
Evelyn terpaku menatap deretan kata yang tertulis di kertas dalam genggaman nya. Ia kembali mengulang dan berusaha mencerna kata per kata agar lebih meyakinkan. Ia berharap ada kata yang keliru ia tangkap namun beberapa kali mengulang tetap saja surat itu menyatakan bahwa pria itu meninggalkan dirinya.
Evelyn mulai terisak, ada perih yang mendalam menusuk hatinya. Tak menyangka akan sesakit ini rasanya ditinggalkan oleh Noah.
Kata-kata kejam yang ia lontarkan pada Noah tiba-tiba begitu jelas berdenging di telinga nya. Dada Eve terasa sesak, kalimat-kalimat itu seakan tengah menghakimi dan menertawakan dirinya.
Evelyn menarik nafas dan membuangnya perlahan berharap mendapatkan sedikit ketenangan, namun nihil ia tetap merasa sakit, air matanya tak henti turun dengan derasnya
"Kenapa Eve? kenapa menangis? bukan kah kau ingin kebebasan? Noah sudah memenuhinya lantas apa yang kau tangisi? ini pantas untuk mu Eve. Ini buah dari keegoisan yang kau semai, jadi terimalah"
Kata-kata itu terus bergema dalam benaknya. Namun nyatanya sekuat apapun Eve berusaha mengingkari ia tak bisa mengelak sebuah fakta bahwa ada bagian yang hilang dari dirinya kini dan rasanya sungguh sakit.
Kebebasan?
Entahlah, Eve merasa kali ini ia sangat membenci kata itu. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama bagi karma menunjukkan taringnya pada Evelyn. Perlahan sesal itu menyusupi relung hatinya.
Hanya perlu waktu satu bulan pandangan Evelyn tentang kebebasan yang ia impikan telah berubah, ia tak menginginkan nya lagi.
Evelyn terus menangisi kebodohannya, mengapa di saat Noah telah pergi ia baru menyadari bahwa cintanya pada Noah tak kalah besar dari cinta Noah padanya. Selama ini cinta Noah terlalu mendominasi hingga Evelyn tak menyadari cintanya juga tumbuh sama besar.
"Kak Noah akan kembali"
Senyum kecil terbit di bibir Evelyn saat keyakinan itu muncul. Noah mencintainya, pria itu tidak akan benar-benar meninggalkan nya. Saat ini Noah hanya sedang menguji perasaan nya, dan saat Noah kembali Evelyn akan pastikan bahwa ia tak akan pernah lagi menyia-nyiakan pria baik itu. Ia akan menjadi Evelyn yang seperti Noah mau, tak peduli seberapa erat Noah menggenggamnya Evelyn tetap tak akan lagi berniat bebas bahkan tidak juga untuk sekedar memimpikan nya.
__ADS_1
"Cepat kembali kak, aku menunggumu di sini"
Evelyn memandangi foto Noah di ponselnya rasa rindunya semakin besar sama besar dengan sesal yang menggerogoti otak dan hatinya.
"Kembalilah kak, akan aku obati semua luka yang aku gores di hatimu. Akan aku tebus semua waktu yang telah aku sia-siakan. Kembalilah kak, hukum aku karena keegoisanku" Evelyn terus memohon seakan Noah mampu mendengar semua rayuan yang ia keluarkan.
Mata yang mulai membengkak itu perlahan menutup, mengistirahat kan diri dari letih yang tiba-tiba mendera dengan dahsyat nya. Evelyn memeluk erat ponsel yang menampakkan gambar Noah, Ia berharap semua hanya mimpi dan ketika membuka mata semua kembali seperti semula.
***
Mata Evelyn terbuka, entah berapa jam ia tertidur. Ia menatap sekeliling kamarnya, senyum getir kembali menghiasi bibirnya kala ia menangkap sebuah kotak biru yang masih tergeletak di dekat nya. Hatinya kembali hampa saat menyadari bahwa kepergian Noah adalah nyata.
