segera. Ia merasa jantungnya berdetak dengan cepat. Pesona pria itu tak pernah pudar malah semakin bertambah.


Ada nyeri yang diam-diam menelusup saat melihat pria yang dulu begitu memprioritaskan dirinya memberi perhatian pada wanita lain. Evelyn tersenyum getir, mengutuk hatinya yang begitu tidak tau diri.


"Aku duluan ya kak" Eve cukup tau diri, tak ingin menjadi pengganggu sepasang suami istri yang akan bercengkrama di pagi hari.


"Di sini aja Eve. Temenin Noah sebentar, kakak mules mau buang air" Tanpa menunggu jawaban Syahira berlalu meninggalkan Eve dan Noah yang sama-sama terpaku.


Menyadari kini hanya tinggal ia berdua, Evelyn menunduk dan meremas tangan nya untuk menghilangkan gugup yang menderanya.


"Masih sedih?" Noah memecah keheningan di antara mereka. Eve mengangkat wajahnya dan menatap Noah, ia tersenyum tipis namun nyaris tak terlihat.


"Makasih uda bantu urusin semuanya kak" Ucap Evelyn akhirnya.


"Sudah seharusnya seperti itu Eve, Aku turut berduka cita atas apa yang menimpa kamu. Aku juga turut berduka untuk kepergian papa kamu, maaf aku nggak tau" Ini pembicaraan pertama mereka dalam kondisi normal setelah 2 tahun yang lalu.


Eve hanya mengangguk. Ucapan Noah kembali menyadarkan nya bahwa ia tak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Hatinya kembali tersayat.


"Aku ke kamar dulu kak" Ucap Evelyn dengan suara bergetar, Evelyn melangkah cepat saat Noah tak menjawab pria itu malah menatap dalam padanya seolah ingin menyelami perasaan yang tengah ia rasakan kini.

__ADS_1


Evelyn berjalan tergesa ingin segera mencapai kamarnya. Ia ingin menangis, rasa sakit di hatinya tak tertahankan. Tapi ia tak ingin menangis dan menunjukkan kehancurannya di hadapan Noah, meski sangat ingin meluapkan segala kesakitan dan tangisan di dada dan dalam kungkungan lengan kekar Noah namun ia sadar ia sudah kehilangan hak untuk itu.


__ADS_2