
Evelyn masih duduk terpaku setelah Satria meninggalkan nya dengan penuh kekecewaan. Meski sejak awal Eve tak pernah memberikan harapan pada Satria, tetap saja rasa bersalah itu datang menyapa hatinya. Tapi Eve rasa ini lebih baik bagi Satria, Evelyn tak ingin memaksakan menerima Satria sementara hatinya tak pernah sedikitpun terbuka untuk pria itu. Bukankah akan lebih menyakitkan pada akhirnya?
Langkah yang semakin mendekat sedikit mengusik lamunan Evelyn, gadis itu menoleh pada sumber suara. Dadanya yang sbelumnya terasa sesak kini berubah begitu ringan saat melihat senyum ceria gadis mungil yang semakin mendekat padanya, ada mama Noah yang mengiringi langkah kecil itu. Evelyn tak mengerti sejak kapan Cilla mulai mempengaruhi perasaan nya, Ia tak menyangka Cilla mampu membuat perasaanya membaik dengan cepat.
"Hai cantik, sini peluk" Evelyn merentangkan tangan nya, Cilla dengan riang berlari kecil menghambur ke pelukan Eve.
"Peluk mama" Celoteh batita montok itu saat tubuhnya telah masuk ke dalam dekapan hangat Evelyn, gadis itu menciumi Cilla dengan gemas nya.
Mama Noah menatap interaksi keduanya dengan senyum haru. Setelah sekian lama akhirnya Cilla bisa mendapatkan figur seorang ibu pada diri Evelyn, meski mama Noah tau hal itu tidak akan berlangsung lama mengingat status Evelyn yang bukan siapa-siapa bagi Cilla. Tak ada satupun alasan untuk menahan nya jika gadis itu memutuskan untuk segera pergi.
"Cilla sangat bahagia dengan keberadaan kamu Eve"
Evelyn menoleh pada mama Noah yang sudah duduk di bangku taman. Evelyn ikut duduk di sisi mama Noah dengan Cilla yang masih berada dalam pelukannya.
"Cilla sangat merindukan kasih sayang seorang ibu." Ucap mama Noah lagi diiringi senyum getir.
Evelyn seakan kehilangan kata untuk menimpali ucapan mama Noah yang menatap nya sendu. Tangan nya mengusap kepala Cilla yang bersandar dengan nyaman di dadanya.
"Cilla membutuhkan figur seorang ibu, tapi Noah terlalu menutup diri dari wanita sejak kepergian Syahira. Beberapa kali mama mengenalkannya pada anak teman mama, dan Noah selalu menolak"
Ada perasaan tidak rela saat membayangkan Noah bersama wanita lain. Tapi Evelyn tak berdaya untuk melarang, mama Noah benar Cilla butuh seorang ibu.
__ADS_1
"Mudah-mudahan suatu saat hati kak Noah terbuka ma. Semoga suatu hari nanti ada wanita baik yang bisa menggantikan kak Syahira untuk mengisi hati kak Noah dan memberikan kasih sayang pada Cilla." Bibir Eve bisa dengan mudah mengucapkan kata-kata itu, namun hatinya terus menjerit tak rela.
"Kalau boleh jujur mama berharap wanita itu kamu Eve. Tapi sepertinya itu tidak mungkin mengingat hubungan serius kamu dengan Satria. Maaf mama harus mengatakan ini ya, mama nggak bermaksud merusak hubungan kamu sama Satria Eve. Mama dukung kalian, Satria pria yang baik yang pasti bisa membahagiakan kamu"
Evelyn memalingkan wajahnya, menatap pada Cilla yang terus berceloteh dan sesekali mengusap wajah Evelyn. Perlukah ia menjelaskan pada mama Noah bahwa ia dan Satria hanya berteman?
"Eve, sebenarnya ada yang mau mama sampaikan pada kamu. Tapi mama ragu"
"Apa ma? kenapa harus ragu?"
"Syahira menitipkan surat untuk kamu, tapi mama takut ada permintaan yang Syahira ajukan ke kamu. Mama takut itu akan mempengaruhi hubungan kamu dengan Satria. Mama nggak mau membuat kamu merasa terbebani. Tapi di sisi lain mama merasa berdosa pada Syahira jika tidak menyampaikan amanat darinya" Tampak sekali kegusaran di mata mama Noah.