"Kami tunggu di tempat biasa"
Kilasan saat ia lebih memilih bersama teman-temannya dan tak peduli tatapan penuh harap dari Noah menghujam ulu hatinya. Ia tiba-tiba menertawakan kebodohannya. Bagaimana bisa ia terlena pada perasaan sesat nya dulu.
Saat ini mendadak Evelyn kehilangan minat untuk berkumpul bersama teman-teman nya, hal yang begitu membutakannya saat ia masih bersama Noah. Evelyn kembali menangisi semua perlakuan buruknya pada pria yang begitu tulus mencintai nya.
"Aku nggak bisa Mon"
Evelyn mengirimkan balasan pada Mona. Setelah itu Ia memilih mematikan ponsel, malas akan kicauan Mona atas penolakannya.
Evelyn kembali membaringkan tubuhnya, Ia merasa lelah. Kenyataan yang ia hadapi membuat tubuh dan hatinya teramat linu.
__ADS_1
Entah berapa jam Evelyn bercengkrama dengan sesalnya, air mata menjadi teman setianya saat ini. Ada banyak pengandaian yang tiba-tiba memenuhi angan nya, namun semua percuma harus nya Eve menjaga Noah agar tak perlu tiba pada kata 'andai' yang tak bisa mengubah kenyataan dan hanya melahirkan sesal mendalam.
Evelyn tersentak saat panggilan telefon rumahnya kembali berdering setelah 2 kali tak Evelyn hiraukan, namun kali ini dengan malas ia menuruni ranjangnya ia berjalan membuka pintu kamar menuju ruangan di mana telfon rumahnya berada.
"Halo, ke mana saja Eve ponsel kamu kenapa tidak aktif. Cepat ke rumah sakit" Suara sang mama terdengar panik. Namun Eve tak berhasil menebak apa yang sedang terjadi
"Ada apa ma?" Tanya Eve lesu.
"Papa kamu masuk rumah sakit, cepat nak mama juga dalam perjalanan ke sana" Rasa panik menjalari tubuh Eve seketika. Ia bergegas setelah mama nya memberitahukan rumah sakit tempat papa nya dirawat.
Evelyn dengan cepat menyalakan lagi ponselnya, ada banyak pesan di sana namun Eve memilih untuk tak menggubrisnya. Ia membuka aplikasi mobil online dan segera memesannya.
Beruntung tak begitu lama mobil yang Eve pesan telah tiba. Gadis itu bergegas masuk dan duduk di kursi penumpang. Hatinya begitu was-was. Bibirnya tak henti merapalkan doa berharap tidak ada yang serius dengan penyakit papanya. Hatinya yang masih hancur karena kepergian Noah belum siap menerima hantaman kabar buruk lainnya.
"Selamatkan papa ya Tuhan"
Tubuh Eve bergetar, firasat buruk tak mampu ia tepis. Ia hanya berharap firasat nya tak menjadi nyata.
Setibanya di rumah sakit, dengan wajah panik yang tak bisa Eve sembunyikan ia masuk ke ruang IGD. Jantung nya berdetak kencang saat melihat mamanya sedang pingsan tengah berusaha disadarkan oleh asisten sang mama dan perawat di ruangan itu, matanya beralih menangkap sosok yang sudah tertutup selimut di ranjang pasien. Firasat buruk kembali menyiksanya. Eve merasa takut namun ia harus memastikan.
Di sisah kesadaran nya Evelyn mendekat ke arah ranjang itu, hatinya terus berdoa menerbangkan harap bahwa sosok itu bukan lah papanya. Tubuhnya terasa melayang tak menginjak bumi namun langkahnya terasa lambat untuk tiba di ranjang yang ia tuju.
Setelah berada di tempat tujuannya Evelyn bersusah payah menenangkan detak jantungnya, tangan Evelyn yang bergetar perlahan menyibak selimut yang menutupi tubuh pasien.
__ADS_1
Sesaat Evelyn termangu, ia kesulitan mencerna apa yang ia lihat. Seperti terkena runtuhan benda berat penglihatan Evelyn berkunang, ada beban yang menghimpit dadanya, Ia merasa kesulitan bernafas hingga akhirnya semua gelap, Evelyn kehilangan kesadarannya.