"Nggak apa-apa ma, surat dari kak Syahira nggak akan membuat aku terbebani. Mama tenang aja. Kalo mama akan merasa lebih tenang jika surat itu mama sampaikan ke aku, Aku janji nggak akan terpengaruh pada isinya"
****
Evelyn merebahkan tubuhnya di ranjang. Setelah Cilla tidur siang Evelyn berpamitan untuk kembali ke penginapan. Pandangan gadis itu menerawang, ingatan nya kembali saat Noah mengantarnya.
"Terimakasih sudah bersedia menemani Cilla Eve. Aku juga minta maaf kembali membawa kamu pada situasi sulit yang membuat kamu tak bisa leluasa menjalani hari kamu selama di sini. Sampai kan permohonan maaf ku pada Satria karena sudah membuatnya tidak nyaman" Noah menatap dalam pada Evelyn, Ia dapat merasakan kegusaran gadis itu saat mendengar ucapan nya.
"Kak, tolong jangan membahas ini lagi. Aku uda bilang aku senang ngelakuin ini. Aku nggak mau lagi dengar kata-kata merepotkan dan sejenisnya. Aku tulus ngelakuin ini untuk Cilla. Oke? dan satu lagi tentang Satria rasanya aku uda bilang dengan sangat jelas bahwa kami tidak memiliki hubungan apapun, jadi untuk setiap tindakan aku tidak perlu mempertimbangkan perasaan Satria" Evelyn kembali sewot, ia merasa kesal pada sikap Noah.
__ADS_1
"Tapi Satria suka sama kamu Eve, setidaknya kamu tetap harus menghargai dan menjaga perasaan nya"
"Tapi aku nggak suka sama dia kak! dan Satria tau itu. Aku nggak pernah kasih harapan apapun ke dia." Ada keputus asaan dalam ucapan Evelyn. Namun hati gadis itu berubah berbunga-bunga saat melihat sekilas Noah mengulum senyum. Namun pria itu langsung memalingkan wajahnya saat menyadari Evelyn tengah menatap padanya.
"Ya udah, kamu istirahat ya. Kakak pulang dulu, kalau butuh apa-apa hubungin kakak" Ucap Noah setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Iya makasih uda nganterin. Aku masuk dulu"
pamit Evelyn yang dijawab anggukan kepala oleh Noah.
Evelyn memeluk guling nya dengan erat dengan senyum yang menghiasi bibirnya saat kembali mengingat kejadian sebelumnya. Hanya mengingat senyum tipis Noah sudah membuat hatinya begitu bahagia.
Beberapa saat kemudian Evelyn beranjak dari tidurnya saat kembali mengingat sesuatu. Ia merogoh tas yang sebelumnya ia letakkan di nakas, mengambil amplop surat yang mama Noah berikan padanya. Surat yang Syahira titipkan pada mama Noah sebelum ia meninggal. Syahira meyakini suatu saat Evelyn akan kembali karena nya ia menulis surat itu.
Evelyn menatap sendu pada amplop yang berada pada genggaman nya, Evelyn tak mengerti sepenting apa dirinya bagi Syahira hingga diujung usianya wanita itu tetap mengingat dirinya bahkan seolah tak rela jika pergi tanpa menitipkan pesan terakhir. Evelyn tiba-tiba didera rasa bersalah saat dulu pergi begitu saja tanpa menemui wanita baik itu terlebih dahulu.
"Kak, maafin aku. Andai aku tau hari itu pertemuan terakhir kita, aku pasti tidak akan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan ke kakak. Tenanglah di surga kak, aku menyayangimu."
Evelyn menguatkan hatinya untuk membuka surat itu. Bayangan wajah Syahira begitu jelas diingatan nya.
"Ah kenapa kak Syahira harus pergi secepat ini. Harusnya kakak ngerasain kebahagiaan memiliki keluarga yang lengkap. Harusnya kakak lebih lama menikmati waktu bersama putri yang cantik serta suami yang luar biasa baik."
__ADS_1
****